Pages

Showing posts with label Asia. Show all posts
Showing posts with label Asia. Show all posts

July 7, 2011

Film : Echoes of The Rainbows

Pic From : Google

Tadi siang di Channel Red-nya Indovision gua nonton film yang berjudul "Echoes of The Rainbow" film yang menyentuh, sedih sekaligus membuat kita terenyuh. Gara-gara film ini gua jadi dilanda rasa melow...
Oh tenang, bukan melow gara-gara cinta, eeew, it's so two thousand and one! Tapi melow karena film ini.

Jadi film ini menceritakan tentang sebuah keluarga sederhana yang terdiri dari ayah, ibu dan dua anak laki-laki. Sang ayah bekerja sebagai seorang pengrajin sepatu, sementara sang ibu bertugas di bagian marketing a.k.a yang ngejual hasil sepatu buatan suaminya. Anaknya yang kecil adalah anak yang nakal dan kurang pintar disekolah. Hobinya pun suka nyolong barang-barang, namun selain itu dia pintar jualan. Walaupun begitu dia sangat menyayangi abangnya serta mengidolai abangnya.

Abangnya adalah seorang siswa yang pintar disekolah. Ia juga atlit lari yang dua tahun berturut-turut menjuarai kejuaraan balap lari antar sekolah. Wajahnya yang tampan membuat dia disukai banyak anak gadis. Sebagai anak sulung dia merupakan anak yang tahu diri dan mengerti mengenai keadaan finansial keluarganya sehingga ia tidak pernah bertingkah macam-macam atau bahkan menuntut ini itu. Sebagai abang ia juga sangat menyayangi adiknya dan selalu berusaha menjadi abang yang baik bagi adik satu-satunya.

Walau sederhana namun hidup mereka baik-baik saja dan bahagia. Mereka mensyukuri apa yang telah mereka miliki dan mereka raih. Namun semua itu berubah ketika mengetahui anak pertama mereka yang merupakan anak yang paling mereka banggakan, mengidap penyakit kanker darah. Segalanya berubah dan mereka dipaksa untuk berjuang serta dipaksa untuk benar-benar merasakan susahnya menjadi orang miskin, seperti yang sudah mereka rasakan selama ini.

Film ini yang bikin gua terenyuh, tersentuh dan adegan sedih tersebar disepanjang plot film ini. Namun bagian-bagian paling menyedihkan adalah masa-masa setelah keluarga tersebut mengetahui sang anak sulung menderita penyakin leukimia. Beuuuh, disitu kita dibikin nangis bombay. Tapi gua nggak nangis doooong, kan boys don't cry! hahaha...

Dari awal film kita udah dikasih tau bagaimana lingkungan tempat mereka tinggal. Ada satu aktivitas yang menurut gua unik dan sangat bagus. Dimana keluarga tersebut serta tetangga-tetangga mereka biasa melakukan aktivitas makan malam bersama dijalan depan rumah mereka. Jadi kalo udah malem tuh mereka nyiapin meja makan dan makanan-makanan mereka dijalan depan rumah mereka dan mereka makan bersama-sama. Jadi kaya restoran jalanan gitu, tapi bedanya ini mah acara makan malam biasa aja. Yang bagusnya, disini keliatan banget rasa kebersamaan dan keharmonisan antar tetangga.

Namun dilain adegan kita diperlihatkan bagaimana nggak enaknya jadi orang miskin. Dimana ketika sang anak sulung ini sakit dan dirawat di rumah sakit, mereka sering diabaikan. Pelayanan baru akan berjalan jika sang suster diberikan uang tip. Ketidakpedulian pelayanan rumah sakit terhadap pasien miskin membuat perjuangan keluarga ini menjadi semakin berat saja. Banyak sekali adegan-adegan dibagian ini yang bakalan bikin kita nangis bombay. Karena bener-bener bikin sedih.

Ada beberapa kutipan yang bisa diambil dari film ini; seperti sang ayah yang merasa bahwa keluarga itu adalah hal terpenting dalam dirinya. Serta sebuah rumah haruslah memiliki sebuah atap, karena tanpa atap maka itu tidak bisa disebut rumah. Memang benar sih, sebagus dan semewah apapun bangunan yang kita bangun, kalo tanpa atap maka itu belum bisa disebut rumah. Karena ataplah yang akan melindungi kita dari panas matahari dan air hujan. Lalu kutipan yang pernah istrinya ucapkan bahwa setiap orang harus mempercayai. Membuat kita sadar bahwa seberat dan seburuk apapun masalah kita, kita harus percaya bahwa semuanya akan terselesaikan dengan caranya sendiri, dan segalanya akan baik-baik saja dikemudian hari.

