Pages

Showing posts with label Film. Show all posts
Showing posts with label Film. Show all posts

July 7, 2011

Film : Echoes of The Rainbows

Pic From : Google

Tadi siang di Channel Red-nya Indovision gua nonton film yang berjudul "Echoes of The Rainbow" film yang menyentuh, sedih sekaligus membuat kita terenyuh. Gara-gara film ini gua jadi dilanda rasa melow...
Oh tenang, bukan melow gara-gara cinta, eeew, it's so two thousand and one! Tapi melow karena film ini.

Jadi film ini menceritakan tentang sebuah keluarga sederhana yang terdiri dari ayah, ibu dan dua anak laki-laki. Sang ayah bekerja sebagai seorang pengrajin sepatu, sementara sang ibu bertugas di bagian marketing a.k.a yang ngejual hasil sepatu buatan suaminya. Anaknya yang kecil adalah anak yang nakal dan kurang pintar disekolah. Hobinya pun suka nyolong barang-barang, namun selain itu dia pintar jualan. Walaupun begitu dia sangat menyayangi abangnya serta mengidolai abangnya.

Abangnya adalah seorang siswa yang pintar disekolah. Ia juga atlit lari yang dua tahun berturut-turut menjuarai kejuaraan balap lari antar sekolah. Wajahnya yang tampan membuat dia disukai banyak anak gadis. Sebagai anak sulung dia merupakan anak yang tahu diri dan mengerti mengenai keadaan finansial keluarganya sehingga ia tidak pernah bertingkah macam-macam atau bahkan menuntut ini itu. Sebagai abang ia juga sangat menyayangi adiknya dan selalu berusaha menjadi abang yang baik bagi adik satu-satunya.

Walau sederhana namun hidup mereka baik-baik saja dan bahagia. Mereka mensyukuri apa yang telah mereka miliki dan mereka raih. Namun semua itu berubah ketika mengetahui anak pertama mereka yang merupakan anak yang paling mereka banggakan, mengidap penyakit kanker darah. Segalanya berubah dan mereka dipaksa untuk berjuang serta dipaksa untuk benar-benar merasakan susahnya menjadi orang miskin, seperti yang sudah mereka rasakan selama ini.

Film ini yang bikin gua terenyuh, tersentuh dan adegan sedih tersebar disepanjang plot film ini. Namun bagian-bagian paling menyedihkan adalah masa-masa setelah keluarga tersebut mengetahui sang anak sulung menderita penyakin leukimia. Beuuuh, disitu kita dibikin nangis bombay. Tapi gua nggak nangis doooong, kan boys don't cry! hahaha...

Dari awal film kita udah dikasih tau bagaimana lingkungan tempat mereka tinggal. Ada satu aktivitas yang menurut gua unik dan sangat bagus. Dimana keluarga tersebut serta tetangga-tetangga mereka biasa melakukan aktivitas makan malam bersama dijalan depan rumah mereka. Jadi kalo udah malem tuh mereka nyiapin meja makan dan makanan-makanan mereka dijalan depan rumah mereka dan mereka makan bersama-sama. Jadi kaya restoran jalanan gitu, tapi bedanya ini mah acara makan malam biasa aja. Yang bagusnya, disini keliatan banget rasa kebersamaan dan keharmonisan antar tetangga.

Namun dilain adegan kita diperlihatkan bagaimana nggak enaknya jadi orang miskin. Dimana ketika sang anak sulung ini sakit dan dirawat di rumah sakit, mereka sering diabaikan. Pelayanan baru akan berjalan jika sang suster diberikan uang tip. Ketidakpedulian pelayanan rumah sakit terhadap pasien miskin membuat perjuangan keluarga ini menjadi semakin berat saja. Banyak sekali adegan-adegan dibagian ini yang bakalan bikin kita nangis bombay. Karena bener-bener bikin sedih.

Ada beberapa kutipan yang bisa diambil dari film ini; seperti sang ayah yang merasa bahwa keluarga itu adalah hal terpenting dalam dirinya. Serta sebuah rumah haruslah memiliki sebuah atap, karena tanpa atap maka itu tidak bisa disebut rumah. Memang benar sih, sebagus dan semewah apapun bangunan yang kita bangun, kalo tanpa atap maka itu belum bisa disebut rumah. Karena ataplah yang akan melindungi kita dari panas matahari dan air hujan. Lalu kutipan yang pernah istrinya ucapkan bahwa setiap orang harus mempercayai. Membuat kita sadar bahwa seberat dan seburuk apapun masalah kita, kita harus percaya bahwa semuanya akan terselesaikan dengan caranya sendiri, dan segalanya akan baik-baik saja dikemudian hari.

Jangan ragukan segi akting, seluruh jajaran pemain film ini semuanya menampilkan kualitas akting kelas hollywood. Mereka berhasil menyelami karakter mereka dan memberikan penampilan alamiah sehingga membuat gua merasa mereka adalah diri mereka dalam film tersebut, bukan orang yang sedang berakting disebuah film. Untuk segi plot, boleh dibilang plot di film ini sederhana, namun kekuatan dari kesederhanaan itulah yang membuat film ini unggul. Cerita yang bagus ditambah detil cerita yang sangat bersinggungan dengan realita membuat film ini berada diposisi puncak.

Dan disertai sebuah lagu yang luar biasanya pada film ini lagu ini diputar pada moment yang luar biasa sempurna untuk menciptakan adegan yang mampu bikin penonton nangis bombay, nangis bawah merah dan nangis ala berbagai macam bawang lainya. Yang cewek-cewek yakin deh pasti bakalan meneteskan air mata saat adegan yang disertai lagu "My Secret Rainbow" ini muncul.

Jadi buat kamu-kamu yang suka sama film drama yang mampu membuat kalian meneteskan air mata kaya keran air jet pam atau sederas selang pemadam kebakaran, film ini cocok banget buat kalian tonton. Karena emang ceritanya bagus, aktingnya bagus, ending yang sederhana namun begitu bikin terenyuh, serta banyak adegan-adegan yang bakalan kalian nangis bombay.


Title
Echoes of The Rainbow

Year
2010

Genre
Drama

Director
Alex Law

Country
Chinese

Language
Chinese

Subtitle
English

Starring
Simon Yam, Sandra Ng Kwan Yue, Aarif Rahman, Buzz Chung, Paul Chun
Score : 9 / 10
Note : Film asia itu tuh banyak yang bagus-bagus, yang kualitas ceritanya bahkan banyak yang jauh lebih bagus dari pada film-film buatan hollywood. Beneran deh!
 

February 18, 2011

Film : Crazy Little Thing Called Love

"Best on True Story of Everyone"
Jadi ini loooh film yang gua tunggu-tunggu sampai beberapa kali bikin status di blog dan facebook segala, film yang judulnya "Crazy Little Thing Called Love"

Filmnya tentang cewek junior buruk rupa bernama Nam yang menyukai pangeran senior yang tampan bernama Shone. Khas banget dah sama lika-liku anak sekolahan. Si Nam melakukan segala cara untuk menarik perhatian si cowok, dengan harapan agar si Shone tertarik sama dia, sukur-sukur mau jadi pacarnya hahaha... Dan rupanya ternyata si Nam buruk rupa ini secara perlahan berubah menjadi wanita cantik dan populer di sekolahnya. Yang dulunya cowok-cowok ora sudi nengok ke dia, sekarang pada nengok kalo si Nam lewat. Namun ternyata perubahan yang Nam alami dan perjuangkan ini rupanya tidak merubah perasaan si Shone terhadap dia, Nam merasa kalo Shone masih biasa aja sama si Nam. Ataaaauuuu... begitulah yang si Nam kira.

Film ini film tipikal komedi yang uuuummm kayanya ceritanya udah umum banget dan real banget terjadi. Soal cewek jelek dan cowok cakep serta cinta. Namun yang bikin film ini enak ditonton adalah bahwa si sutradara mengemas film ini menjadi film yang menarik, lucu dan enak ditonton. Banyak adegan-adegan lucu dan menggemaskan di film ini. Apalagi ada dua tokoh di film ini yang kalo mereka muncul gua selalu ketawa atau paling nggak senyam-senyum mulu. Mereka adalah Si guru bahasa inggris Teacher In dan temannya si Nam yang berambut sebahu dan sesekali pake bando dan berwajah lucuuuuuuu banget. Gua gak tau siapa namanya, tapi yang jelas tuh temennya si Nam lucu bangeeeeet, muka dan tingkah lakunya.

Akting para pemainnya menurut gua sih berhasil. Masing-masing dari karakter bisa bermain senatural mungkin. Yaaaa mungkin gara-gara peran ini emang nggak jauh-jauh dari kehidupan asli mereka sehingga mereka nggak kesulitan memerankan peran masing-masing. Si pemeran cowok ganteng yang gua kira bakalan bertingkah super cool seperti Sasuke pada serial Naruto ternyata tidak malu-malu untuk berakting konyol dan lucu, sehingga membuat perannya terasa lebih real. Pemeran Nam yang gua kira aslinya jelek, eeeeh ternyata aslinya cantik bener dan gua suka aktingnya, sampai-sampai bikin gua jatuh cinta sama nih cewek, huhuhhu... mana umurnya cuma lebih muda 3 tahun lagi dari gua, tambah cinta deh, wuakakakakak...

