Pages

Showing posts with label Barat. Show all posts
Showing posts with label Barat. Show all posts

January 26, 2011

Film : Burlesque

"It Takes a Legend... to Make a Star"

Udah tau film ini dari pas hari raya thanksgiving di USA sana. Karena saat perayaan hari itulah film ini mulai beredar. Pas ngeliat trailernya makin semangat lah gua buat nonton film ini. Dan pas kemaren, pertengahan januari kemarin akhirnya gua nonton nih film. Burlesque.

Kisahnya tentang si Ali, gadis desa yang mencoba mengadu nasib di Los Angeles, yang kalo disini mungkin ibarat gadis Jember yang pengen ngadu nasib di Jakarta. Di Los Angeles sana dia ketemu atau sepertinya dibawa oleh nasib menuju ke sebuah klub bernama klub Burlesque. Lantas si Ali ini masuk kedalam dan terpesona, terkagum-kagum, ternganga-nganga, terbengong-bengong dengan kenyataan bahwa di dalam klub tersebut terdapat perkerjaan impiannya. Dimana disana terdapat cewek-cewek yang berpakaian kekurangan bahan dan seakan diracuni oleh Lady Gaga yang merasa haram jika memakai pakaian sampai kebawah lutut; sedang menari, jungkir balik, loncat sana loncat sini, melakukan split, menampilkan selangkangan selebar mungkin, memberikan pantat ke penonton, memiliki hubungan dekat dengan bangku, serta melakukan gerakan akrobatik lainnya. Ali suka itu dan pengen menjadi salah satu gadis yang bisa melakukan tarian pemanggil 'hujan' itu.

Karena merasa kebelet pengen ikutan menari diatas panggung Ali langsung nyari yang punya tempat. Dan ia mendatangi Tess yang mengatakan bahwa saat ini klubnya lagi gak butuh tambahan orang baru. Disamping itu pula klubnya lagi dilanda permasalahan keuangan yang dapat berakhir Tess harus melepaskan klubnya itu. Sehingga rasanya tidak mungkin baginya untuk menambah satu pekerja lagi yang harus ia upahi.

Tidak patah semangat karena sudah terlanjur cinta dengan klub tari penuh birahi dan selangkangan itu, Ali akhirnya memutuskan untuk menjadi Petinju saja... Enggak deng, becanda, hehehe... Ali memutuskan untuk berkerja sebagai waitress disana, beda pekerjaan tapi sama lokasi. Sampai suatu saat ia akhirnya mendapat kesempatan untuk menyalurkan birahinya sebagai penari diatas panggung. Dan satu hal yang membuat para penari dan tess terkejut, bahwa si Ali bisa nyanyi. Yeaaaah... She can sing! Karena kebanyakan dari para penari di klub itu hanya bisa lipsync aja sambil nari, kaya penyanyi aerobik yang kita ketahui selama ini. Dan itulah yang membuat Ali langsung meroket ke puncak ketenaran. Disini juga terdapat kisah cintanya Ali dengan Jack... Yang berujung pada tenggelamnya kapal titanic(?!), no... Becanda... :p

Dari segi cerita sih film ini biasa aja, film ini mampu memberikan semangat meraih impian sebagaimana yang para agen MLM gencar lakukan, Cuma film ini lebih baik dari pada para agen itu. Film ini bercerita tentang seorang gadis desa yang mengadu nasib di kota besar dan berhasil karena dia memang punya bakat dan juga keberanian, sebuah aspek penting dalam kesuksesan bahwa menujukan bakat itu butuh keberanian. Cuma abis itu, yaaaa gitu deh... Dari plot nothing special.

Namun apa yang membuat Ellious Grinsant yang keren, misterius, sayang anak, dan alim ini begitu suka dengan film ini? Jawabannya adalah tarian, musik dan lagu. Film ini penuh dengan tarian yang sensual dan semangat. Penuh dengan musik-musik beat yang jika dipasang di klub beneran bakalan bikin ibu-ibu Darma Wanita goyang. Penuh dengan lagu-lagu yang powefull namun juga easy listening. Serius deh kalo gua benar-benar dalam klub itu dan menyaksikan semua penampilan itu gua bakalan selalu tepuk tangan paling keras setiap sebuah penampilan selesai. Luar biasa.

Segi Akting. Si Ali a.k.a Christina Aguilera... Hmmm dia bermain alami dan naturalisasi dalam sesi akting cerita namun ketika akting untuk nyanyi serta dance, aura Christina Aguilera yang kita kenal begitu menyelimuti karakter Ali. Jadi pada beberapa lagu gua merasa Christina Aguilera lah yang sedang tampil bukan si Ali. Cuma tetap aja gua suka sama perfomancenya. Bikin seger mata sih, hehehe... :p Cher. well gua jarang ngeliat akting dia di film. Namun disini akting dia terbilang bagus kok. Lalu ada Cam Gigandet yang semakin hari gua semakin merasa nih orang makin laris aja. Aktingnya pun juga menurut gua nggak jelek kok, diatas rata-rata malah. Dan berikutnya adalah Kristen Bell, yang sebelumnya gua begitu adore dia karena perannya sebagai gadis baik-baik yang manis dalam When in Rome dan You Again, kini berubah jadi cewek nakal yang jahat. Apalagi ketika dia tampil di panggung dengan begitu hotnya, woooouhhh... Bikin gua merasa seharusnya nonton film ini tuh di kamar sendirian, bukan di bioskop yang penuh dengan banyak orang. Gelisah sendiri jadinya, hihihi, dasar anak alim. Sayangnya peran disini yang jahat tidak dapat porsi yang cukup seimbang yang mampu mengimbangin dominasi Ali dalam film ini. Karena menurut gua kali kedua karakter ini diberi porsi seimbang dan saling memberi masalah maka jalan cerita akan jadi lebih menarik.  

Overall. Serius deh, filmnya begitu menyenangkan untuk ditonton. Cerita yang ringan, lagu-lagu yang powerful namun enak didengar serta musik yang bisa bikin orang goyang. Terlebih lagi ada nilai plus, yaitu salah satu lagu yang dinyanyikan Cher dinominasikan sebagai Best Song dalam Golden Globe.

Score : 7 / 10 Note : Kapan yang Indonesia bisa bikin Drama Musical yang asik kaya gini. Yang ada selama ini menurut gua mah nggak ada yang berhasil...