Jangan ragukan segi akting, seluruh jajaran pemain film ini semuanya menampilkan kualitas akting kelas hollywood. Mereka berhasil menyelami karakter mereka dan memberikan penampilan alamiah sehingga membuat gua merasa mereka adalah diri mereka dalam film tersebut, bukan orang yang sedang berakting disebuah film. Untuk segi plot, boleh dibilang plot di film ini sederhana, namun kekuatan dari kesederhanaan itulah yang membuat film ini unggul. Cerita yang bagus ditambah detil cerita yang sangat bersinggungan dengan realita membuat film ini berada diposisi puncak.

Dan disertai sebuah lagu yang luar biasanya pada film ini lagu ini diputar pada moment yang luar biasa sempurna untuk menciptakan adegan yang mampu bikin penonton nangis bombay, nangis bawah merah dan nangis ala berbagai macam bawang lainya. Yang cewek-cewek yakin deh pasti bakalan meneteskan air mata saat adegan yang disertai lagu "My Secret Rainbow" ini muncul.

Jadi buat kamu-kamu yang suka sama film drama yang mampu membuat kalian meneteskan air mata kaya keran air jet pam atau sederas selang pemadam kebakaran, film ini cocok banget buat kalian tonton. Karena emang ceritanya bagus, aktingnya bagus, ending yang sederhana namun begitu bikin terenyuh, serta banyak adegan-adegan yang bakalan kalian nangis bombay.


Title
Echoes of The Rainbow

Year
2010

Genre
Drama

Director
Alex Law

Country
Chinese

Language
Chinese

Subtitle
English

Starring
Simon Yam, Sandra Ng Kwan Yue, Aarif Rahman, Buzz Chung, Paul Chun
Score : 9 / 10
Note : Film asia itu tuh banyak yang bagus-bagus, yang kualitas ceritanya bahkan banyak yang jauh lebih bagus dari pada film-film buatan hollywood. Beneran deh!
 

March 13, 2011

Short Movie : Yours Truly

A Love Story, Gone Wrong

Yang pasti ini adalah film pendek. Yours Truly adalah sebuah film pendek, yang mana kalo yang pendek-pendek itu biasanya independen. Film ini juga tidak beda, dibuat secara mandiri serta dengan dana dan daya yang seadanya. Kasian juga ya, hihihih... Namun bukan samangat pemuda namanya kalo nggak bisa bikin sesuatu yang bagus dari segala keterbatasan. Dan film inilah yang menjadi buktinya.

Berkisah tentang Todi (nama pemain sama nama aslinya sama), seorang pemuda yang bekerja sebagai pengantar bunga dibilangan Jakarta, yang sepertinya cuma mengantar bunga khusus untuk wilayah apartermen aja. Uniknya dia tidak memberikan bunga hantaranya begitu aja kepada orang yang dituju, tapi sebelumnya dia mendendangkan sebuah lagu kepada si penerima bunga. Dan pekerjaanya ini juga sebenarnya bertolak belakang dengan kepribadiannya yang introvert. Namun dibalik semua itu ada kok alasan mengapa dia mau melakukan pekerjaan tersebut.

Pekerjaan delivery bunganya itu pun kemudian mempertemukan dirinya dengan Kayl nama pemain sama nama aslinya sama aja, seorang wanita cantik yang kemudian menjadi sering ia temui karena Todi jadi sering nganterin bunga kepada Kayla. Sepertinya Kayla tipe penakluk pria karena banyak banget cowok yang ngasih bunga kedia melalui jasa delivery Todi. Dan akhirnya atas izin Tuhan Yang Maha Esa mereka pun berkenalan, karena sudah sering ketemuan tapi belum pernah saling kenalan.

Gayung pun bersambut, atas izin Tuhan Yang Maha Esa pula Todi dan Kayla akhirnya jadian. Dan berikutnya adalah masa-masa awal yang bahagia bagi pasangan yang dimabuk asmara. Seolah dunia yang punya cuma Todi dan Kayla berdua aja sementara yang lain benalu. Tapi sayangnya bukan itu ending dari film ini, karena berikutnya hubungan mereka mulai tidak baik-baik saja sampai pada akhirnya sebuah kenyataanya yang mengejukan, mensyokan, mengerikan, tak terduga, tak terkira, tak terbantahkan, luar binasa akan membuat senyum kalian hilang.