Untuk plot cerita seperti yang gua kasih tau diatas bahwa cerita ini sangat real dan kayanya banyak terjadi dilingkungan sekolah-sekolah. Namun jika dicerna lebih jauh kalian bakalan menyadari bahwa cerita pada film ini tidak jauh berbeda dengan cerita pada film Bangkok Traffic Love Story. Disini ceritanya sederhana, membumi dan khas remaja. Gua gak tau deh disini tuh para pemainnya sedang di sekolah setara SMP apa SMA gua gak tau. SMA kali yaaa?

Oh ya, enaknya film ini adalah durasinya yang dua jam sehingga gua puas dan kenyang menyaksikan cerita film ini yang lucu dan manis. Emang deh, kayanya kebiasaan film-film Thailand durasinya nyaris 2 jam semua, hahaha... puas jadinya. Kekurangan dari film ini yang gak gua suka adalah endingnya yang tidak memuaskan. Beneran deh gua sempet kesel pas ngeliat endingnya yang cuma gitu doang. Jadinya cuma bilang:
"Lah kok gitu doang endingnya, nggak puas banget."
Padahal gua berharap bisa melihat kelanjutan dan apa yang terjadi setelah jawaban si Shone atas pertanyaan si Nam itu. Kan kayanya bakalan seru. Eeeeh... ini malah langsung Credit Title. Menyebalkan, huh.... :p


Overall film ini menarik dan asyik untuk ditonton. Mengenang masa-masa puber remaja yang masih dilanda cinta monyet serta persaingan antara remaja. Lucu aja nonton film ini karena gua harus setuju bahwa cerita pada film ini sedikit banyak pernah dialami orang-orang di dunia nyata. Apalagi banyak adegan-adegan konyol dan lucu yang bikin gua tambah suka sama film ini. Jadi buat yang pengen ngerasain lagi cinta-cintaan jaman SMP atau SMA kalian bisa nonton film ini yang tayang Eksklusif cuma di Jaringan Bioskop Blitzmegaplex.
Title
First Love (Crazy Little Thing Called Love)
Year
2010
Genre
Romance / Comedy
Director
Putthiphong Promsakha na Sakon Nakhon and Wasin Pokpong
Country
Thailand
Language
Thai
Subtitle
Indonesia & English
Starring
Mario Muarer, Fern Pimchanok Leuwisedpaiboon, Tukkie
Score : 7.5 / 10
Note : Abis obrak-abrik internet dan akhirnya menemukan kabar gembira kalo film ini akan dibuat sequelnya, asieeeeek... can't wait deh buat nonton sequelnya, hahaha... Oh ya, film ini yang lagi-lagi bikin gua merasa melankolis sendiri, dasar ya emang gua orang labil, wuakakakaak...


Gambar-Gambar diambil dari Facebok Crazy Little Thing Called Love

January 26, 2011

Film : Burlesque

"It Takes a Legend... to Make a Star"

Udah tau film ini dari pas hari raya thanksgiving di USA sana. Karena saat perayaan hari itulah film ini mulai beredar. Pas ngeliat trailernya makin semangat lah gua buat nonton film ini. Dan pas kemaren, pertengahan januari kemarin akhirnya gua nonton nih film. Burlesque.

Kisahnya tentang si Ali, gadis desa yang mencoba mengadu nasib di Los Angeles, yang kalo disini mungkin ibarat gadis Jember yang pengen ngadu nasib di Jakarta. Di Los Angeles sana dia ketemu atau sepertinya dibawa oleh nasib menuju ke sebuah klub bernama klub Burlesque. Lantas si Ali ini masuk kedalam dan terpesona, terkagum-kagum, ternganga-nganga, terbengong-bengong dengan kenyataan bahwa di dalam klub tersebut terdapat perkerjaan impiannya. Dimana disana terdapat cewek-cewek yang berpakaian kekurangan bahan dan seakan diracuni oleh Lady Gaga yang merasa haram jika memakai pakaian sampai kebawah lutut; sedang menari, jungkir balik, loncat sana loncat sini, melakukan split, menampilkan selangkangan selebar mungkin, memberikan pantat ke penonton, memiliki hubungan dekat dengan bangku, serta melakukan gerakan akrobatik lainnya. Ali suka itu dan pengen menjadi salah satu gadis yang bisa melakukan tarian pemanggil 'hujan' itu.

Karena merasa kebelet pengen ikutan menari diatas panggung Ali langsung nyari yang punya tempat. Dan ia mendatangi Tess yang mengatakan bahwa saat ini klubnya lagi gak butuh tambahan orang baru. Disamping itu pula klubnya lagi dilanda permasalahan keuangan yang dapat berakhir Tess harus melepaskan klubnya itu. Sehingga rasanya tidak mungkin baginya untuk menambah satu pekerja lagi yang harus ia upahi.

Tidak patah semangat karena sudah terlanjur cinta dengan klub tari penuh birahi dan selangkangan itu, Ali akhirnya memutuskan untuk menjadi Petinju saja... Enggak deng, becanda, hehehe... Ali memutuskan untuk berkerja sebagai waitress disana, beda pekerjaan tapi sama lokasi. Sampai suatu saat ia akhirnya mendapat kesempatan untuk menyalurkan birahinya sebagai penari diatas panggung. Dan satu hal yang membuat para penari dan tess terkejut, bahwa si Ali bisa nyanyi. Yeaaaah... She can sing! Karena kebanyakan dari para penari di klub itu hanya bisa lipsync aja sambil nari, kaya penyanyi aerobik yang kita ketahui selama ini. Dan itulah yang membuat Ali langsung meroket ke puncak ketenaran. Disini juga terdapat kisah cintanya Ali dengan Jack... Yang berujung pada tenggelamnya kapal titanic(?!), no... Becanda... :p

Dari segi cerita sih film ini biasa aja, film ini mampu memberikan semangat meraih impian sebagaimana yang para agen MLM gencar lakukan, Cuma film ini lebih baik dari pada para agen itu. Film ini bercerita tentang seorang gadis desa yang mengadu nasib di kota besar dan berhasil karena dia memang punya bakat dan juga keberanian, sebuah aspek penting dalam kesuksesan bahwa menujukan bakat itu butuh keberanian. Cuma abis itu, yaaaa gitu deh... Dari plot nothing special.

Namun apa yang membuat Ellious Grinsant yang keren, misterius, sayang anak, dan alim ini begitu suka dengan film ini? Jawabannya adalah tarian, musik dan lagu. Film ini penuh dengan tarian yang sensual dan semangat. Penuh dengan musik-musik beat yang jika dipasang di klub beneran bakalan bikin ibu-ibu Darma Wanita goyang. Penuh dengan lagu-lagu yang powefull namun juga easy listening. Serius deh kalo gua benar-benar dalam klub itu dan menyaksikan semua penampilan itu gua bakalan selalu tepuk tangan paling keras setiap sebuah penampilan selesai. Luar biasa.

Segi Akting. Si Ali a.k.a Christina Aguilera... Hmmm dia bermain alami dan naturalisasi dalam sesi akting cerita namun ketika akting untuk nyanyi serta dance, aura Christina Aguilera yang kita kenal begitu menyelimuti karakter Ali. Jadi pada beberapa lagu gua merasa Christina Aguilera lah yang sedang tampil bukan si Ali. Cuma tetap aja gua suka sama perfomancenya. Bikin seger mata sih, hehehe... :p Cher. well gua jarang ngeliat akting dia di film. Namun disini akting dia terbilang bagus kok. Lalu ada Cam Gigandet yang semakin hari gua semakin merasa nih orang makin laris aja. Aktingnya pun juga menurut gua nggak jelek kok, diatas rata-rata malah. Dan berikutnya adalah Kristen Bell, yang sebelumnya gua begitu adore dia karena perannya sebagai gadis baik-baik yang manis dalam When in Rome dan You Again, kini berubah jadi cewek nakal yang jahat. Apalagi ketika dia tampil di panggung dengan begitu hotnya, woooouhhh... Bikin gua merasa seharusnya nonton film ini tuh di kamar sendirian, bukan di bioskop yang penuh dengan banyak orang. Gelisah sendiri jadinya, hihihi, dasar anak alim. Sayangnya peran disini yang jahat tidak dapat porsi yang cukup seimbang yang mampu mengimbangin dominasi Ali dalam film ini. Karena menurut gua kali kedua karakter ini diberi porsi seimbang dan saling memberi masalah maka jalan cerita akan jadi lebih menarik.  

Overall. Serius deh, filmnya begitu menyenangkan untuk ditonton. Cerita yang ringan, lagu-lagu yang powerful namun enak didengar serta musik yang bisa bikin orang goyang. Terlebih lagi ada nilai plus, yaitu salah satu lagu yang dinyanyikan Cher dinominasikan sebagai Best Song dalam Golden Globe.

Score : 7 / 10 Note : Kapan yang Indonesia bisa bikin Drama Musical yang asik kaya gini. Yang ada selama ini menurut gua mah nggak ada yang berhasil...