Poster from : impawards.com 

January 16, 2011

Film : Faster


"Slow Justice... Is No Justice..."
Faster itu filmnya The Rock yang dulu happening banget di WWF. Jadi inti film ini adalah mengenai balas dendam dan pengampunan. Opening film, The Rocknya bebas dari penjara, dan tanpa ba bi bu langsung aja dia nyari objek dendamnya dan membunuh mereka semua. Ternyata eh ternyata yang menjadikan dia manusia pendendam adalah ketika dulu ia melihat kakaknya dibunuh dengan sadis didepan matanya dan saat itulah dia bersumpah akan membunuh semua orang yang terlibat dalam pembunuhan his lovely baby face brother nya itu. Herannya, sesaat setelah dia bilang sumpahnya, ia ditembak di kepala. Wow,... Lumayan bikin penasaran kan... Kalo gitu gimana dia bisa bales dendam kalo dia sendiri aja udah ditembak mati ditempat. Film ini kalo menurut gua sih memiliki perbedaan sendiri, karena isinya gak Cuma si The Rock yang keluar penjara langsung duar duar duar, nembak orang dengan membabi-buta. Disini dijelaskan latar belakang masalah, lalu uraian teori dan berikutnya metodologi sampai kesimpulan (apa coba... hihihi). Bahkan kalo gua bilang mah disini keajaiban juga ada kali, wuakakakakak... Ceritanya sih sedikit lebih baik dari film-film action balas dendam serupa. Mungkin yang jadi nilai lebih dari plot film ini palingan adanya twist yang menurut gua sih hampir sama dengan twist-twist di film lain. Pengembangan karakter selalin karakter utama nyaris tidak ada karena film ini hampir seluruhnya dimakan oleh si The Rock itu sendiri. Dan jikalau ada, malah ada karakter yang dikembangkan, yaitu si Pembunuh Bayaran, soal dia dan pacarnya dan kisah cintanya yang menurut gua mah gak ngepek kalo tuh orang kisah cintanya gak dipasang segala. Ada gak ada tuh gak ada ngaruhnya sama plot utama film. Akting The Rock tidak berkembang, malah kalo gua bilang cenderung biasa aja, atau jalan ditempat. Akting pemain lain juga cenderung biasa aja, emang karena porsi yang mereka dapat tidak sebanyak si The Rock itu. Satu hal yang gua suka dari film ini adalah ada satu adegan yang membuat kita sadar dan tahu bahwa orang yang dilanda dendam dan amarah pun ternyata masih mempunyai hati, sehingga dia tidak akan membunuh sebarangan orang yang tidak ada hubungannya sama urusannya. Mungkin salah satu adegan favorit gua di film ini adalah saat si The Rock hendak Membunuh si Penjahat yang kini beralih profesi menjadi seorang Pendeta Gereja. Overal film ini lumayan bagus dan menghibur untuk ditonton ngelepas 5 L. Letih, lemah, lesu, lemas dan lunglai. Walaupun gak bagus-bagus amat, tapi film ini gak jelek-jelek amat kok... Yaaaa average dah pokoknye...
Informasi
Jenis Film : Action
Produser : Robert Teitel, Tony Gayton, Liz Glotzer
Produksi : Columbia Pictures
Homepage : http://www.fasterthemovie.com/
Rating LSF : Dewasa (adult)
Durasi : Nggak Lama kok.
Cast & Crew
Sutradara : George Tillman Jr.
Penulis : Joe Gayton & Tony Gayton
Pemain : The Rock a.k.a Dwayne Johnson, Billy Bob Thornton, Carla Gugino, Maggie Grace, Oliver Jackson-Cohen, Moon Bloodgood

Score : 6.5 / 10 Note - Pas beli tiket nih film gua dan mbak penjual tiketnya agak mengalami miskomunikasi:
Mbak Penjual Tiket : [No Senyum] Mau nonton film apa?
Gua : Faster (baca : festeur)
Mbak Penjual Tiket : Mau nonton film apa? [sebagai pengganti kalimat : Lo ngomong apaan?]
Gua : Faster (dengan cara yang sama)
Mbak Penjual Tiket : Mau nonton film apa? [Kali ini maksudnya mungkin : Gua budek nih, gak jelas dengernya. Jangan pake bahasa babakan dong!]
Gua : Faster (baca : festeur) namun berusaha sejelas mungkin, karena gua cadel 'S' [Mbak diem aja mungkin dalam hati berkata: "Dasar orang kampung"]
Mbak Penjual Tiket : [Dengan Logat Pro] FASTEUR yang jam 18.45 untuk berapa tiket?
Dia ngomong Faster seperti kita kalo nyebut salah satu daerah di bandung : Pasteur. Keren deh mbak
Poster from : impawards.com

November 18, 2009

Film : 2 0 1 2

Picture : impawards.com
2012 Hari selasa siang di Jakarta terasa panas ketika pukul 11 siang. Niat pengen nonton 2012 karena penasaran gila dan akhirnya kesampaian. Tiba di EX XXI masih belum buka bioskopnya, jadinya terpaksa nunggu. Beli tiket, menunggu lagi dan akhirnya nonton. Ini dia penilaian gua:

2012 secara garis besar berkisah tentang inti bumi yang (kalo nggak salah) lenyap, sehingga kerak bumi bebas melanglang buana kesana-kemari sesuka hati. Akibatnya sudah pasti, kita manusia yang paling sial dan paling menderita. Bagaimana enggak, kerak bumi yang bebas jalan-jalan itu otomatis membuat gempa-gempa hebat, gunung meletus, dan Gigantic Tsunami dan lain-lain. Otomatis bencana itu memakan banyak korban jiwa dan harta benda. Dan seperti biasa sekelompok orang yang entah kenapa selalu beruntung akan menjadi sorotan utama film ini. Sebagaimana di Indonesia yang terkenal dengan tradisi mudik pada setiap menjelang hari besar, maka di Hollywood juga terkenal dengan tradisi menghancurkan negara sendiri pada setiap film bencana alam. Butuh contoh? cukup beberapa aja lah; Twister, The Day After Tomorrow, Independence Day, 2012, Armagedon, Deep Impact dan lain-lain. Semua film ini memilih Amerika sebagai korban empuk kehancuran. Jika ada sekolah percontohan dalam sistem pendidikan atau ada kota percontohan dalam aspek kebersihan, maka Amerika adalah negara percontohan dalam aspek kehancuran akibat bencana alam. America memang selalu siap untuk dihancurkan atau terkena bencana. Memang sih, baik di film maupun di kehidupan nyata negara itu memang selalu menjadi sasaran untuk dihancurkan.