Sang film maker boleh dibilang berani dalam membuat film dengan genre yang berbeda dari mainstream yang sedang trend saat ini. Ya wajar aja sih, secara ini kan film pendek. Jadi gak perlu ribet dan capek bikinnya. Selain itu keunggulan dari sebuah film pendek adalah bahwa kisah yang akan disampaikan dibuat sesimple mungkin, namun dengan begitu kita tetap mendapatkan maksud dan tujuan serta makna yang diinginkan si pembuat film dengan baik.

Secara plot film ini dibuat dengan baik, walupun agak sedikit dilonggarkan di awal untuk memberikan gambaran bagaimana pekerjaan si Todi sebagai pengantar bunga, namun berikutnya alur cerita dibuat tetap stabil sampai akhir hayat film ini. Lalu dari segi ide film menurut gua sih memang tidak terlalu original karena begitu melihat ending film ini rasanya tidak asing. Namun untuk segi twist, wew, film ini patut dilemparin jempol karena memang sanggup memberikan twist yang tidak terduga.

Soal akting dan tokoh, karena waktu yang singkat jadinya penonton tidak diberi waktu yang banyak untuk mendalami karakter tiap tokoh yang bergaya disini. Todi sebagai cowok introvert dan Kayla yang tukang ngomong, ya itu aja yang bisa kita dapet dan simpulkan. Akting Todi sebagai pengantar bunga introvert cukup mengalami pincang ketika kita mulai biasa mendengar cara bicara dia yang pelan dan agak teratur namun pada setting restoran ketika dia memberikan tape recorder untuk didengarkan Kayla, Todi mendadak berbicara cukup cepat dan pop. Namun selebihnya baik-baik saja. Untuk Kayla, hmmmm... karena 70% film ini dikuasai oleh Todi maka Kayla jadi kurang fokus untuk diamati, tapi secara umum dia bermain dengan baik.

Gua suka sama gambar yang dihasilkan film ini. Tidak seperti gambar film Indonesia kebanyakan yang bikin film tersebut kesannya malah murahan. Gambar di film ini terasa banget sinemanya, apa lagi film ini dipresentasikan dengan aspek rasio widescreen dan juga bisa dinikmati dalam format High Definition. Gak heran tampilan gambar di film ini enak dilihat. Penggunaan kamera juga hampir seluruhnya dinamis karena sebagian besar menggunakan sistem hand held camera. Segi editing juga layak diberi pujian, pembuat film tahu kapan harus memberikan editing cepat dan kapan harus memberikan editing lambat untuk menunjang kelancaran dan kelanggengan mood penonton.

Namun bukan resensi namanya kalo gak dikasih tahu apa aja yang membuat film ini tidak sempurna. Ya, sebaik-baiknya tupai meloncat pada akhirnya akan disate juga. Film ini juga tidak lepas dari kekurangan. Seperti diatas yang sudah gua bilang, bahwa kayanya wilayah kerja Todi sebagai pengantar bunga adalah khusus apartermen aja dan malahan keliatannya apartermennya itu-itu aja, cuma beda kamar. Apa jangan-jangan yang mengirim dan yang dirikirim bunga adalah orang-orang dari apartemen situ juga lagi, hahaha... Ribet amat kalo gitu, jarak deket, tapi ngirim bunga harus pake pihak ketiga segala. Kemudian tampilan Jakarta yang terkesan sejuk dan nyaman bagi pejalan kaki. Entah ini disengaja atau bagaimana, tapi ini cukup berlawanan dengan realita bahwa Jakarta itu aslinya panas dan sumpek. Disini seolah Jakarta keliatan kaya kota Bogor. Yaaa mungkin aja sih iya... untuk Hujan dan Banjirnya, wuakakakak... Lalu pada ending film ada salah satu benda yang menurut gua, ini gunanya untuk apa? Kok keliatannya nih benda gak ada kontribusinya, malah sampe disyut beberapa kali tanpa memberikan definisi fungsi benda tersebut pada klimaks film. Jangan lupa juga apa yang dilihat si Todi didalam lemarinya, yang juga sempat disyut dua kali untuk menegaskan ada sesuatu dilemarinya. Namun sampai tulisan ini turun, isi lemari tersebut masih menjadi misteri. Mungkin hanya Tuhan dan si Pembuat film saja yang tahu saat ini. Tapi kalo dari pemikiran gua sih, jangan-jangan yang dilihat si Todi itu koleksi film Miyabi-nya kali... secara kan si Todi itu pria single yang sehat jasmani-rohani, yaaaa wajar aja sih kalo nyimpe-nyimpen begituan. Mungkin sebagai penambah semangat kerja atau bahan fantasi kalo lagi "korslet", wuakakakakak... :p