Poster from : impawards.com 

January 16, 2011

Film : Faster


"Slow Justice... Is No Justice..."
Faster itu filmnya The Rock yang dulu happening banget di WWF. Jadi inti film ini adalah mengenai balas dendam dan pengampunan. Opening film, The Rocknya bebas dari penjara, dan tanpa ba bi bu langsung aja dia nyari objek dendamnya dan membunuh mereka semua. Ternyata eh ternyata yang menjadikan dia manusia pendendam adalah ketika dulu ia melihat kakaknya dibunuh dengan sadis didepan matanya dan saat itulah dia bersumpah akan membunuh semua orang yang terlibat dalam pembunuhan his lovely baby face brother nya itu. Herannya, sesaat setelah dia bilang sumpahnya, ia ditembak di kepala. Wow,... Lumayan bikin penasaran kan... Kalo gitu gimana dia bisa bales dendam kalo dia sendiri aja udah ditembak mati ditempat. Film ini kalo menurut gua sih memiliki perbedaan sendiri, karena isinya gak Cuma si The Rock yang keluar penjara langsung duar duar duar, nembak orang dengan membabi-buta. Disini dijelaskan latar belakang masalah, lalu uraian teori dan berikutnya metodologi sampai kesimpulan (apa coba... hihihi). Bahkan kalo gua bilang mah disini keajaiban juga ada kali, wuakakakakak... Ceritanya sih sedikit lebih baik dari film-film action balas dendam serupa. Mungkin yang jadi nilai lebih dari plot film ini palingan adanya twist yang menurut gua sih hampir sama dengan twist-twist di film lain. Pengembangan karakter selalin karakter utama nyaris tidak ada karena film ini hampir seluruhnya dimakan oleh si The Rock itu sendiri. Dan jikalau ada, malah ada karakter yang dikembangkan, yaitu si Pembunuh Bayaran, soal dia dan pacarnya dan kisah cintanya yang menurut gua mah gak ngepek kalo tuh orang kisah cintanya gak dipasang segala. Ada gak ada tuh gak ada ngaruhnya sama plot utama film. Akting The Rock tidak berkembang, malah kalo gua bilang cenderung biasa aja, atau jalan ditempat. Akting pemain lain juga cenderung biasa aja, emang karena porsi yang mereka dapat tidak sebanyak si The Rock itu. Satu hal yang gua suka dari film ini adalah ada satu adegan yang membuat kita sadar dan tahu bahwa orang yang dilanda dendam dan amarah pun ternyata masih mempunyai hati, sehingga dia tidak akan membunuh sebarangan orang yang tidak ada hubungannya sama urusannya. Mungkin salah satu adegan favorit gua di film ini adalah saat si The Rock hendak Membunuh si Penjahat yang kini beralih profesi menjadi seorang Pendeta Gereja. Overal film ini lumayan bagus dan menghibur untuk ditonton ngelepas 5 L. Letih, lemah, lesu, lemas dan lunglai. Walaupun gak bagus-bagus amat, tapi film ini gak jelek-jelek amat kok... Yaaaa average dah pokoknye...
Informasi
Jenis Film : Action
Produser : Robert Teitel, Tony Gayton, Liz Glotzer
Produksi : Columbia Pictures
Homepage : http://www.fasterthemovie.com/
Rating LSF : Dewasa (adult)
Durasi : Nggak Lama kok.
Cast & Crew
Sutradara : George Tillman Jr.
Penulis : Joe Gayton & Tony Gayton
Pemain : The Rock a.k.a Dwayne Johnson, Billy Bob Thornton, Carla Gugino, Maggie Grace, Oliver Jackson-Cohen, Moon Bloodgood

Score : 6.5 / 10 Note - Pas beli tiket nih film gua dan mbak penjual tiketnya agak mengalami miskomunikasi:
Mbak Penjual Tiket : [No Senyum] Mau nonton film apa?
Gua : Faster (baca : festeur)
Mbak Penjual Tiket : Mau nonton film apa? [sebagai pengganti kalimat : Lo ngomong apaan?]
Gua : Faster (dengan cara yang sama)
Mbak Penjual Tiket : Mau nonton film apa? [Kali ini maksudnya mungkin : Gua budek nih, gak jelas dengernya. Jangan pake bahasa babakan dong!]
Gua : Faster (baca : festeur) namun berusaha sejelas mungkin, karena gua cadel 'S' [Mbak diem aja mungkin dalam hati berkata: "Dasar orang kampung"]
Mbak Penjual Tiket : [Dengan Logat Pro] FASTEUR yang jam 18.45 untuk berapa tiket?
Dia ngomong Faster seperti kita kalo nyebut salah satu daerah di bandung : Pasteur. Keren deh mbak
Poster from : impawards.com

January 27, 2010

Film : Rumah Dara [Review]