Film 2012 secara langsung maupun tidak langsung bercerita tentang bencana yang tercipta dan bencana yang terlestarikan. Film ini memberikan gambaran bagaimana wujud dari sebuah kekacauan alam yang luar biasa. Jujur aja, gua pas melihat bagaimana gambar-gambar kehancuran demi kehancuran ditampilkan, gua langsung merasa parno sendiri. Bagaimana jika hal ini sungguh terjadi? entah bukan karena kiamat, namun mega bencana seperti ini pun sudah sanggup merusak segalanya. Dan yang menjadi tokoh-tokoh utama di film ini malah adalah sebuah keluarga. Benar-benar sebuah subjek yang mampu membuat orang semakin takut akan bencana. Gimana enggak, coba bayangkan bencana ini terjadi dikehidupan nyata kalian, lalu bayangkan kalian sekeluarga harus berjuang keras menyelamatkan diri karena menyadari kenyataan kalian tidak sanggup membayar 1 juta euro perorang untuk bisa masuk ke bahtera keselamatan. Dan pada akhirnya kalian hanya bisa pasrah pada nasib bahwa kalian akan mati, atau terus berjuang mencari tempat perlindungan sendri dengan berbagai resiko yang ada. Mengerikan bukan?

Secara cerita film ini hampir mirip dengan The Day After Tomorrow yang juga disutradarai oleh sutradara yang sama. Roland Emmerich memang hobi bikin orang parno dengan berbagai film yang mempu menyebarkan teror ketakutan pada penonton; Gua menahan nafas tegang saat melihat serbuan dinding api menjalar mengejar manusia dalam Independence Day. Lalu kembali harus menahan Nafas tegang ketika melihat seekor Godzilla memporak-porandakan negara yang sama. Beberapa tahun kemudian kegiatan menahan nafas karena tegang kembali dibudidayakan melalui film The Day After Tomorrow dengan serbuan Tornado dan Tsunami. Yang lagi dan lagi terjadi di negara yang sama. Kini, Gua harus kembali menahan nafas tegang dengan kompilasi bencana yang disajikan 2012, dengan hidangan pamungkas apalagi kalo bukan, ya benar, Tsunami. Namun kali ini dengan ukuran yang lebih besar. Negara yang sama pun selalu menjadi langganan korban.

Tensi ketegangannya cukup terasa pada film ini walaupun suka agak kedodoran dibeberapa adegan. Padahal kalo yang kedodoran itu bisa dibersihkan ketegangan film ini jadi lebih berasa. Namun harus gua akui, gua merasa tegang menonton adegan bencana demi bencana dalam film ini. Pujian luar biasa harus kita berikan untuk aspek visual efek. Kalian pasti bakalan terkagum-kagum, ternganga-nganga dengan tampilan spesial efek yang melimpah ruah di film ini. Lupakan kehebatan The Day After Tomorrow, film 2012 jauh lebih gila kalo ditanya soal spesial efek. Kompilasi bencana mulai dari tanah retak, tanah kebelah, tanah keangkat, tanah amblas, gempa gila-gilaan, letusan mega volcano yang luar biasa, sampai serbuan Tsunami raksasa yang menyapa hampir seluruh dunia. Disini kalian bisa menikmati efek-efek kehancuran yang mendekati sempurna. Tabok muka gua kalo kalian kagak bengong melihat bumi, atau lebih spesifiknya, Amerika dihancurkan secara luar biasa oleh berbagai bencana yang janjian untuk saling menghancurkan wilayah yang belum hancur. 9/10 untuk visual efek.

Soal akting? Low low low... tidak ada yang spesial untuk akting. Karena pada dasarnya film ini mengedepankan spesial efek bencana bukan adu emosi ala film Shakespeare in love, Inglorious Basterds atau American Beauty atau film-film yang ada Julia Robert atau Merryl Streepnya. Disini yang cuma bisa kita lihat pada aktornya cuma adegan nangis, teriak-teriak, muka pasrah, lari sana-lari sini, jalan kaki dan kegiatan standar lainnya. Intinya menonton film ini kamu cuma perlu duduk manis dan berusaha melafalkan kata "Oh My God" atau "Yak ampun" secara baik dan frekwentatif. Palingan yang bisa cukup bagus aktingnya si Tsunami yang begitu alami namun mampu memberikan kesan seram dan kuat. wuakakak... lol. Hal lain, secara ilmu pengetahuan film ini nggak usah dipikir lah. elo nggak usah mikir bagaimana inti bumi bisa lenyap atau bagaimana tanah-tanah bisa bergerak-gerak. Mungkin hanya Tuhan dan Rolland Emmerich saja yang tau jawabannya. Ada beberapa kekonyolan yang terjadi di film ini. Contohnya selalu ada jalan keselamatan untuk si pemeran utama, lalu bagaimana ceritanya ada kamera tersembunyi di turbin pemutar pintu yang dengan secara close up menangkap gambar si jackson berusaha mengambil benda pengganjal turbin pintu tersebut. Ulah Paparazzi kah? hihihi...

Dan pada akhirnya film ini menceritakan bahwa satu-satunya tempat yang tidak terjamah air dan masih kekeringan adalah Afrika. Kesanalah para survivors sejati dan survivors karena punya uang akan pergi. Afrika memang ditabiskan menjadi benua yang selalu kekeringan. Buktinya aja, di negara lain dibombardir tsunami, Afrika tetep ajaaaaaa kekeringan. Lalu seperti yang diawal gua ceritakan bahwa baik secara langsung maupun tidak langsung film ini bercerita tentang bencana yang tercipta dan bencana yang terlestarikan. Ya benar, afrika! Di benua itu masih banyak orang kelaparan, keringan, kurus kering dan menyedihkan. Sedikit beruntung juga, mereka yang sudah kasihan itu tidak perlu tambah menderita lagi dengan serbuan bencana alam. Maka jika seandainya film ini terjadi dalam kehidupan nyata, gua cuma bisa bilang; Sepertinya Tuhan masih sayang sama penyakit AIDS. Hihihih...

Akhirnya film ini selesai. Gua keluar dari EX XXI dan menyadari bahwa saat gua nonton tadi Jakarta dilanda hujan ya?! soalnya pas gua keluar dari mall jakarta terlihat basah. THX sih, jadi nggak kedengeran deh kalo ada suara hujan, hahaha...

Nilai Film 2 0 1 2 : 6/10

July 18, 2008

Film : Indiana Jones and The Kingdom of Crystal Skull



Waaah... film lama kembali lagi neh. Ya benar! Indiana Jones 4 yang udah lama banget dibicarain orang-orang sejak zaman dulu. Ya karena dulunya film ini banyak yang suka. Terutama warga amerika. Namun bagi gua yang belum pernah menonton Indiana Jones sebelumnya yang biasa aja sih. Setelah melihat film ini cukup kagum juga melihat bagaimana kehebatan Steven Spielberg membuat sinematografi yang keren.