Secara garis besar film ini benar-benar sayang dan rugi banget kalo dilewatin. Kenapa? Karena-Film-Ini-Bisa-Disaksikan-GRATIS-dan-ONLINE. Jadi kalian gak perlu keluar duit buat bayar tiket dan kalian gak perlu keluar rumah untuk cari bioskop. Keterlaluan mah kalo udah dikasih gratisan dan mudah didapet tapi masih gak nonton. Selain itu film ini memiliki keBhinekaan yang tidak Tunggal Ika. Ada perbedaan yang membuat film ini layak diapresiasi. Jika film ini disejajarkan dengan film bioskop indonesia yang sedang ada kebanyakan. Yang didominasi oleh film hantu yang herannya malah bikin orang birahi daripada ketakutan. Film ini walaupun pendek tapi melebihi kualitas dari film hantu pengumbar nafsu itu. Tapi kalo disejajarkan dengan film pendek serupa, rasanya film ini tidak baru. Namun itu terlepas dari surprise twist dan klimaks yang benar-benar mengejutkan dan tidak terduga.

Title
Yours Truly  

Year
2011

Studio
Lucky Beanie Pictures & Cine et Cetera

Genre
Psychological Horror/Thriller

Director
Elvira Kusno & Ian Salim

Story
Elvira Kusno

Producer
Ian Salim & Elvira Kusno

Country
Indonesia

Language
Indonesia

Subtitle
English

Starring
Todi Pandapotan &Kyla Pisita White

Website On Facebook On Twitter On Website
Score : 7.5 / 10
Berharap aja ada versi panjangnya, karena kayanya film ini cukup menjanjikan jika dibikin versi bioskopnya. Dan jika pengen langsung nonton filmnya, silahkan aja klik yang dibawah ini, kalian bisa langsung segera memuaskan rasa penasaran kalian setelah membaca review ini. It's Fast and It's Free...!!!
YOURS TRULY - Short Film from Cine et Cetera on Vimeo. Link : http://www.cineetcetera.com/

February 18, 2011

Film : Crazy Little Thing Called Love

"Best on True Story of Everyone"
Jadi ini loooh film yang gua tunggu-tunggu sampai beberapa kali bikin status di blog dan facebook segala, film yang judulnya "Crazy Little Thing Called Love"

Filmnya tentang cewek junior buruk rupa bernama Nam yang menyukai pangeran senior yang tampan bernama Shone. Khas banget dah sama lika-liku anak sekolahan. Si Nam melakukan segala cara untuk menarik perhatian si cowok, dengan harapan agar si Shone tertarik sama dia, sukur-sukur mau jadi pacarnya hahaha... Dan rupanya ternyata si Nam buruk rupa ini secara perlahan berubah menjadi wanita cantik dan populer di sekolahnya. Yang dulunya cowok-cowok ora sudi nengok ke dia, sekarang pada nengok kalo si Nam lewat. Namun ternyata perubahan yang Nam alami dan perjuangkan ini rupanya tidak merubah perasaan si Shone terhadap dia, Nam merasa kalo Shone masih biasa aja sama si Nam. Ataaaauuuu... begitulah yang si Nam kira.

Film ini film tipikal komedi yang uuuummm kayanya ceritanya udah umum banget dan real banget terjadi. Soal cewek jelek dan cowok cakep serta cinta. Namun yang bikin film ini enak ditonton adalah bahwa si sutradara mengemas film ini menjadi film yang menarik, lucu dan enak ditonton. Banyak adegan-adegan lucu dan menggemaskan di film ini. Apalagi ada dua tokoh di film ini yang kalo mereka muncul gua selalu ketawa atau paling nggak senyam-senyum mulu. Mereka adalah Si guru bahasa inggris Teacher In dan temannya si Nam yang berambut sebahu dan sesekali pake bando dan berwajah lucuuuuuuu banget. Gua gak tau siapa namanya, tapi yang jelas tuh temennya si Nam lucu bangeeeeet, muka dan tingkah lakunya.

Akting para pemainnya menurut gua sih berhasil. Masing-masing dari karakter bisa bermain senatural mungkin. Yaaaa mungkin gara-gara peran ini emang nggak jauh-jauh dari kehidupan asli mereka sehingga mereka nggak kesulitan memerankan peran masing-masing. Si pemeran cowok ganteng yang gua kira bakalan bertingkah super cool seperti Sasuke pada serial Naruto ternyata tidak malu-malu untuk berakting konyol dan lucu, sehingga membuat perannya terasa lebih real. Pemeran Nam yang gua kira aslinya jelek, eeeeh ternyata aslinya cantik bener dan gua suka aktingnya, sampai-sampai bikin gua jatuh cinta sama nih cewek, huhuhhu... mana umurnya cuma lebih muda 3 tahun lagi dari gua, tambah cinta deh, wuakakakakak...