Pictures taken from : www.rumahdara.com
She's Bringin' Horror Back...
Rumah Dara, salah satu film yang gua tunggu kehadirannya dilayar lebar. Karena sebelumnya gua sudah melihat Dara, yang tersangkut di Antologi film--Takut. Alasan kenapa gua tertarik nonton film Rumah Dara adalah karena gua suka film pendeknya. Dan alasan kenapa gua termotivasi menonton film pendeknya adalah karena omongan dari sebuah forum yang mengatakan bahwa film Dara adalah film yang berbeda dari horor indonesia sekarang ini. Dan terbukti film pendek Dara tidak mengecewakan. Setelah bersabar lebih dari setahun akhirnya gua bisa duduk disebuah kursi bioskop XXI dan menyaksikan film Dara versi panjangnya... Rumah Dara. Seperti yang gua sampaikan pada preview sebelumnya, ketika film ini masih terasa sangat eksklusif, bahwa Rumah Dara memiliki plot yang berbeda dari film pendeknya. Dan sebenarnya sih agak kecewa dengan perubahan plot ini karena gua sudah terlanjur suka dengan konsep Dara sebagai pemilik restoran daging manusia. Pernah cerita ke salah satu temen tentang film pendek Dara dan dia berkomentar. "Kaya Sweeney Todd, ya?!" Well, poor me karena gua juga belum menyaksikan film Sweeney Todd, jadi gua belum bisa membandingkan film ini dengan filmnya si Johnny Depp itu. Kembali ke masalah plot, jika di film pendek berkisah mengenai seorang Dara yang mengelola sebuah restoran dimana para pelanggannya tidak tahu bahwa setiap irisan daging yang mereka potong adalah daging manusia. Pengkanibalismean secara tidak langsung. Terbukti bahwa daging manusia itu enak banget, keliatan kok dari ekspresi para pelanggan yang suka akan daging manusia olahan si Dara itu. Sementara di Rumah Dara, restoran ditinggalkan dan berganti kesebuah daerah di pelosok. Awalnya 6 orang sahabat yang hendak kembali ke Jakarta dikejutkan dengan seorang wanita pucat yang tiba-tiba berdiri didepan mobil mereka. Wanita itu mengaku dirampok. Tampangnya yang begitu kasihan dan memelas membuat keenam sahabat ini setuju untuk mengantarkan wanita bernama Maya ini ke rumahnya, yang kebetulan searah dengan rute perjalanan mereka. Setelah tiba dirumah ke enam sahabat itu dijamu makan oleh sang pemilik rumah, Ibu Dara. Yaaa... gua rasa sih sampai disini aja sih ceritanya, karena abis itu yang kalian liat hanya darah, darah, darah dan pembantaian. Film ini memberikan nuansa baru dan definisi baru bagi masyarakat indonesia akan sebuah Horor. Bahwa horor bukan hanya penampakan pocong atau kuntilanak atau sundel bolong atau Dewi Persik mandi atau Julia Peres Topless. Bahwa horor adalah manusia! dimana mereka adalah sosok yang nyata, yang harusnya lebih ditakuti dari pada setan tak berjasad, yang sebenarnya jauh mengerikan dari wajah penuh belatungnya si pocong. Karena manusia mampu dan memiliki kapasitas untuk menjadi iblis. Dan iblis turun ke bumi dalam wujud Dara, ibu yang membawa horor ketingkat yang lebih mengerikan. Dara membuat nafas berhenti, membuat mata menutup ngeri dan wanita menjerit takut. Dan Dara tidak sendiri...Ada anak-anaknya yang dari segi penampilan tidak jauh beda dari induknya. Mereka seperti memiliki umur yang tidak jauh beda satu sama lain. Maka tersebutlah Adam, sesosok pria yang kembali menegaskan kalimat "Pria tampan itu biasanya berbahaya." Wajahnya yang tampan dan misterius gak diragukan lagi sanggup membuat para cewek klepek-klepek. Namun dia juga mampu membuat istilah klepek-klepek bukanlagi sebuah kata yang lucu. Karena dia mampu membantai, dan dia menikmati membunuh. Lalu Maya, si gadis pengumpan. Dia lah yang membawa 6 orang itu ke rumah pembantai. Wajahnya cantik, namun cantik itu membunuh. Dan ini terbukti secara harafiah. Karena setelah itu wajah kasihannya akan berubah menjadi sebuah senyuman psikopat. Dan terakhir Arman, inilah sosok yang mengingatkan kita pada kenyataan bahwa biarpun berdarah dingin tapi seorang pembunuh juga mempunyai nafsu birahi. Kalo dilihat dari segi cerita dan output Rumah Dara jika disandingkan dengan film internasional lainnya, maka Rumah Dara tidak berbeda dengan film-film macam Hostel, SAW dan Texas Chainswa Massacre. Namun jika disandingkan dengan film horor indonesia yang ada sekarang, maka film ini melambung jauh diatas lainnya. Rumah Dara membuat seolah film lain dibuat oleh sekumpulan Anak SMA yang sedang belajar bikin film. Tingkat kesulitan yang dibuat film ini cukup tinggi dimana untuk menghasilkan spesial efek mengerikan seperti itu tidaklah mudah. Kepala terpotong, tangan, tusuk-musuk, mencabut pedang yang tertancap di tubuh bukanlah hal yang mudah untuk sebuah film. Dan Rumah Dara berhasil membuktikan bahwa anak Indonesia sanggup melakukannya. Segi Akting, Shareefa Danish yang menjadi sang Ibu Dara berperan cukup baik dalam film ini. Walaupun cara berbicaranya agak kurang konsisten dimana gua mendengar sedikit cacat pada intonasi berbicaranya. Namun lepas dari pada itu dia berhasil menghidupkan sang Iblis. Dia meresapi sosok Dara dan mengidentifikasikan dirinya sebagai Dara. Dia Berhasil, nggak heran dia diganjar penghargaan Best Actrees di Puchon International Fantastic Film Festival 2009. Lalu Arifin Saputra yang berperan sebagai Adam juga harus diacungin jempol karena dia berhasil membawakan karakter sebagai pria dingin dan kejam dengan baik. Jangan harap kalian melihat senyum ala sinetronnya Arifin, disini kalian pasti berharap jangan sampai berada 1 meter didekatnya. Oke, gua hanya tertarik pada dua tokoh diatas, karena merekalah yang berhasil mendapatkan seluruh perhatian gua. Tokoh lainnya juga bermain bagus walaupun ada yang tidak, namun yang paling bikin gua salut yang si Dara dan si Adam. Merekalah tokoh-tokoh yang memiliki karakter yang kuat. Segi pengambilan gambar, gua suka dengan penggunakan hand held kamera sehingga membuat gua merasakan guncangan kengerian yang dihadirkan dalam film ini. Tensi ketegangan dan rasa takut berhasil dihadirkan dengan teknik pengambilan gambar seperti ini. Tidak seperti film horor terdahulu yang gua akuin memiliki gambar indah tapi kurang cocok untuk sebuah film horor. Atau setidaknya gua belum bisa menemukan korelasi yang asyik antara sinematografi indah dengan kengerian sebuah horor. Tapi yang jelas di film ini gua menikmati setiap gambar yang tersajikan. Dan heeeei... ini pake kamera apaan sih, gua suka nih film yang menggunakan kamera dengan hasil gambar seperti ini. Ya walaupun hasilnya tidak seperti output film-film hollywood tapi ini pun sudah lebih cukup untuk membawa film horor ini ke taraf high class. Gambarnya tidak sama dengan gambar2 film horor kebanyakan yang membuat kita sepertinya menonton sinetron dalam layar besar. Great picture! Namun biarpun begitu, bukan sebuah resensi jika tidak mengungkapkan kelemahan-kelemahan di film ini. Ada beberapa kelemahan yang cukup mengganggu kalo gua bilang. Seperti gambar yang walaupun gua bilang bagus namun kurang sempurna. dimana ada beberapa bagian dimana kepala sang tokoh terlalu dekat dengan sisi atas layar sehingga pas gua saksikan dilayar kepala mereka tidak kelihatan. Cukup mengganggu karena gua akhirnya tidak bisa melihat bagaimana ekspresi para tokoh karena kepala mereka terpotong kain hitam disisi atas layar. Jika di layar TV mungkin bagus namun berbeda hasilnya jika dibioskop yang proyeksionisnya kurang profesional. Lalu penyensoran... Eaaarghh... inilah yang membuat gua semakin benci pada LSF. Kenapa sih film yang sudah diberi rating untuk DEWASA, dimana tidak ada anak-anak yang menyaksikan, adegan-adegan sadis seperti kepala buntung masih saja dipotong. Ayolah pak tua, kita sudah dewasa dan tau mana yang baik dan tidak. Jangan samakan kita dengan anak SD dimana tayangannya harus diperiksa dulu supaya aman. Kita kan bukan anak SD! Berharap saja DVD Rumah Dara versi internasionalnya dirilis agar gua bisa menyaksikan gambar-gambar NO SENSOR! Dan pada akhirnya gua mengatakan bahwa film ini adalah sebuah film yang harus ditonton oleh penonton indonesia yang sudah haus akan film horor yang berbeda. Karena kita sudah tahu bahwa Horor + Dewi Persik bukanlah sebuah formula yang bagus untuk disajikan. Namun Rumah Dara adalah sebuah obat yang efeknya langsung meresap. Karena pembantaian berdarah adalah sajian utama di film ini. Well, biarpun begitu film ini bukanlah film biasa yang bisa ditonton segala kalangan. Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa dan sanggup menyaksikan film ini. Karena berumur 18 tahun saja bukanlah modal yang cukup untuk menonton pembantaian. Lalu seperti kata si ini dan si itu bahwa film ini akan dijadikan trilogi dimana ada Prequel dan sequel. Sebuah formula yang cukup bagus untuk sebuah trilogi. Semoga untuk film berikutnya sanggup menghasilkan kengerian yang lebih baik dari yang sekarang. Karena yang kita inginkan untuk film jenis film ini ya selain cerita yang bagus tapi juga kengerian tingkat lanjut. Kerja yang bagus untuk Mo Brothers karena telah membawa Dara ke depan layar dan menyajikan tontonan yang luar biasa. Horor telah menemukan sosok ibu dan horor telah kembali ke pangkuan ibu. Dan Ibu Dara akan merawat horor seperti anaknya sendiri dan dengan caranya sendiri... mengerikan! Rumah Dara / Darah / Macabre Directed By : MO Brothers Screenplay By : MO Brothers Produced By : Delon Tio (Nation Pictures and Merah Production) Genre : Action Survival Thriller Studio : Merah Production, Guerilla Visuals, Nation Pictures, Gorylah Pictures Cast :
  • Julie Estelle
  • Shareefa Daanish
  • Michael Lucock
  • Ario Bayu
  • Sigi Wimala
  • Imelda Therine
  • Arifin Putra
  • Daniel Mananta
  • Dendi Subangil
  • Ruli Lubis
  • Aming
Official Website : Rumah Darah Official Facebook : Rumah Dara
Score : 8 / 10

Dara telah membuat Horor kembali ke jalan yang benar. Amin.

November 18, 2009

Film : 2 0 1 2

Picture : impawards.com
2012 Hari selasa siang di Jakarta terasa panas ketika pukul 11 siang. Niat pengen nonton 2012 karena penasaran gila dan akhirnya kesampaian. Tiba di EX XXI masih belum buka bioskopnya, jadinya terpaksa nunggu. Beli tiket, menunggu lagi dan akhirnya nonton. Ini dia penilaian gua:

2012 secara garis besar berkisah tentang inti bumi yang (kalo nggak salah) lenyap, sehingga kerak bumi bebas melanglang buana kesana-kemari sesuka hati. Akibatnya sudah pasti, kita manusia yang paling sial dan paling menderita. Bagaimana enggak, kerak bumi yang bebas jalan-jalan itu otomatis membuat gempa-gempa hebat, gunung meletus, dan Gigantic Tsunami dan lain-lain. Otomatis bencana itu memakan banyak korban jiwa dan harta benda. Dan seperti biasa sekelompok orang yang entah kenapa selalu beruntung akan menjadi sorotan utama film ini. Sebagaimana di Indonesia yang terkenal dengan tradisi mudik pada setiap menjelang hari besar, maka di Hollywood juga terkenal dengan tradisi menghancurkan negara sendiri pada setiap film bencana alam. Butuh contoh? cukup beberapa aja lah; Twister, The Day After Tomorrow, Independence Day, 2012, Armagedon, Deep Impact dan lain-lain. Semua film ini memilih Amerika sebagai korban empuk kehancuran. Jika ada sekolah percontohan dalam sistem pendidikan atau ada kota percontohan dalam aspek kebersihan, maka Amerika adalah negara percontohan dalam aspek kehancuran akibat bencana alam. America memang selalu siap untuk dihancurkan atau terkena bencana. Memang sih, baik di film maupun di kehidupan nyata negara itu memang selalu menjadi sasaran untuk dihancurkan.

Film 2012 secara langsung maupun tidak langsung bercerita tentang bencana yang tercipta dan bencana yang terlestarikan. Film ini memberikan gambaran bagaimana wujud dari sebuah kekacauan alam yang luar biasa. Jujur aja, gua pas melihat bagaimana gambar-gambar kehancuran demi kehancuran ditampilkan, gua langsung merasa parno sendiri. Bagaimana jika hal ini sungguh terjadi? entah bukan karena kiamat, namun mega bencana seperti ini pun sudah sanggup merusak segalanya. Dan yang menjadi tokoh-tokoh utama di film ini malah adalah sebuah keluarga. Benar-benar sebuah subjek yang mampu membuat orang semakin takut akan bencana. Gimana enggak, coba bayangkan bencana ini terjadi dikehidupan nyata kalian, lalu bayangkan kalian sekeluarga harus berjuang keras menyelamatkan diri karena menyadari kenyataan kalian tidak sanggup membayar 1 juta euro perorang untuk bisa masuk ke bahtera keselamatan. Dan pada akhirnya kalian hanya bisa pasrah pada nasib bahwa kalian akan mati, atau terus berjuang mencari tempat perlindungan sendri dengan berbagai resiko yang ada. Mengerikan bukan?

Secara cerita film ini hampir mirip dengan The Day After Tomorrow yang juga disutradarai oleh sutradara yang sama. Roland Emmerich memang hobi bikin orang parno dengan berbagai film yang mempu menyebarkan teror ketakutan pada penonton; Gua menahan nafas tegang saat melihat serbuan dinding api menjalar mengejar manusia dalam Independence Day. Lalu kembali harus menahan Nafas tegang ketika melihat seekor Godzilla memporak-porandakan negara yang sama. Beberapa tahun kemudian kegiatan menahan nafas karena tegang kembali dibudidayakan melalui film The Day After Tomorrow dengan serbuan Tornado dan Tsunami. Yang lagi dan lagi terjadi di negara yang sama. Kini, Gua harus kembali menahan nafas tegang dengan kompilasi bencana yang disajikan 2012, dengan hidangan pamungkas apalagi kalo bukan, ya benar, Tsunami. Namun kali ini dengan ukuran yang lebih besar. Negara yang sama pun selalu menjadi langganan korban.