Ceritanya kini mengenai perebutan benda pusaka magis yaitu Tengkorak Kristal (Lihat judul! Crystal Skull.) Ya seperti biasa, Indiana jones senang menyelamatkan benda-benda yang direbut banyak orang. Why? Kenapa dia gak mencoba menyelamatkan benda yang gak direbut orang. Kan lebih mudah, gak pake capek kaya gini. Oke, musuh utama si jones bukan lagi Jerman, Secara Hitler udah koit dan suasana dunia pada waktu itu sudah berubah. Uni Soviet yang menjadi musuh utamanya. Karena setingnya diambil pada saat memasuki masa perang dingin.

Dedengkot Uni Soviet, Iriana Spalko, dimainkan dengan sangat baik oleh Cate Blenchett. Dialah yang memimpin rombongan Uni Soviet untuk merebut tengkorak kristal tersebut. Disaat yang bersamaan juga indiana jones bertemu dengan Mutt Williams (Shia Labeouf). Seorang pemuda yang hobi nyisir yang pada akhirnya membantu indiana jones untuk menemukan Tengkorak Kristal tersebut. Dia juga bertemu dengan Marion Ravenwood (Karen Allen) yang merupakan kekasihnya Indiana Jones. Bersama-sama mereka berusaha menemukan Tengkorak Pembawa masalah itu dan melakukan petualangan yang luar biasa. Seperti masuk ke kulkas saat ledakan nuklir hendak terjadi, menghindari semut-semut super duper muper raper ganes banget sekali, menuruni beberapa air terjun yang terjal, adu balapan dipinggir tebing dan lain-lain. Semua itu membuat petualangan indiana jones kali ini terasa lebih seru dan menyenangkan. Karena tidak hanya keseriusan saja yang ditampilkan, tetapi sense of humor juga diberikan disini. Oh ya jangan lupa. Disini juga diberitahukan sebuah hal yang cukup mencengangkan Indiana Jones. Mengenai Mutt. Dia ternyata adalah hasil perkembang biakan Indiana Jones dengan kekasihnya Marion.

Ceritanya menurut gua sih biasa aja. Sama seperti film-film yang lain. Berebutan mendapatkan benda antik yang pada akhirnya mereka dapatkan namun mereka tinggalkan. Namun yang menjadi nilai Plus dari film ini adalah cara perebutannya yang cukup unik dan menyenangkan. Balapan di pinggir tebing, sampe dikejar-kejar semut dan juga harus turun dari air terjun dan lain-lain. Ini yang membuat film ini menyenangkan untuk ditonton. Lagi pula alur cerita di film ini mudah untuk dinikmati. Elo gak perlu mengerutkan jidat dan pantat (?!) untuk dapat mengerti jalan ceritanya. Semuanya dikemas seenak popcorn yang kamu makan saat nonton film ini.

Segi Akting semuanya bermain baik. Si bapak Jones yang udah bangkotan masih enerjik dan lucu di film ini. Shia Labeouf yang menurut gua memiliki faktor X yang membuat aktingnya selalu enak dilihat juga bermain bagus disini. Aktingnya agak pasaran namun itu masih bisa dimaklumi. Yang paling bagus menurut gua malah sang Mama Geng, Iriana Spalko. Cate Blanchett berhasil memberikan cara bicara inggris dengan logat sovietnya. Sehingga orang semakin yakin bahwa dia adalah orang Soviet walaupun pada dasarnya bukan. Tapi yang jelas di film ini dia bermain dengan sangat baik... sangaaat baik. Pantas saja dia mendapatkan oscar, wong kualitas aktingnya aja sehebat itu.

Segi gambar. Waj si Kakek Steven Spielberg seperti biasa berhasil membuat gambar-gambar yang spektakuler. Coba liat adegan saat Indiana Jones keluar dari kulkasnya dan berjalan mendaki. Ada gambar bola api raksasa yang dasyat banget. Itu menurut gua merupakan salah satu adegan terhebat dalam film ini. Selain itu, mengingat seting film ini adalah zaman dulu. Maka gambar yang ditampilkan juga sesuai dengan jaman dulu. Coba aja perhatikan dan bandingkan dengan film lain. Atmosfir film ini—diluar dari setting dan situasinya—benar-benar terlihat sangat klasik. Ini yang membuat film ini lebih baik. Film ini walaupun buatan zaman sekarang namun dapat memberikan feel zaman Siti Nurbaya dengan baik. Beberapa adegan lain juga terlihat sangat seru, kaluar gak mau dibilang heboh. Adegan saat kejar-kejaran mobil dihutan itu cukup heboh karena adegan itu disertai dengan adu pedang dan saling tembak.

Overall. Film ini layak ditonton karena unsur hiburannya yang sangat tinggi. Lagi pula kan kita-kita anak muda belum pernah menyaksikan indina jones dibioskop kan. Liatnya Cuma di tipi-tipi. So, ini kesempatan untuk menikmati suansana indiana jones dibioskop. Dan jangan lupa, film ini juga minim unsur pornografi. Ya... walaupun ada adegan ciumannya. N\amun itu cukup beralasan kok, Bukan sekedar nyoros aja. Jadi menurut gua aman-aman aja.


Pemain
Harrison Ford, Cate Blanchett, Karen Allen, Ray Winstone, John Hurt, Jim Broadbent, Shia LaBouf
Sutradara
Steven Spilberg
Genre
Adventure
Runtime
123 Menit
Bujet
$ 125.000.000
Rating
Remaja

Score : 7 / 10
Penilaian : +3 (Emmm... mungkin gak ya Indiana Jones syuting di Indonesia. Mungkin judulnya Indiana Jones V: The Hunt For The Soeharto Treasure. Wekekekekek...!)