Untuk plot cerita seperti yang gua kasih tau diatas bahwa cerita ini sangat real dan kayanya banyak terjadi dilingkungan sekolah-sekolah. Namun jika dicerna lebih jauh kalian bakalan menyadari bahwa cerita pada film ini tidak jauh berbeda dengan cerita pada film Bangkok Traffic Love Story. Disini ceritanya sederhana, membumi dan khas remaja. Gua gak tau deh disini tuh para pemainnya sedang di sekolah setara SMP apa SMA gua gak tau. SMA kali yaaa?

Oh ya, enaknya film ini adalah durasinya yang dua jam sehingga gua puas dan kenyang menyaksikan cerita film ini yang lucu dan manis. Emang deh, kayanya kebiasaan film-film Thailand durasinya nyaris 2 jam semua, hahaha... puas jadinya. Kekurangan dari film ini yang gak gua suka adalah endingnya yang tidak memuaskan. Beneran deh gua sempet kesel pas ngeliat endingnya yang cuma gitu doang. Jadinya cuma bilang:
"Lah kok gitu doang endingnya, nggak puas banget."
Padahal gua berharap bisa melihat kelanjutan dan apa yang terjadi setelah jawaban si Shone atas pertanyaan si Nam itu. Kan kayanya bakalan seru. Eeeeh... ini malah langsung Credit Title. Menyebalkan, huh.... :p


Overall film ini menarik dan asyik untuk ditonton. Mengenang masa-masa puber remaja yang masih dilanda cinta monyet serta persaingan antara remaja. Lucu aja nonton film ini karena gua harus setuju bahwa cerita pada film ini sedikit banyak pernah dialami orang-orang di dunia nyata. Apalagi banyak adegan-adegan konyol dan lucu yang bikin gua tambah suka sama film ini. Jadi buat yang pengen ngerasain lagi cinta-cintaan jaman SMP atau SMA kalian bisa nonton film ini yang tayang Eksklusif cuma di Jaringan Bioskop Blitzmegaplex.
Title
First Love (Crazy Little Thing Called Love)
Year
2010
Genre
Romance / Comedy
Director
Putthiphong Promsakha na Sakon Nakhon and Wasin Pokpong
Country
Thailand
Language
Thai
Subtitle
Indonesia & English
Starring
Mario Muarer, Fern Pimchanok Leuwisedpaiboon, Tukkie
Score : 7.5 / 10
Note : Abis obrak-abrik internet dan akhirnya menemukan kabar gembira kalo film ini akan dibuat sequelnya, asieeeeek... can't wait deh buat nonton sequelnya, hahaha... Oh ya, film ini yang lagi-lagi bikin gua merasa melankolis sendiri, dasar ya emang gua orang labil, wuakakakaak...


Gambar-Gambar diambil dari Facebok Crazy Little Thing Called Love

January 27, 2010

Film : Rumah Dara [Review]