Tensi ketegangannya cukup terasa pada film ini walaupun suka agak kedodoran dibeberapa adegan. Padahal kalo yang kedodoran itu bisa dibersihkan ketegangan film ini jadi lebih berasa. Namun harus gua akui, gua merasa tegang menonton adegan bencana demi bencana dalam film ini. Pujian luar biasa harus kita berikan untuk aspek visual efek. Kalian pasti bakalan terkagum-kagum, ternganga-nganga dengan tampilan spesial efek yang melimpah ruah di film ini. Lupakan kehebatan The Day After Tomorrow, film 2012 jauh lebih gila kalo ditanya soal spesial efek. Kompilasi bencana mulai dari tanah retak, tanah kebelah, tanah keangkat, tanah amblas, gempa gila-gilaan, letusan mega volcano yang luar biasa, sampai serbuan Tsunami raksasa yang menyapa hampir seluruh dunia. Disini kalian bisa menikmati efek-efek kehancuran yang mendekati sempurna. Tabok muka gua kalo kalian kagak bengong melihat bumi, atau lebih spesifiknya, Amerika dihancurkan secara luar biasa oleh berbagai bencana yang janjian untuk saling menghancurkan wilayah yang belum hancur. 9/10 untuk visual efek.

Soal akting? Low low low... tidak ada yang spesial untuk akting. Karena pada dasarnya film ini mengedepankan spesial efek bencana bukan adu emosi ala film Shakespeare in love, Inglorious Basterds atau American Beauty atau film-film yang ada Julia Robert atau Merryl Streepnya. Disini yang cuma bisa kita lihat pada aktornya cuma adegan nangis, teriak-teriak, muka pasrah, lari sana-lari sini, jalan kaki dan kegiatan standar lainnya. Intinya menonton film ini kamu cuma perlu duduk manis dan berusaha melafalkan kata "Oh My God" atau "Yak ampun" secara baik dan frekwentatif. Palingan yang bisa cukup bagus aktingnya si Tsunami yang begitu alami namun mampu memberikan kesan seram dan kuat. wuakakak... lol. Hal lain, secara ilmu pengetahuan film ini nggak usah dipikir lah. elo nggak usah mikir bagaimana inti bumi bisa lenyap atau bagaimana tanah-tanah bisa bergerak-gerak. Mungkin hanya Tuhan dan Rolland Emmerich saja yang tau jawabannya. Ada beberapa kekonyolan yang terjadi di film ini. Contohnya selalu ada jalan keselamatan untuk si pemeran utama, lalu bagaimana ceritanya ada kamera tersembunyi di turbin pemutar pintu yang dengan secara close up menangkap gambar si jackson berusaha mengambil benda pengganjal turbin pintu tersebut. Ulah Paparazzi kah? hihihi...

Dan pada akhirnya film ini menceritakan bahwa satu-satunya tempat yang tidak terjamah air dan masih kekeringan adalah Afrika. Kesanalah para survivors sejati dan survivors karena punya uang akan pergi. Afrika memang ditabiskan menjadi benua yang selalu kekeringan. Buktinya aja, di negara lain dibombardir tsunami, Afrika tetep ajaaaaaa kekeringan. Lalu seperti yang diawal gua ceritakan bahwa baik secara langsung maupun tidak langsung film ini bercerita tentang bencana yang tercipta dan bencana yang terlestarikan. Ya benar, afrika! Di benua itu masih banyak orang kelaparan, keringan, kurus kering dan menyedihkan. Sedikit beruntung juga, mereka yang sudah kasihan itu tidak perlu tambah menderita lagi dengan serbuan bencana alam. Maka jika seandainya film ini terjadi dalam kehidupan nyata, gua cuma bisa bilang; Sepertinya Tuhan masih sayang sama penyakit AIDS. Hihihih...

Akhirnya film ini selesai. Gua keluar dari EX XXI dan menyadari bahwa saat gua nonton tadi Jakarta dilanda hujan ya?! soalnya pas gua keluar dari mall jakarta terlihat basah. THX sih, jadi nggak kedengeran deh kalo ada suara hujan, hahaha...

Nilai Film 2 0 1 2 : 6/10

October 8, 2009

Film : Rumah Dara

Ketika gua termotivasi untuk menonton film Antologi Takut adalah karena film terakhirnya yang mampu membangkitkan semangat gua untuk menonton film antologi itu. Secara garis besar film-film pendek yang disajikan mempunyai keunikan masing-masing. Makannya nggak heran kenapa gua bilang Takut memiliki nilai yang lebih baik dari film horor antologi lainnya. Jauh sebelum film Antologi Takut diedarkan, gua sudah mendengar kabar mengenai sebuah film slasher yang berjudul Dara. Disebuah forum ada sebuah thread yang membahas film ini, yang membuat gua tertarik bukan hanya karena film ini slasher, tapi ini film sadis BUATAN ANAK INDONESIA! Sudah lama sekali tidak ada film horor yang membuat kita takut bukan karena kehadiran Pocong dan Kuntilanak, tetapi karena sosok yang nyata... Manusia! Dara membuat kita menjadi tahu makna kengerian sesungguhnya. Siapa sebenarnya yang lebih seram, Hantu apa Manusia? Hantu membuat kita takut, berteriak dan selesai... sementara manusia sanggup membuat kita takut dan berteriak, dan itupun belum tentu selesai. Ketika berikutnya kita mengetahui pisau mulai mengiris tubuh kita. Setelah menonton film Takut, dengan Dara sebagai hidangan pamungkas, gua langsung berpikir cerah. Indonesia mempunyai kemajuan berarti dalam dunia perfilman, yang sayang saat ini terhambat oleh UU tai kucing, karena banyak sekali ide kreatif. Karena pada awalnya gua skeptis sama film ini, palingan intinya sama. Another Saw Movie atau Hostel Movie. Tapi gua gak tau kalo ceritanya ternyata berbeda dan memiliki kualitas yang baik. Siapa yang bisa menduga bahwa sebuah restoran secara tidak langsung membuat orang menjadi kanibal. (Apakah hal semacam itu benaran ada di indonesia? Hihihi... Waspada restoran lezat dengan owner perempuan cantik, wuakakak...) Dan sekarang, film Dara telah diperpanjang durasinya menjadi sebuah film panjang untuk konsumsi layar lebar. Judulnya mengalami perubahan dari Macabre menjadi Rumah Dara. Perkembangan proses pembuatan film sudah gua saksikan di beberapa forum dan seperti film ini menjanjikan kengerian yang berkali-kali lipat dari film pendeknya. Cerita dari film Rumah Dara kini berbeda dari film terdahulunya, Jika di film Dara bercerita tentang masa-masa terakhir kehidupan para gebetan Dara sebelum mereka dibantai secara kejam, disini bercerita tentang 6 orang teman lama yang melakukan perjalanan dan entah kenapa mereka tiba di Rumah Dara... dan seperti yang bisa kita duga sebagai penonton, Tiba disana berarti tiba di Ladang Kematian. Kita tinggal menunggu waktu saja sampai saat dimana teriakan dan neraka bumi mulai menyeruak keluar. Seharusnya film ini rilis oktober 2009 namun karena suatu hal film ini jadinya mundur rilis pada bulan Januari 2010. Namun bagi yang kebelet pengen nonton film ini, Rumah Dara menjadi Official Opening Movie di INAFFF 20009. Pastinya dengan tempat terbatas. Dan sebagai informasi aja, film Rumah Dara, atau dalam judul internasionalnya menjadi MACABRE telah ditayangkan diluar negeri dan mendapat berbagai penghargaan. Shafeera Danish sebagai si Mama Dara, mendapat penghargaan kategori Best Actrees di Puchon International Fantastic Film Festival 2009. Belum lagi berbagai penghargaan dan hak istimewa lain yang didepan film ini :
    Thailand’s Five Star Entertainment has picked up Asian rights to horror film Macabre, marking the first time the Bangkok-based studio has handled a non-Thai film.