June 20, 2008

Film : Cloverfield



Film yang bagus banget namun memualkan banget! Film ini dibuat dengan bujet rendah namun dapat menghasilkan film berkualitas bujet tinggi. Keren banget.
Berkisah mengenai sekelompok anak muda yang sedang melakukan pesta kejutan untuk merayakan kepergian teman mereka Rob ke Jepang. Pesta yang harusnya meriah dan meninggalkan kenangan indah harus berubah menjadi malapetaka ketika sebuah gempa mengguncang kota Manhattan. Belum selesai kepanikan mereda muncul lagi teror. Sebuah benda terbang melayang menabrak sebuah gedung kemudian jatuh ditengah jalan. Baru disadari kemudian bahwa benda tersebut adalah sebuah Kepala Patung Liberty. Kontan kepanikan semakin menjadi-jadi saat mereka menyadari bahwa mereka sedang diteror oleh sesuatu yang mengerikan.
Cerita dari film ini boleh dibilang sudah basi karena bercerita mengenai serangan mahluk raksasa ke (lagi-lagi) Amerika. Hal ini juga semakin mengukuhkan bahwa Amerika adalah negara terkutuk dan berbahaya, dikarenakan negara tersebut sering sekali diserang berbagai monster dan alien. Cerita dari film ini juga hampir mirip dengan film War of The Worldsnya Tom Cruise dimana fokus dari film ini adalah upaya penyelamatan dari dari orang-orang biasa. Bukan upaya pembunuhan monster oleh pihak militer dan berbagai rencananya. Hal itulah yang membuat film ini menjadi terasa nyata. soalnya kita merasa dengan dengan tokoh tersebut. Kita orang biasa dan tokoh tersebut juga orang biasa. Adanya kesamaan membuat kita merasa dekat dengan tokoh tersebut.
Segi Akting. I don’t know, mungkin karena film ini menggunakan gaya handycam sehingga akting para pemain menjadi terlihat natural. Mereka seakan-akan tidak sedang bermain film melainkan hidup dalam dunia mereka sendiri. Sementara handycam berperan sebagai handycam bukan sebagai kamera dari sebuah film. Biarpun natural tidak ada yang bisa ditonjolkan dalam film ini. Film ini tidak memberikan adegan-adegan yang membutuhkan kemampuan akting yang berkualitas. Disini yang dibtuhkan cukap beteriak, ketakutan, berlari dan sedih. Setelah itu tak ada lagi. Sang Monster yang menjadi Peran Antagonis dalam film ini juga kurang bisa dinikmati kualitas aktingnya. Hal ini dikarenakan penampilannya yang tidak banyak dalam film ini.
Segi pengambilan gambar. Wauuu gambar yang dihasilkan film ini sangat memuakau dan juga sangat memualkan. Film ini diambil dengan handycam sehingga banyak sekali gambar-gambar shaking yang didapat. Namun dikarenakan gerakan yang timbul tersebut kita jadi dapat merasakan feel dari film tersebut. Kita ikut terpengaruh oleh suasana yang diberikan film tersebut. Film ini seakan memang benar-benar terjadi. Segala sesuatu tampak nyata dalam film ini. Efek visual efek yang dipakai dalam film ini nyaris tanpa cacat. Segalanya terlihat hebat dan luar biasa.
Namun disisi lain, gambar yang dihasilkan film ini mampu membuat beberapa orang mual. Gerakan kamera yang mengayun-ayun membuat para penonton merasa mual. Pas gua nonton film ini aja dibioskop ada yang sampai pingsan gara-gara pusing dan mual-mual. Sehingga harus digotong petugas bioskop untuk mengeluarkan dari Theater. Inilah yang menjadi nilai min dari film tersebut. Gambar dari film ini dapat membuat orang pingsan karena mual.
Overall film ini benar-benar berbeda dari yang lain. Terutama dari segi Gambar yang mampua membuat film tersebut terasa dekat dan sempurna. Walaupun berbeda dari yang lain banyak yang menyamai film ini dengan film Blair Witch Project. Saran bagi kalian yang pengen menonton film ini. Singkirkan makanan dan minuman. Kemudian minum Antimo dulu sebelum menonton.


Score : 8 / 10

(Sudah saatnya warga Amerika bertobat. Jika tidak, masih banyak monster-monster yang akan mendatangi Negara Mereka. Bertobatlah! Bertobatlah! Monster Sudah Dekat!)

June 5, 2008

Film : Rambo IV In The Serpent’s Aye



Ketika menonton film ini kesan yang gua dapat pada film ini adalah : “GILAAAAA NIH FILM SADIS BENEEEEEER” dari awal sampai akhir film ini menyuguhkan banyak sekali adegan-adegan sadis yang membuat orang-orang mengernyit ngeri dan bahkan menganga penuh keterkejutan. Kekejaman film ini bisa hampir disetarakan dengan SAW. Bedanya kekejaman SAW adalah menyiksa orang untuk hidup, di film ini kekejaman diwujudkan dengan pembunuhan tanpa ampun dan tidak pandang bulu, termasuk anak-anak. Adegan-adegan pemboman dan penembakan keji dan sadis digambar secara eksplisit pada film ini. Yak Ollooooh ngeri amat yak!

Adegan pembukaan dalam film ini adalah sekelompok tentara yang membawa tahanannya kesebuah persawahan untuk melakukan permainan. Para tawanan itu dipaksa melewati sebuah petak sawah yang sudah ditaruh ranjau. Dengan keji para tentara itu memaksa para tahanan melewati petak sawah tersebut. Dan benar saja, salah satu dari mereka menginjak bom dan hancur. Kontan ketakutan yang para tahanan alami menjadi dua kali lipa lebih mengerikan. Sayangnya mereka yang selamat tidak bisa melenggang pulang sambil cipika-cipiki (walaupun sebenarnya itu tidak akan pernah terjadi), mereka yang selamat kemudian ditembaki dengan keji sampai semua mati. Kemudian mayat mereka ditinggalkan begitu saja dipetak persawahan tersebut. Cerita berlanjut dengan kedatangan kelompok kemanusiaan yang ingin membantu rakyat burma yang sudah lama menderita. Mereka mendatangi rambo dan menggangu ketenangan hidup rambo yang sudah tenang hidup menyendiri saat ini. Mereka menginginkan rambo mengantar mereka ke wilayah dimana para penduduk tinggal untuk memberikan bantuan. Pada awalnya rambo menolak, namun akhirnya menyetujuinya.

Lanjut cerita pada akhirnya rambo mengetahui bahwa kelompok kemanusiaan tersebut tidak kunjung kembali. Lalu sekelompok pasukan bersanjata didatangkan untuk menyelamatkan kelompok tersebut. Rambo a.k.a sang kakek juga tergedor hatinya untuk ikut membantu. Walhasil aksi tembak menembak yang brutal terjadi dalam usaha penyelamatan itu.

Segi cerita lupakan kekuatan dan kehebatan cerita yang disajikan. Si kakek rambo alias si stalone sendiri membuat cerita seringan mungkin. Namun walaupun ringan ada nilai-nilai yang dimasukan dalam cerita ini. Seperti kata orang, semakin tua seseorang maka semakin bijaksanalah dia. Dan benar saja, rambo yang ditampilkan dalam film ini adalah sosok rambo yang lebih bijak namun lebih kejam. Dalam film ini mereka membunuh bukan dikarenakan suatu balas dendam atau yang lain. Mereka membunuh dikarenakan mereka harus membunuh. Membunuh untuk menyelamatkan diri sendiri.