Pictures taken from : www.rumahdara.com
She's Bringin' Horror Back...
Rumah Dara, salah satu film yang gua tunggu kehadirannya dilayar lebar. Karena sebelumnya gua sudah melihat Dara, yang tersangkut di Antologi film--Takut. Alasan kenapa gua tertarik nonton film Rumah Dara adalah karena gua suka film pendeknya. Dan alasan kenapa gua termotivasi menonton film pendeknya adalah karena omongan dari sebuah forum yang mengatakan bahwa film Dara adalah film yang berbeda dari horor indonesia sekarang ini. Dan terbukti film pendek Dara tidak mengecewakan. Setelah bersabar lebih dari setahun akhirnya gua bisa duduk disebuah kursi bioskop XXI dan menyaksikan film Dara versi panjangnya... Rumah Dara. Seperti yang gua sampaikan pada preview sebelumnya, ketika film ini masih terasa sangat eksklusif, bahwa Rumah Dara memiliki plot yang berbeda dari film pendeknya. Dan sebenarnya sih agak kecewa dengan perubahan plot ini karena gua sudah terlanjur suka dengan konsep Dara sebagai pemilik restoran daging manusia. Pernah cerita ke salah satu temen tentang film pendek Dara dan dia berkomentar. "Kaya Sweeney Todd, ya?!" Well, poor me karena gua juga belum menyaksikan film Sweeney Todd, jadi gua belum bisa membandingkan film ini dengan filmnya si Johnny Depp itu. Kembali ke masalah plot, jika di film pendek berkisah mengenai seorang Dara yang mengelola sebuah restoran dimana para pelanggannya tidak tahu bahwa setiap irisan daging yang mereka potong adalah daging manusia. Pengkanibalismean secara tidak langsung. Terbukti bahwa daging manusia itu enak banget, keliatan kok dari ekspresi para pelanggan yang suka akan daging manusia olahan si Dara itu. Sementara di Rumah Dara, restoran ditinggalkan dan berganti kesebuah daerah di pelosok. Awalnya 6 orang sahabat yang hendak kembali ke Jakarta dikejutkan dengan seorang wanita pucat yang tiba-tiba berdiri didepan mobil mereka. Wanita itu mengaku dirampok. Tampangnya yang begitu kasihan dan memelas membuat keenam sahabat ini setuju untuk mengantarkan wanita bernama Maya ini ke rumahnya, yang kebetulan searah dengan rute perjalanan mereka. Setelah tiba dirumah ke enam sahabat itu dijamu makan oleh sang pemilik rumah, Ibu Dara. Yaaa... gua rasa sih sampai disini aja sih ceritanya, karena abis itu yang kalian liat hanya darah, darah, darah dan pembantaian. Film ini memberikan nuansa baru dan definisi baru bagi masyarakat indonesia akan sebuah Horor. Bahwa horor bukan hanya penampakan pocong atau kuntilanak atau sundel bolong atau Dewi Persik mandi atau Julia Peres Topless. Bahwa horor adalah manusia! dimana mereka adalah sosok yang nyata, yang harusnya lebih ditakuti dari pada setan tak berjasad, yang sebenarnya jauh mengerikan dari wajah penuh belatungnya si pocong. Karena manusia mampu dan memiliki kapasitas untuk menjadi iblis. Dan iblis turun ke bumi dalam wujud Dara, ibu yang membawa horor ketingkat yang lebih mengerikan. Dara membuat nafas berhenti, membuat mata menutup ngeri dan wanita menjerit takut. Dan Dara tidak sendiri...Ada anak-anaknya yang dari segi penampilan tidak jauh beda dari induknya. Mereka seperti memiliki umur yang tidak jauh beda satu sama lain. Maka tersebutlah Adam, sesosok pria yang kembali menegaskan kalimat "Pria tampan itu biasanya berbahaya." Wajahnya yang tampan dan misterius gak diragukan lagi sanggup membuat para cewek klepek-klepek. Namun dia juga mampu membuat istilah klepek-klepek bukanlagi sebuah kata yang lucu. Karena dia mampu membantai, dan dia menikmati membunuh. Lalu Maya, si gadis pengumpan. Dia lah yang membawa 6 orang itu ke rumah pembantai. Wajahnya cantik, namun cantik itu membunuh. Dan ini terbukti secara harafiah. Karena setelah itu wajah kasihannya akan berubah menjadi sebuah senyuman psikopat. Dan terakhir Arman, inilah sosok yang mengingatkan kita pada kenyataan bahwa biarpun berdarah dingin tapi seorang pembunuh juga mempunyai nafsu birahi. Kalo dilihat dari segi cerita dan output Rumah Dara jika disandingkan dengan film internasional lainnya, maka Rumah Dara tidak berbeda dengan film-film macam Hostel, SAW dan Texas Chainswa Massacre. Namun jika disandingkan dengan film horor indonesia yang ada sekarang, maka film ini melambung jauh diatas lainnya. Rumah Dara membuat seolah film lain dibuat oleh sekumpulan Anak SMA yang sedang belajar bikin film. Tingkat kesulitan yang dibuat film ini cukup tinggi dimana untuk menghasilkan spesial efek mengerikan seperti itu tidaklah mudah. Kepala terpotong, tangan, tusuk-musuk, mencabut pedang yang tertancap di tubuh bukanlah hal yang mudah untuk sebuah film. Dan Rumah Dara berhasil membuktikan bahwa anak Indonesia sanggup melakukannya. Segi Akting, Shareefa Danish yang menjadi sang Ibu Dara berperan cukup baik dalam film ini. Walaupun cara berbicaranya agak kurang konsisten dimana gua mendengar sedikit cacat pada