  • Overlook Entertainment has picked up Europe and US rights for horror film Macabre, the first feature from new Asian genre label Gorylah.
  • Thailand's Five Star Production has stepped up its game as a distributor, picking up the rights to Macabre
  • Macabre has been officially selected as the Opening Film at the 2009 Indonesian Film Festival. VJ Daniel will be hosting the show.
  • Shareefa Danish won the Best Actress at Puchon International Fantastic Film Festival 2009
  • Macabre premieres at north America @ Fantastic Fest 2009
  • Official Midnight Madness Viewing for Fantasy Film Festival Germany 2009
  • Macabre / Rumah Dara masuk Singapore Cinemas under title of "Darah"

  • List didapat dari : Kaskus
    Sooooo... bagi kalian ya sudah merasa jengah dengan film-film hantu indonesia yang bukan memberikan kengerian dan ketakutan tapi malah nafsu birahi, Rumah Dara adalah pilihan yang tepat untuk kembali merasakan ketakutan, namun dengan tingkat kualitas yang lebih baik. Karena kenapa? Karena Horor Menemukan Sosok Seorang Ibu... Keterangan Film Title : Rumah Dara International : Macabre Singapure : Darah Screenplay By : MO Brothers Directed By : MO Brothers Produced By : Delon Tio (Nation Pictures and Merah Production) Genre : Action Survival Thriller Studio : The Mo's and Nation Pictures Cast :
    • Julie Estelle
    • Shareefa Daanish
    • Michael Lucock
    • Ario Bayu
    • Sigi Wimala
    • Imelda Therine
    • Arifin Putra
    • Daniel Mananta
    • Dendi Subangil
    • Ruli Lubis
    • Aming.
    Official Opening Movie : INAFFF09 Release Date : Januari 2010 Visit...! Rumah Dara On Facebook Rumah Dara On Kaskus Rumah Dara's Blog Rumah Dara On INAFFF 2009
     
    Mother of All Fear

    September 24, 2009

    Film : Dance of The Dragon

    Hai, i’m back… :p How are you? Whoaaa, i’ve just watch a very gooooood movie. Hehehehe, one of the most beautiful movie i ever seen. Om my God. I still speechless, i don’t know what to say… okay, cukup bahasa inggrisnya, karena gua gak bisa panjang-panjang… wuakakak… :p Jadi kan dulu beberapa hari yang lalu gua sempet borong beberapa DVD dan salah satunya adalah Dance of The Dragon. Sempet liat cuplikannya pas beli DVD film 7 in 1, wiuakakaka, bajakan pastinya. Lalu akhirnya beli yang full 1 film aja, yang kualitasnya udah bagus. Setelah beli gak langsung pengen nonton sih, suka kepending-pending gitu. Dan pas ada kesempatan ya gua tonton tuh film. Pas abis nonton, yak ampuuuuuun… ini bener-bener salah satu film paling indah yang pernah gua tonton. Keren banget! Top-top-top! Ceritanya sederhana namun indah; mengenai seorang anak laki-laki yang bercita-cita ingin menjadi penari dan ketika dia mendapatkan kesempatan itu ia akhirnya tidak menyia-nyiakannya. Dia berjuang untuk menjalani mimpinya, dan… dia berhasil! Dia akhirnya menyatakan mimpinya, menari didepan ratusan orang dan mendapat standing ovation ketika dia membukuk selesai. Sebenarnya ada cinta-cintanya juga, namun menu utamanya adalah si dancer cowok ini. Film yang indah. Sumpah! Jarang-jarang gua nonton film dengan Cinematografi bagus seperti ini. Nuansa kelembutan dan kenyamanan disajikan dari awal sampai akhir film. Gerakan-gerakan slow motion yang cukup mendominasi di film ini membuat nilai ‘beautiful’ dari film ini semakin naik. Akting para pemain bagus-bagus semua. Mereka semua mampu menjiwai peran yang mereka jalani (Sepertinya gua sedang dibutakan oleh film ini.) Gerakan-gerakan indah dalam tarian menjadi nilai lebih dari film ini, serta ending menyentuh dan membuat haru dari film ini bikin gua ingin berdiri di kamar gua dan bertepuk tangan. Sumpah! Film yang sangat bagus! hebat banget sih tuh sutradara bikin filmnya. Jang Hyuk, yang disini berperan sebagai Tae Kwon bermain sangat bagus. Dia tidak hanya sebagai aye candy, tapi memang sebagai objek utama di film ini. Gila nih orang kayanya menghayati banget perannya. Daaan... ini menjadikan dirinya salah satu aktor favorit gua sekarang. Sumpah, nih orang aktingnya keren banget difilm ini. Film ini adalah film buatan Singapura dengan doble suttadara dan dobel script writter: Max Mannix dan John Radel. Serta di Produseri langsung oleh orang Singapure : Robin Leong. Entah siapa yang mengajar Koreografi dan scoring dari film ini, gua membungkukan badan untuk mereka atas upaya dan kerja keras mereka menciptakan film yang indah ini. Huhuhu… gua jadi melankolis gini… wuakakak. So, kalian yang belum nonton dan suka film bergenre drama yang indah ini, pastinya gak boleh sampe gak nonton. Rugi… hahahah… Nikmati Clip-clip dari film ini : Dan untuk film ini, gua memberikan nilai 8.5 Dari 10. Film yang indah, cantik, lembut, romantis dan memberikan semangat hidup dan mengejar impian. Filmnya yang luar biasa! Keterangan (Based on imdb.com) Movie : Dance of The Dragon a.k.a Long Zhi Wu Directors : Max Mannix & John Radel Script : Max Mannix & John Radel Producer : Robin Leong Cast : Jang Hyuk, Fann Wong, Jason Scott Lee Release Date : 15 May 2008 Genre : Drama, Music, Romance, Dance Runtime : 111 min
    Pictures : imdb.com

    September 10, 2008

    Film : M A Y

    Udah lama gua gak nonton film Indonesia yang lumayan bagus. Namun pada akhirnya semua terbayarkan setelah gua menonton film May. Film yang berbeda dengan film-film Indonesia yang lain. Mari kita lupakan Si pocong, kuntilanak, sundel bolong dan rekan setan lainnya. Ini adalah film murni mengenai drama. Bahkan boleh dibilang drama yang dalam. Karena ceritnya mengandung unsur peristiwa sosial yang cukup menyakitkan pada masa lampau.

    Berkisah mengenai perempuan bernama May (Jenny Chang). Wanita keturuan Tiong Hua yang menjalani hidupnya sebagai seorang penyanyi bar dikafe. Kemudian setelah ia bernyanyi datang seorang pria bule yang ingin bertemu dan berbicara dengan May. Namun upaya pria bule tersebut tidak berhasil. May keburu kabur meninggalkannya. Cerita kemudian beralih ke seting dan waktu yang lain. Kali ini Lukman Sardi yang saat itu sedang berlibur ke Malaysia bersama istrinya (Ria Irawan) dan anaknya. Suatu ketika saat ia sedang makan siang disebuah restoran Malaysia ia bertemu dengan seorang ibu yang sudah lama ia kenal. Ibu tersebut bekerja sebagai salah satu karyawan direstoran tersebut. Naasnya ibu tersebut terlihat linglung saat disapa.

    Kemudian cerita semakin berkembang dengan pergi ke masa 10 tahun sebelumnya. Tepatnya saat peristiwa Mei 1998 yang mengerikan waktu itu. Saat itu ternyata May sedang berpacaran dengan seorang Pria warga Pribumi yang bernama Antares (Yama Carlos). Namun karena dampak luar biasa yang disebabkan oleh Tragedi Mei 98 itu membuat semuanya berantakan. Hubungan May dan Antares terpaksa berakhir tanpa terucapkan.

    Sedikit demi sedikit misteri terkuak. Mey diperkosa dan mengandung anak. Kemudian Ibunya May yang sebelumnya melarang May pergi untuk Casting terpaksa mengungsi dengan merelakan harta bendanya digadikan demi tiket pesawat. Nasibnya berakhir di restoran Malaysia tersebut. Sementara lukman sardi adalah pria yang menikmati hasil penggadaian harta ibu tersebut. Ia sadar dan menyesal. Akhirnya ia berusaha untuk mengembalikan ibu tersebut ke Jakarta, kerumahnya semula. Namun apakah May dan Ibunya bisa kembali bertemu? Bagaimana dengan Nasib anaknya? Semuanya akan terjawab pada akhir dari film ini.

    Segi Cerita film ini cukup kuat. Karena bisa dibilang ini adalah Multiple Plot yang bertemu pada satu jalur utama nantinya. Cerita mengenai sebuah drama berbalur tragedi sosial ini cukup jarang diangkat kedalam perfilman nasional. Namun dibalik itu, karena kerumitan dan plot yang tidak lurus, melainkan maju mundur membuat sebagian penonton yang kurang konsentrasi akan mengerutkan dahi karena jalinan cerita yang terkesan berantakan walaupun pada dasarnya utuh. Hebatnya seluruh pemain dalam film ini mendapatkan porsi yang cukup untuk memberikan pendalaman karakter.

    Segi akting, semuanya baik-baik saja. Karena film ini bertabung bintang-bintang dengan akting diatas rata-rata. Untuk May sebagai Tokoh Sentral dalam film ini mengeluarkan akting yang aman-aman saja. Walaupun sebenarnya ia bisa bereksplorasi lebih. Beda halnya dengan Yama Carlos Sebagai Antares walaupun ia termasuk tokoh utama, ia tidak bisa memberikan akting yang meyakinkan, malah—bagi gua—aktinya terkesan dibuat-buat dan tidak alami. Wuuuuh... sayang sekali. Mungkin akting alaminya hanyalah pada adegan bibir ketemu bibir saja. Mungkin. Ibunya May juga bermain dengan baik. Ia bisa memberikan akting sebagia ibu putus asa yang ling lung. Wajar lah karena umurnya sudah mencukupi untuk memiliki pengalaman melimpah dibidang akting. Ria Irawan apalagi ia dan Lukman Sardi berhasil memberikan kualitas akting diatas rata-rata.

    Segi kualitas gambar, biasa saja. Karena film ini lebih fokus kepada unsur dramanya yang kuat. Dan bagi gua itu tidak menjadi masalah. Walaupun sebenarnya jika ditambah dengan sinematografi yang bagus dapat memberikan pengalaman menonton yang nikmat bagi penonton.