Segi akting ya apa lagi ini. Jangan harapkan akting berkaliber oscar akan didapatkan disini. Walaupun misalnya Rambo IV bertaburan bintang oscar seperti julia robert, Leonardo DeCaprio dan lain-lain itu pastinya tidak akan membuat nilai plus dalam film ini. Sebagai saran, jangan pedulikan bagaimana akting si sarah atau si rambo. Pedulikan perhatian kalian terhadap kesadisan dan kekejaman dalam film ini. Karena hanya itulah yang ditampilkan dalam film ini.

Segi gambar, film ini berhasil memberikan gambaran-gambaran kekejaman secara eksplisit atau jelas. Biarpun gambar itu berlangsung dengan cepat namun kita masih bisa mendapatkan fokus dari gambar tersebut. Adegan kaki orang yang meledak, adegan kepala orang yang pecah atau terkena hantaman anak panah dapat disaksikan dengan baik walaupun berlangsung dengan cepat. Ini dikarenakan film ini didukung dengan pengeditan yang baik sehingga gambarnya dapat berlangsung cepat namun tetap fokus. Film ini juga sebenarnya ingin memberikan sinematografi mengenai lanskap hutan-hutan dan seting lainnya. Namun karena digarap dengan biasa saja makan keindahan alam dari lokasi syuting tersebut malam terkesan biasa saja.

Overall film ini entah bagaimana mau disampaikan. Cukup seru untuk dijadikan tontonan bareng temen-temen karena penuh dengan adegan aksi dan minim dialog-dialog berat. Dan pastinya setelah selesai kalian akan dengan puas keluar dari gedung bioskop, karena film ini berakhir dengan happy ending dan ditambah endingnya cukup berbeda. Dimana Rambo yang setelah lama menetap di Thailand kembali ke kampung halamannya—California.

Pemain
Sylvester Stallone, Julie Benz, Matthew Marsden, Paul Schulze dan para penduduk mati yang tidak berdosa
Sutradara
Sang Rambo sendiri.
Genre
Sadistic Action
Runtime
93 Menit
Bujet
Mahal pastinya
Rating
Dewasa

Score : 7 / 10
(Katanya ini adalah film rambo yang terakhir. Semoga benar-benar yang terakhir. Karena jika masih ada rambo V, kita bisa melihat sang Rambo berjalan dengan kaki gemetar dan ditopang tongkat. Jadi sedikit membutuhkan bantuan Pamela Anderson agar bisa segar untuk beberapa saat.)

May 22, 2008

Film : 3:10 To Yuma



Menonton film ini sebenarnya bukan sesuatu yang pengen gua lakukan. Tadinya ini hanya sebuah film yang berhasil gua pilih sebagai menu menonton gua. Daripada gak ada yang gua tonton. Mendingan nonton film ini. Film ini gua tonton 5 menit setelah gua selesai nonton Kawin Kontrak. Jadi gua keluar dari studio 5 kemudian ke kamar mandi lalu pipis, lalu cuci tangan lalu berangkat menuju studio 6. Menonton film ini adalah sebuah tontonan iseng yang tidak pernah gua sesali. Gua malah menyesali kenapa film ini gua jadikan tontonan iseng-iseng dikarenakan betapa bagusnya film ini.

3:10 To Yuma adalah sebuah film dengan genre yang sudah jarang sekali dibuat filmnya. Film ini bergenre Western Movie yang identing dengan berkuda, bersenjata, adu tembak, dan padang pasir. Oh tidak lupa dengan tumbuh-tumbuhan kaktus yang selalu menjadi figuran tak terbayar.

Film ini mengisakan tentang penangkapan seorang penjahat ganas bernama Ben Wade (Russell Crowe) yang pernah meraja rela dikawasan Southern Railroad. Kemudian Dan Evans (Chritian Bale) menawarkan diri untuk menjaga dan membantu memindahkan Ben Wade yang sudah tertangkap menuju ke stasiun kereta untuk dibawa dengan kereta untuk disidang. Namun sayangnya berjalan dalam mengantarkan penjahat paling ganas tersebut tidaklah mudah. Anak buah Ben Wade terus berusaha menemukan bosnya dan ingin melepaskannya.

Cerita dari film ini memiliki beberapa konsentrasi. Yang pertama adalah mengenai usaha pemindahan bos ganas tersebut kekereta dan hubungan yang baru terbuat antara Ben Wade dengan Dan Evans. Secara tak langsung dan tanpa disadari mereka saling bercerita mengenai masa lalu mereka. Sehingga timbul rasa iba antara satu dengan yang lainnya. Konsentrasi lainnya adalah mungkin penonton dipojokan sedang membuat filmnya sendiri. Hihihi dasar calon pemain bokep gadungan. Belum lagi bergolakan seorang remaja yang tidak lagi ingin dikekang dan hidup bagaikan katak dibawah tempurung. Semuanya membuat cerita ini menjadi lebih berisi dan tidak terkesan kacangan, disamping dengan tingkat ketegangan yang disajikan lumayan baik.

Segi akting. Dua pemain utama dalam film ini boleh dibilang sudah hebat lah sebagai aktor. Russell Crowe pernah mendapatkan oscar sementara Christian Bale telah bermain bagus dan film Batman Begins, yang dipuji banyak orang. Dalam film akting mereka terlihat alami dan tidak sedikitpun ada kesan dibuat-buat. Pemilihan kedua aktor ini memang cukup bagus mengingat dari tujuan film ini dimaksudkan bukan film yang mengandalkan aksi tembak menembak saja. Namun juga kekuatan cerita yang terkandung didalamnya.

Pengambilan Gambar, nuansa western yang ditampilkan disini terasa nyata. Pemilihan setting, lokasi dan situasi yang dibuat disini benar-benar menegaskan bahwa film ini berseting zaman seperti itu. Gambar yang diambil dalam film ini walaupun tidak penuh dengan sinematografi indah namun berhasil menyajikan nuansa mencekam dan ketegangan yang baik. Hampir sulit bagi gua untuk mencari kelemahan dalam film ini. Mungkin yang menjadi kelamahan dalam film ini adalah adegan awalnya yang rasanya tidak memiliki hubungan dengan inti dari film ini. Apa hubungannya pembakaran kandang kuda akibat banyaknya hutang dengan usaha pengawalan pengantaran tahanan ke stasiun kereta. Karena tanpa adegan itu inti dari film ini tidaklah berubah.