intonasi berbicaranya. Namun lepas dari pada itu dia berhasil menghidupkan sang Iblis. Dia meresapi sosok Dara dan mengidentifikasikan dirinya sebagai Dara. Dia Berhasil, nggak heran dia diganjar penghargaan Best Actrees di Puchon International Fantastic Film Festival 2009. Lalu Arifin Saputra yang berperan sebagai Adam juga harus diacungin jempol karena dia berhasil membawakan karakter sebagai pria dingin dan kejam dengan baik. Jangan harap kalian melihat senyum ala sinetronnya Arifin, disini kalian pasti berharap jangan sampai berada 1 meter didekatnya. Oke, gua hanya tertarik pada dua tokoh diatas, karena merekalah yang berhasil mendapatkan seluruh perhatian gua. Tokoh lainnya juga bermain bagus walaupun ada yang tidak, namun yang paling bikin gua salut yang si Dara dan si Adam. Merekalah tokoh-tokoh yang memiliki karakter yang kuat. Segi pengambilan gambar, gua suka dengan penggunakan hand held kamera sehingga membuat gua merasakan guncangan kengerian yang dihadirkan dalam film ini. Tensi ketegangan dan rasa takut berhasil dihadirkan dengan teknik pengambilan gambar seperti ini. Tidak seperti film horor terdahulu yang gua akuin memiliki gambar indah tapi kurang cocok untuk sebuah film horor. Atau setidaknya gua belum bisa menemukan korelasi yang asyik antara sinematografi indah dengan kengerian sebuah horor. Tapi yang jelas di film ini gua menikmati setiap gambar yang tersajikan. Dan heeeei... ini pake kamera apaan sih, gua suka nih film yang menggunakan kamera dengan hasil gambar seperti ini. Ya walaupun hasilnya tidak seperti output film-film hollywood tapi ini pun sudah lebih cukup untuk membawa film horor ini ke taraf high class. Gambarnya tidak sama dengan gambar2 film horor kebanyakan yang membuat kita sepertinya menonton sinetron dalam layar besar. Great picture! Namun biarpun begitu, bukan sebuah resensi jika tidak mengungkapkan kelemahan-kelemahan di film ini. Ada beberapa kelemahan yang cukup mengganggu kalo gua bilang. Seperti gambar yang walaupun gua bilang bagus namun kurang sempurna. dimana ada beberapa bagian dimana kepala sang tokoh terlalu dekat dengan sisi atas layar sehingga pas gua saksikan dilayar kepala mereka tidak kelihatan. Cukup mengganggu karena gua akhirnya tidak bisa melihat bagaimana ekspresi para tokoh karena kepala mereka terpotong kain hitam disisi atas layar. Jika di layar TV mungkin bagus namun berbeda hasilnya jika dibioskop yang proyeksionisnya kurang profesional. Lalu penyensoran... Eaaarghh... inilah yang membuat gua semakin benci pada LSF. Kenapa sih film yang sudah diberi rating untuk DEWASA, dimana tidak ada anak-anak yang menyaksikan, adegan-adegan sadis seperti kepala buntung masih saja dipotong. Ayolah pak tua, kita sudah dewasa dan tau mana yang baik dan tidak. Jangan samakan kita dengan anak SD dimana tayangannya harus diperiksa dulu supaya aman. Kita kan bukan anak SD! Berharap saja DVD Rumah Dara versi internasionalnya dirilis agar gua bisa menyaksikan gambar-gambar NO SENSOR! Dan pada akhirnya gua mengatakan bahwa film ini adalah sebuah film yang harus ditonton oleh penonton indonesia yang sudah haus akan film horor yang berbeda. Karena kita sudah tahu bahwa Horor + Dewi Persik bukanlah sebuah formula yang bagus untuk disajikan. Namun Rumah Dara adalah sebuah obat yang efeknya langsung meresap. Karena pembantaian berdarah adalah sajian utama di film ini. Well, biarpun begitu film ini bukanlah film biasa yang bisa ditonton segala kalangan. Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa dan sanggup menyaksikan film ini. Karena berumur 18 tahun saja bukanlah modal yang cukup untuk menonton pembantaian. Lalu seperti kata si ini dan si itu bahwa film ini akan dijadikan trilogi dimana ada Prequel dan sequel. Sebuah formula yang cukup bagus untuk sebuah trilogi. Semoga untuk film berikutnya sanggup menghasilkan kengerian yang lebih baik dari yang sekarang. Karena yang kita inginkan untuk film jenis film ini ya selain cerita yang bagus tapi juga kengerian tingkat lanjut. Kerja yang bagus untuk Mo Brothers karena telah membawa Dara ke depan layar dan menyajikan tontonan yang luar biasa. Horor telah menemukan sosok ibu dan horor telah kembali ke pangkuan ibu. Dan Ibu Dara akan merawat horor seperti anaknya sendiri dan dengan caranya sendiri... mengerikan! Rumah Dara / Darah / Macabre Directed By : MO Brothers Screenplay By : MO Brothers Produced By : Delon Tio (Nation Pictures and Merah Production) Genre : Action Survival Thriller Studio : Merah Production, Guerilla Visuals, Nation Pictures, Gorylah Pictures Cast :
  • Julie Estelle
  • Shareefa Daanish
  • Michael Lucock
  • Ario Bayu
  • Sigi Wimala
  • Imelda Therine
  • Arifin Putra
  • Daniel Mananta
  • Dendi Subangil
  • Ruli Lubis
  • Aming
Official Website : Rumah Darah Official Facebook : Rumah Dara
Score : 8 / 10