    Overall. Film ini wajib untuk disaksikan bagi mereka yang sudah kenyang dan muak dengan bertaburnya bintang-bintang hantu papan atas. Selain itu bagi yang juga muak dengan film-film komedi seks yang hanya memberikan unsur porno tanpa maksud dan tujuan yang jelas. Film ini memberikan warna hijau ditengah warna merah. Seperti sesuatu yang indah diantara sampah. Herannya film-film ini cepat sekali turun. Gua rencananya pengen menonton lagi film ini. Sayangnya filmnya sudah keburu turun. Katanya yang nonton sedikit. Wajar karena karena sebagai besar penonton Indonesia telah teracuni oleh film-film kelas mecret.

    Pemain
    Jenny Chang, Yama Carlos, Lukman Sardi, Ria Irawan, Tio Pakusadewo, Tutie Kirana, Niniek L. Karim, Jajang C Nore, Andre Peter, Zahida Rafiq.
    Sutradara
    Viva Westi
    Genre
    Drama
    Runtime
    100 Menit
    Bujet
    Meneketehe
    Rating
    Dewasa

    Score : 8.5 / 10
    Penilaian : +3 (Mengingat Tragedi Mei 1998. Apakah ada Sutradara yang mau membuat filmnya. Mungkin masih lama kali yeeeeeee....)

    July 18, 2008

    Film : Indiana Jones and The Kingdom of Crystal Skull



    Waaah... film lama kembali lagi neh. Ya benar! Indiana Jones 4 yang udah lama banget dibicarain orang-orang sejak zaman dulu. Ya karena dulunya film ini banyak yang suka. Terutama warga amerika. Namun bagi gua yang belum pernah menonton Indiana Jones sebelumnya yang biasa aja sih. Setelah melihat film ini cukup kagum juga melihat bagaimana kehebatan Steven Spielberg membuat sinematografi yang keren.

    Ceritanya kini mengenai perebutan benda pusaka magis yaitu Tengkorak Kristal (Lihat judul! Crystal Skull.) Ya seperti biasa, Indiana jones senang menyelamatkan benda-benda yang direbut banyak orang. Why? Kenapa dia gak mencoba menyelamatkan benda yang gak direbut orang. Kan lebih mudah, gak pake capek kaya gini. Oke, musuh utama si jones bukan lagi Jerman, Secara Hitler udah koit dan suasana dunia pada waktu itu sudah berubah. Uni Soviet yang menjadi musuh utamanya. Karena setingnya diambil pada saat memasuki masa perang dingin.

    Dedengkot Uni Soviet, Iriana Spalko, dimainkan dengan sangat baik oleh Cate Blenchett. Dialah yang memimpin rombongan Uni Soviet untuk merebut tengkorak kristal tersebut. Disaat yang bersamaan juga indiana jones bertemu dengan Mutt Williams (Shia Labeouf). Seorang pemuda yang hobi nyisir yang pada akhirnya membantu indiana jones untuk menemukan Tengkorak Kristal tersebut. Dia juga bertemu dengan Marion Ravenwood (Karen Allen) yang merupakan kekasihnya Indiana Jones. Bersama-sama mereka berusaha menemukan Tengkorak Pembawa masalah itu dan melakukan petualangan yang luar biasa. Seperti masuk ke kulkas saat ledakan nuklir hendak terjadi, menghindari semut-semut super duper muper raper ganes banget sekali, menuruni beberapa air terjun yang terjal, adu balapan dipinggir tebing dan lain-lain. Semua itu membuat petualangan indiana jones kali ini terasa lebih seru dan menyenangkan. Karena tidak hanya keseriusan saja yang ditampilkan, tetapi sense of humor juga diberikan disini. Oh ya jangan lupa. Disini juga diberitahukan sebuah hal yang cukup mencengangkan Indiana Jones. Mengenai Mutt. Dia ternyata adalah hasil perkembang biakan Indiana Jones dengan kekasihnya Marion.

    Ceritanya menurut gua sih biasa aja. Sama seperti film-film yang lain. Berebutan mendapatkan benda antik yang pada akhirnya mereka dapatkan namun mereka tinggalkan. Namun yang menjadi nilai Plus dari film ini adalah cara perebutannya yang cukup unik dan menyenangkan. Balapan di pinggir tebing, sampe dikejar-kejar semut dan juga harus turun dari air terjun dan lain-lain. Ini yang membuat film ini menyenangkan untuk ditonton. Lagi pula alur cerita di film ini mudah untuk dinikmati. Elo gak perlu mengerutkan jidat dan pantat (?!) untuk dapat mengerti jalan ceritanya. Semuanya dikemas seenak popcorn yang kamu makan saat nonton film ini.

    Segi Akting semuanya bermain baik. Si bapak Jones yang udah bangkotan masih enerjik dan lucu di film ini. Shia Labeouf yang menurut gua memiliki faktor X yang membuat aktingnya selalu enak dilihat juga bermain bagus disini. Aktingnya agak pasaran namun itu masih bisa dimaklumi. Yang paling bagus menurut gua malah sang Mama Geng, Iriana Spalko. Cate Blanchett berhasil memberikan cara bicara inggris dengan logat sovietnya. Sehingga orang semakin yakin bahwa dia adalah orang Soviet walaupun pada dasarnya bukan. Tapi yang jelas di film ini dia bermain dengan sangat baik... sangaaat baik. Pantas saja dia mendapatkan oscar, wong kualitas aktingnya aja sehebat itu.

    Segi gambar. Waj si Kakek Steven Spielberg seperti biasa berhasil membuat gambar-gambar yang spektakuler. Coba liat adegan saat Indiana Jones keluar dari kulkasnya dan berjalan mendaki. Ada gambar bola api raksasa yang dasyat banget. Itu menurut gua merupakan salah satu adegan terhebat dalam film ini. Selain itu, mengingat seting film ini adalah zaman dulu. Maka gambar yang ditampilkan juga sesuai dengan jaman dulu. Coba aja perhatikan dan bandingkan dengan film lain. Atmosfir film ini—diluar dari setting dan situasinya—benar-benar terlihat sangat klasik. Ini yang membuat film ini lebih baik. Film ini walaupun buatan zaman sekarang namun dapat memberikan feel zaman Siti Nurbaya dengan baik. Beberapa adegan lain juga terlihat sangat seru, kaluar gak mau dibilang heboh. Adegan saat kejar-kejaran mobil dihutan itu cukup heboh karena adegan itu disertai dengan adu pedang dan saling tembak.

    Overall. Film ini layak ditonton karena unsur hiburannya yang sangat tinggi. Lagi pula kan kita-kita anak muda belum pernah menyaksikan indina jones dibioskop kan. Liatnya Cuma di tipi-tipi. So, ini kesempatan untuk menikmati suansana indiana jones dibioskop. Dan jangan lupa, film ini juga minim unsur pornografi. Ya... walaupun ada adegan ciumannya. N\amun itu cukup beralasan kok, Bukan sekedar nyoros aja. Jadi menurut gua aman-aman aja.


    Pemain
    Harrison Ford, Cate Blanchett, Karen Allen, Ray Winstone, John Hurt, Jim Broadbent, Shia LaBouf
    Sutradara
    Steven Spilberg
    Genre
    Adventure
    Runtime
    123 Menit
    Bujet
    $ 125.000.000
    Rating
    Remaja

    Score : 7 / 10
    Penilaian : +3 (Emmm... mungkin gak ya Indiana Jones syuting di Indonesia. Mungkin judulnya Indiana Jones V: The Hunt For The Soeharto Treasure. Wekekekekek...!)

    June 20, 2008

    Film : Cloverfield



    Film yang bagus banget namun memualkan banget! Film ini dibuat dengan bujet rendah namun dapat menghasilkan film berkualitas bujet tinggi. Keren banget.
    Berkisah mengenai sekelompok anak muda yang sedang melakukan pesta kejutan untuk merayakan kepergian teman mereka Rob ke Jepang. Pesta yang harusnya meriah dan meninggalkan kenangan indah harus berubah menjadi malapetaka ketika sebuah gempa mengguncang kota Manhattan. Belum selesai kepanikan mereda muncul lagi teror. Sebuah benda terbang melayang menabrak sebuah gedung kemudian jatuh ditengah jalan. Baru disadari kemudian bahwa benda tersebut adalah sebuah Kepala Patung Liberty. Kontan kepanikan semakin menjadi-jadi saat mereka menyadari bahwa mereka sedang diteror oleh sesuatu yang mengerikan.
    Cerita dari film ini boleh dibilang sudah basi karena bercerita mengenai serangan mahluk raksasa ke (lagi-lagi) Amerika. Hal ini juga semakin mengukuhkan bahwa Amerika adalah negara terkutuk dan berbahaya, dikarenakan negara tersebut sering sekali diserang berbagai monster dan alien. Cerita dari film ini juga hampir mirip dengan film War of The Worldsnya Tom Cruise dimana fokus dari film ini adalah upaya penyelamatan dari dari orang-orang biasa. Bukan upaya pembunuhan monster oleh pihak militer dan berbagai rencananya. Hal itulah yang membuat film ini menjadi terasa nyata. soalnya kita merasa dengan dengan tokoh tersebut. Kita orang biasa dan tokoh tersebut juga orang biasa. Adanya kesamaan membuat kita merasa dekat dengan tokoh tersebut.
    Segi Akting. I don’t know, mungkin karena film ini menggunakan gaya handycam sehingga akting para pemain menjadi terlihat natural. Mereka seakan-akan tidak sedang bermain film melainkan hidup dalam dunia mereka sendiri. Sementara handycam berperan sebagai handycam bukan sebagai kamera dari sebuah film. Biarpun natural tidak ada yang bisa ditonjolkan dalam film ini. Film ini tidak memberikan adegan-adegan yang membutuhkan kemampuan akting yang berkualitas. Disini yang dibtuhkan cukap beteriak, ketakutan, berlari dan sedih. Setelah itu tak ada lagi. Sang Monster yang menjadi Peran Antagonis dalam film ini juga kurang bisa dinikmati kualitas aktingnya. Hal ini dikarenakan penampilannya yang tidak banyak dalam film ini.
    Segi pengambilan gambar. Wauuu gambar yang dihasilkan film ini sangat memuakau dan juga sangat memualkan. Film ini diambil dengan handycam sehingga banyak sekali gambar-gambar shaking yang didapat. Namun dikarenakan gerakan yang timbul tersebut kita jadi dapat merasakan feel dari film tersebut. Kita ikut terpengaruh oleh suasana yang diberikan film tersebut. Film ini seakan memang benar-benar terjadi. Segala sesuatu tampak nyata dalam film ini. Efek visual efek yang dipakai dalam film ini nyaris tanpa cacat. Segalanya terlihat hebat dan luar biasa.
    Namun disisi lain, gambar yang dihasilkan film ini mampu membuat beberapa orang mual. Gerakan kamera yang mengayun-ayun membuat para penonton merasa mual. Pas gua nonton film ini aja dibioskop ada yang sampai pingsan gara-gara pusing dan mual-mual. Sehingga harus digotong petugas bioskop untuk mengeluarkan dari Theater. Inilah yang menjadi nilai min dari film tersebut. Gambar dari film ini dapat membuat orang pingsan karena mual.
    Overall film ini benar-benar berbeda dari yang lain. Terutama dari segi Gambar yang mampua membuat film tersebut terasa dekat dan sempurna. Walaupun berbeda dari yang lain banyak yang menyamai film ini dengan film Blair Witch Project. Saran bagi kalian yang pengen menonton film ini. Singkirkan makanan dan minuman. Kemudian minum Antimo dulu sebelum menonton.