Overall film ini tidaklah mengecewakan jika di tonton. Film ini memberikan banyak sekali pelajaran dan pesan. Seperti bahwa orang jahat pasti memiliki hati walaupun hanya sedikit. Dan seorang ayah pastilah tidak akan menurunkan wibawanya didepan anak-anaknya. Selain itu bagi yang suka film-film bertema western film ini boleh jadi sebagai antibiotik atas deman kangen western yang sedang anda hadapi. Karena disamping anda mendapatkan tema film yang anda suka. Ceritanya pastilah bakalan anda suka.

Pemain
Russell Crowe, Christian Bale, Logan Lerman, Ben Foster, Peter Fonda dan para kuda.
Sutradara
James Mangold
Genre
Western
Runtime
117 Menit
Bujet
Pastinya diatas US$ 10.000.000,-
Rating
Remaja

Score : 7.5 / 10
(Ditangan Shankar RS, film ini pasti akan menjadi sangat buruk dan mengerikan. Dan kemungkinan besar judulnya akan diganti. Menjadi 12.10 To Kamar Mayat. Oh my God!)

May 8, 2008

Film : American Gangster


 
 Danzel Washinton kembali bermain di film yang berkualitas. Lagi dan lagi! Kali ini film beruntung yang kedatangan Danzel sebagai Main Castnya adalah film American Gangster. Film ini menceritakan tentang 2 orang tokoh berbeda latar belakang dan etnis dan tidak mengelas satu sama lain yang pada akhirnya akan saling berhadapan menjelang akhir cerita. Dikisahkan Frank Lucas seorang pengedar narkoba yang sangat lihai dalam menjalankan bisnisnya dan Richie Roberts seorang polisi berdedikasi tinggi yang ingin melenyapkan perdagangan narkoba di daerahnya yaitu Harlem.

Frank Lucas melakukan aksi gila namun hebat dalam perdagangan narkoba. Ia membeli berkilo-kilo gram narkoba dari asia dan dikirim ke amerika dengan cara meletakannya dibawah alas peti mati Tentara America. Cukup ironis memang bahwa berkilo-kilo gram narkoba diantar oleh pesawat militer resmi milik angkatan Udara America. Kemudian Richie Roberts yang ingin sekali memberantas perdagangan narkoba yang membuat sebagian besar kehidupan di Harlem hancur. Begitu inginnya dia sampai-sampai ia membentuk suatu tim khusus dalam menangani kasus narkoba.

Namun kita tidak hanya memperhatikan satu sisi baik atau jahat dari kedua tokoh ini. Frank menjalankan bisnisnya dengan etika dan benar tanpa ada kecurangan. Dan Richie Roberts adalah seorang polisi yang playboy. Sehingga ada area abu-abu yang membuat kedua tokoh ini tidak kelihatan sempurna dan juga tidak buruk.

Jalinan cerita film ini sangat mulus dan enak ditonton. Penonton merasa film ini yang bercerita dengan sendirinya. Selama dua jam lebih kita disugui adegan-adegan yang nyata dan juga memukau secara harafiah dan juga istilah (benar-benar memukau hahaha *mengeluarkan senyum jahat*). Kalo bisa dibilang cerita yang sajikan dalam film ini tidak berat dan bisa diterima oleh banyak kalangan, kecuali golongan balita sampai SMP. Soalnya pas gua tonton nih film ada juga anak-anak SMA yang menonton film ini juga. Sehingga gua dapat mengambil kesimpulan, film ini bisa disaksikan banyak orang termasuk remaja, remaja yang cukup pintar dan bisa mencari variasi film lain yang menarik. Sehingga tidak terjebak pada dua genre film saja. Horror dan Cinta.

Segi akting jangan tanya lah. Tidak ada cela bagi gua untuk mengkritik akting para pemain yang ada di film ini. Akting Danzel Washinton, Russel Crowe dan lainnya sangat nyata dan tidak terkesan dibuat-buat. Jadi tidak ada lagi yang harus gua kritik dari segi akting.

Segi pengambilan gambar, nuansa tahun 70an terasa dalam film ini walaupun sekilas gua merasa ini adalah suasana kota tahun sekarang. Namun dari mobil-mobil, cara pakaian dan lainnya gua bisa merasakan feel tahun 70an disini. Transisi adegan satu dengana degan lainnya berlangsung mulus sehingga fokus dari penonton tidak terpecah akibat perubahan adegan yang terlalu frontal. Dari awal sampai akhir film ini terasa membuat penonton tidak ingin beranjak dari kursi untuk alasan apapun. Kecuali untuk kencing.

Overall film ini sangat bagus sekali ditonton. Selain film ini memiliki kualitas yang sangat bagus, durasinya juga membuat kita tidak menyesal membeli tiket untuk film ini. Rasanya uang yang kalian sepadan dengan film yang kalian saksikan. Namun dengan banyak adegan-adegan yang tidak pantas disaksikan anak dibawah umur. Pastinya kalian gak boleh mengajak anak-anak saat menonton film ini. Selain akan menggangu acara menonton kalian, karena mereka tidak mengerti kalian lagi nonton apaan. Bakalan ada juga adegan-adegan yang membuat anak-anak akan bertanya; “ma, itu yang ada didada cewek itu apa sih namanya. Itu buat aku mimi cucu kan ya. Bagus ya ma!”. Belum lagi jika anak anda mendadak melihat ada ‘film’ lain yang sedang berlangsung disamping film yang sebenarnya.

Pemain
Danzel Washington, Russel Crowe, Cuba Gooding JR, Josh Brolin
Sutradara
Ridley Scott
Genre
Crime / Drama
Rating
Dewasa
Budget
US$ 100 Juta
Runtime
145 Menit


Score : 8.5 / 10
(Jangan harap ada adegan dengan spesial efek dalam film ini. Lupakan itu!)

April 18, 2008

Film : Alien VS Predator (Requem)



Mengisahkan tentang kedatangan pesawat Predator yang sudah dihajar alien ke bumi dalam cara yang mengenaskan. Kebetulan pada saat itu ada ayah dan anak sedang melakukan kegiatan yang menyenangkan dan patut diberi teladan… berburu! Dari kejadian itu dapat kita duga-duga bahkan walaupun kita tidak menonton film itu sendiri, bahwa akhirnya alien menyerang kota. Predator yang sebenarnya baik hati, tidak sombong dan gemar menabung tersentuh hatinya melihat penderitaan yang dialami manusia akibat kejamnya rezim alien di bumi. Maka ia dengan keberanian dan kotoran yang padat (?!) turun ke bumi untuk membasmi alien. Manusia… sebagai pihak yang dirugikan pastinya hanya bisa gigit jari dan dan mengemut yang merah-merah akan apa yang menimpa mereka. Walaupun begitu ada beberapa dari mereka yang tidak ingin dijajah oleh alien (dijajah bangsa lain aja ogah, apalagi alien) berjuang untuk survive.