Dara telah membuat Horor kembali ke jalan yang benar. Amin.

September 24, 2009

Film : Dance of The Dragon

Hai, i’m back… :p How are you? Whoaaa, i’ve just watch a very gooooood movie. Hehehehe, one of the most beautiful movie i ever seen. Om my God. I still speechless, i don’t know what to say… okay, cukup bahasa inggrisnya, karena gua gak bisa panjang-panjang… wuakakak… :p Jadi kan dulu beberapa hari yang lalu gua sempet borong beberapa DVD dan salah satunya adalah Dance of The Dragon. Sempet liat cuplikannya pas beli DVD film 7 in 1, wiuakakaka, bajakan pastinya. Lalu akhirnya beli yang full 1 film aja, yang kualitasnya udah bagus. Setelah beli gak langsung pengen nonton sih, suka kepending-pending gitu. Dan pas ada kesempatan ya gua tonton tuh film. Pas abis nonton, yak ampuuuuuun… ini bener-bener salah satu film paling indah yang pernah gua tonton. Keren banget! Top-top-top! Ceritanya sederhana namun indah; mengenai seorang anak laki-laki yang bercita-cita ingin menjadi penari dan ketika dia mendapatkan kesempatan itu ia akhirnya tidak menyia-nyiakannya. Dia berjuang untuk menjalani mimpinya, dan… dia berhasil! Dia akhirnya menyatakan mimpinya, menari didepan ratusan orang dan mendapat standing ovation ketika dia membukuk selesai. Sebenarnya ada cinta-cintanya juga, namun menu utamanya adalah si dancer cowok ini. Film yang indah. Sumpah! Jarang-jarang gua nonton film dengan Cinematografi bagus seperti ini. Nuansa kelembutan dan kenyamanan disajikan dari awal sampai akhir film. Gerakan-gerakan slow motion yang cukup mendominasi di film ini membuat nilai ‘beautiful’ dari film ini semakin naik. Akting para pemain bagus-bagus semua. Mereka semua mampu menjiwai peran yang mereka jalani (Sepertinya gua sedang dibutakan oleh film ini.) Gerakan-gerakan indah dalam tarian menjadi nilai lebih dari film ini, serta ending menyentuh dan membuat haru dari film ini bikin gua ingin berdiri di kamar gua dan bertepuk tangan. Sumpah! Film yang sangat bagus! hebat banget sih tuh sutradara bikin filmnya. Jang Hyuk, yang disini berperan sebagai Tae Kwon bermain sangat bagus. Dia tidak hanya sebagai aye candy, tapi memang sebagai objek utama di film ini. Gila nih orang kayanya menghayati banget perannya. Daaan... ini menjadikan dirinya salah satu aktor favorit gua sekarang. Sumpah, nih orang aktingnya keren banget difilm ini. Film ini adalah film buatan Singapura dengan doble suttadara dan dobel script writter: Max Mannix dan John Radel. Serta di Produseri langsung oleh orang Singapure : Robin Leong. Entah siapa yang mengajar Koreografi dan scoring dari film ini, gua membungkukan badan untuk mereka atas upaya dan kerja keras mereka menciptakan film yang indah ini. Huhuhu… gua jadi melankolis gini… wuakakak. So, kalian yang belum nonton dan suka film bergenre drama yang indah ini, pastinya gak boleh sampe gak nonton. Rugi… hahahah… Nikmati Clip-clip dari film ini : Dan untuk film ini, gua memberikan nilai 8.5 Dari 10. Film yang indah, cantik, lembut, romantis dan memberikan semangat hidup dan mengejar impian. Filmnya yang luar biasa! Keterangan (Based on imdb.com) Movie : Dance of The Dragon a.k.a Long Zhi Wu Directors : Max Mannix & John Radel Script : Max Mannix & John Radel Producer : Robin Leong Cast : Jang Hyuk, Fann Wong, Jason Scott Lee Release Date : 15 May 2008 Genre : Drama, Music, Romance, Dance Runtime : 111 min
Pictures : imdb.com