    Score : 8 / 10

    (Sudah saatnya warga Amerika bertobat. Jika tidak, masih banyak monster-monster yang akan mendatangi Negara Mereka. Bertobatlah! Bertobatlah! Monster Sudah Dekat!)

    June 12, 2008

    Film : Extra Large : Antara Aku, Kau dan Mak Erot


     
     
     
     
     
     
     
     
     
     
     
     
    Seperti biasa film ini adalah salah satu film yang sedang kejatuhan durian. Ya karena kenapa? Karena film ini… gua tonton. Dan entah mengapa saat gua keluar dari film ini gak banyak hal penting yang bisa nyangkut di otak gua selain cara membohongi istri orang tentang perek yang gua pacarin karena istri orang tersebut benci mampus dengan perek.

    Film ini mengisahkan tentang Deni, diperankan oleh Jamie Aditya, yang merupakan seorang pemuda yang lugu, sangkin lugunya ia tidak mempedulikan sesuatu yang ia miliki, yang lebih lugu darinya. Sebagai anak tunggal Deni yang sial itu menurut aja disuruh menikah dengan seorang wanita penggila seks yang yang bernama Vicky. Emang sih dia cantik kaya Dewi Sandra, tapi kan nafsu seksnya mampu membuat Glenn Fredly minta cerai. Namun dilihat dari sisi positifnya bahwa dia adalah gadis cantik, kaya dan juga seorang dokter. Walaupun feel dokternya gak keliatan.

    Nah Deni yang nota bene adalah seorang pria yang sedikit memiliki gen ikan cere jantan dan tidak sedikitpun memiliki gen kuda, kontak syok dan tertekan. Dikarenakan si Vicky ini senang sekali melakukan hubungan seks; kapan pun, dimanapun dan gaya apapun. Untungnya Deni mempunyai dua teman yang biasa diandalkan; yaitu Stefa (Erron Lebang) dan Juno (Alex Abbad). Kedua sahabatnya ia merasa prihatin melihat kondisi dari “Deni Junior” sehingga berniat membantunya. Salah satu bantuannya adalah pergi ke mak erot. Melalui mak erot deni mulai menapaki jalan terang dan gemilang menuju… pembesaran penis.
    Tidak itu saja Juno juga menyewa seorang perek untuk menemani Deni selama sebulan dalam rangka latihan seks. Maka dipanggilah Intan (Francine Roosenda) seorang perek yang bersedia untuk menemai Deni melakukan Latihan Keperkasaan sebelum turun kelapangan dan melakukan gulat campurannya. Namun lama kemudian, yang terjadi adalah… Deni dan Intan malah saling mencintai.

    Jalinan cerita dari film ini boleh dibilang mengalir dan enak untuk dinikmati. Kita bisa mengikuti film ini dari awal sampai akhir tanpa perlu kehilangan konsentrasi akibat kekuatan cerita yang mengendur. Namun yang menjadi pemikiran gua adalah film ini nyaris tidak memberikan apa-apa buat gua, dari Pesan Utama yang ingin disampaikan ke gua. Ending film ini tidak memberikan apa-apa buat gua (gua gak tau ya kalo kalian), tapi yang jelas selain alur yang mengalir, tidak ada lagi yang bisa gua dapatkan dari segi cerita. (Kalo ada dari kalian yang bisa memberikan pesan apa yang disampaikan film ini. Tolong beritahu gua). paling yang bisa gua dapet adalah bagaimana cara menutupi kejelekan seseorang dengan cara yang manis. Tau kan saat dimana Istrinya Stefan bertanya gimana si Deni dan si Intan bisa pacaran, dan Deni memulai kebohongan mengenai Ospek.

    Segi Akting, gua gak tau ya, atau gak peduli dengan aktingnya si Jamie Aditya difilm ini. Gak tau kenapa ya, dia yang jadi peran utama difilm ini tapi malah dia yang sama sekali tidak memberikan feel terhadap film ini. Mungkin film ini akan lebih bagus jika bukan dia yang memainkan. Gak tau kenapa, tapi di film ini dia sama sekali tidak menonjol. Padahal dialah pemeran utama di film ini. Aktingnya kalo dibilang sangat-sangat biasa. Berbeda dengan Francine Roosenda yang sebagai Intan. Dia berhasil bermain dengan baik dalam film ini. Aktingnya tidak berlebihan namun mengena dengan karakternya. Aktingnya sebagai seorang perek berhasil memberikan kesan bahwa dia adalah perek yang memiliki taste dan tidak terkesan sangat murahan. Selain itu, aktingnya Sarah Sechan sebagai mak erot boleh dibilang cukup okelah. Walaupun hanya sebagai figuran dia bisa bermain dengan baik sebagai seorang mak erot yang senang bercanda. Mungkin ini adalah totalitasnya dalam Debutnya sebagai Aktris Pendukung! Hehehehe…

    Elmayana Sabrenia, ini yang buat gua bingung. Dia selalu mendapatkan peran pendukung melulu. Padahal kalo boleh dibilang aktingnya bagus loh. Dia selalu bermain dalam film-film yang ada dirinya. Seluruh aktingnya menurut gua bagus-bagus dan konsisten. Sayangnya para sutradara buta mengenai artis yang satu. Sayang sekali.

    Segi gambar, gambarnya boleh dibilang okelah. Walaupun gua masih merasa ada taste sinetron atau ketivi-tivian gitu pada gambarnya. Namun itu bisa diterima, daripada gambarnya sangat sinetron atau sangat ke tivi-tivian. Film ini minim sekali sinematografi indah yang dapat memanjakan mata. Mungkin karena fokus film ini adalah cerita, walaupun ceritanya sendiri hampir tidak memberikan sesuatu yang berarti.

    Overal, film ini menurut gua boleh dibilang sebuah film Pretty Woman dalam Versi aneh. Dimana film ini mengisahkan seorang bujangan yang menyewa perek. Namun diberikan modifikasi sedikit bahwa bujangan itu adalah orang yang memiliki penis kecil dan bukan dari kalangan orang kaya. Namun itu masih jauh lebih baik daripada murni menyontek karya orang lain dan memproduksinya sebagai suatu karya yang berjenis sama (Lihat sinetron contekan serial asia). Jangan anda berharap anda akan mendapatkan sesuatu yang pantas untuk diingat dari film ini. Film ini malah kalo bisa dimasukan dalam kategori film Fun but easy to forgot. Oooh ya… mungkin film ini ingin memberikan kompilasi pesan. Seperti; jangan selingkuh!, berkorban, enaknya threesome, marah pada suami, silahkan lemparin piring (dan daun pisang sebagai pengganti piring nantinya), waspada dengan mak erot yang suka bercanda, itu artinya dia palsu! Dan hati-hati kalo ketemu bencong, siapa tau itu teman main basket anda waktu SMA.
    Ya! Mungkin itu pesan yang mau disampaikan!


    Pemain
    Jamie Aditya, Francine Roosenda, Alex Abbad, Dewi Sandra, Erron LeBanG, Elmayana Sabrenia.
    Sutradara
    Monty Tiwa
    Genre
    Romantic Comedy
    Runtime
    85 Menit
    Bujet
    Murah lah pastinya.
    Rating
    Dewasa

     
    Score : 5 / 10
    (To Orang Tua : Please ya! Tolong! Bawalah anak anda untuk menonton film yang pantas ditonton anak anda. Jangan bawa pas nonton film ini! Udah anak anda gak ngeri, mengganggu orang yang nonton lagi. Belum lagi mereka yang sedang bikin film sendiri di bioskop.)