Film ini seperti biasa mengetengahkan pertarungan (tidak legendaris) antara Alien dengan Predator. Ditambah balutan adegan-adegan yang kejam yang dapat membuat penonton meringis. Penonton tidak perlu mengolah otak dan memutar pantat untuk menontonnya. Nikmati saja suguhan adegan-adegan sadis dan kejam yang dipaparkan secara bangga oleh sang film maker. Walaupun mereka tahu bahwa adegan-adegan itu hanya akan membuat berkurangnya calon penonton.

Segi akting, akting Alien sungguh meyakinkan sebagai dirinya sendiri. Ia dapat mendalami karakternya sebagai seorang alien. Kenaturalan aktingnya patut diacungi jempol karena ia dapat menampilkan sosok alien yang gahar dan mengerikan. Bahkan sanggup mengalahkan Adolf Hitler sangkin hebatnya. Begitu pula dengan sang Predator. Duet pasangan hebat ini seakan semakin sempurna dengan kehebatan dan kekuatan predator dalam mendalami karakternya yang rumit dan kompleks. Sepertinya mereka berduat patut mendapat oscar dan melawan kualitas aktingnya Jesse dalam film I Am Legend.

Segi Gambar, jangan harapkan adanya pergerakan kamera yang indah dan bernilai seni tinggi. Film ini hanya menampilkan spesial effect sebagai bakingan dari rendahnya kualitas cerita film ini. Selain itu keuntungan dari film ini adalah kefokusan gambar-gambar dalam film ini. Berbeda dengan film The Bourne Supremacy yang bikin kepala atas dan kepala bawah pusing akibat gerakan kamera yang tidak jelas.

Dan dari keseluruhan gua berpendapat bahwa film ini tidak cocok ditonton oleh anak-anak dan orang-orang yang ‘menyukai’ anak-anak dalam artian Extreme! Karena pastinya tidak ada anak-anak disana untuk dijadikan sasaran mereka. (hehehehe…!) selain itu film ini juga banyak sekali menampilkan adegan-adegan sadis, bahkan sadis pada objek yang tidak semestinya. Jadi disarankan jangan mengajak anak-anak untuk menonton film ini. Disamping banyak adegan yang akan mengganggu mental anak anda. Ini juga untuk menghindarkan anak anda dari para “penyuka” anak-anak.
 
 
Score : 5 / 10
(sebenarnya Indonesia juga punya materi yang dapat dijadikan film serupa dan mungkin bisa jauh lebih heboh… Ahmad Dhani Versus Maia Estianti. AVM. Gimana?)

April 6, 2008

Film : I Am Legend



Mengisahkan tentang seorang ilmuwan yang bernama Robert Nevile yang tinggal sendirian di kota new york yang telah menjadi kota kosong akibat serangan epidemi virus yang ganas. Namun ia tidak seutuhnya sendirian, karena ia ditemani oleh anjingnya yang bernama (kalau tidak salah) Jesse.

Dari awal sampai menjelang akhir film kita disuguhi adegan-adegan yang menampilkan petualangan nevile dengan anjingnya Jesse menyusuri kota new york yang kosong. Lalu ada juga beberapa adegan penting seperti Proses perburuan nevile dan anjingnya dalam menangkap rusa yang hampir mangambil separuh jatah film, adegan dimana nevile pergi ke toko DVD untuk menyewa film (dan kita tahu bahwa kota itu kosong!) dan mengembalikan DVD yang sudah ia tonton, Nevile yang tertangkap jebakannya sendiri dengan mengira bahwa patung bisa jalan sendiri (Penting!). Sampai ke beberapa adegan kurang penting dimana akhirnya Nevile bertemu dengan manusia. Belum lagi ditambah ending yang kurang mengigit dibanding gigitan para Zompire (Zombie Vampire)

Segi Akting : yaaa… apa boleh baut, gua Cuma bisa mengomentari akting dari Will Smith dan anjingnya. Will Smith sepertinya mencoba ingin menyamai aktingnya dengan Tom Hanks dalam film Cast Away. Namun sayangnya ia bermain terlalu gila disini, sehingga gua berasumsi bahwa saat syuting Will Smith sedang terobsesi menjadi orang gila. Namun mungkin bagi beberapa orang aktingnya bagus. Who Knows… semua orang punya pendapat beda pastinya. YANG GUA KAGUM adalah aktingnya Jesse. Dia bermain sangat bagus dan natural sekali sebagai anjing. Sepertinya dia pantas mendapatkan oscar nantinya. Karena kualitas aktingnya yang prima dan solid sebagai anjing. Wuakakaka… pengamat bodoh! Hehehe…

Segi gambar, gua cukup kagum dengan gambar yang dihasilkan dalam film ini. Setting yang dibuat hampir mendekati kenyataan. (MENDEKATI KENYATAAN) karena pada akhirnya gua melihat beberapa kekurangan dalam film ini. Seperti gedung-gedung yang terlihat tidak ditumbuhi oleh tumbuhan (sementara di bawah tumbuhan banyak tumbuh), adanya beberapa mobil yang terlihat bagus (kecuali jika si nevile memiliki kegiatan lain seperti melakukan cuci steam gratis) dan lain-lain.

Dari semua yang gua lihat, film ini sangat baik jika disaksikan bersama keluarga. Karena film ini sangat menghibur dan jauh dari unsur-unsur yang dapat menyebakan anak-anak menangis karena tidak diizinkan masuk bioskop. Walaupun sebenarnya gua merasa ada prospek bagus dari film ini untuk jauh lebih berkembang.


Score : 7 / 10
(Setelah gua menonton film ini, gua langsung tertegun dan berpikir. Penasaran dan sangat ingin tahu. Apakah Si Jesse sang anjing… masih Virgin?! *Memandang dengan prihatin*)

March 20, 2008

Film : The Golden Compass



Diangkat dari Novel trilogy His Dark Materials, film ini bercerita tentang petualangan Lyra Belacqua yang mencari ayahnya, Lord Asriel, yang katanya sedang berpetualang untuk mencari pintu ke dunia lain...Dia kemudian bertemu dengan wanita yang 'baik hati', Miss Coulter dalam perjalanannya, serta bertemu dengan kaum2 gipsi yang akan membantunya dalam perjalanan.

Film ini bisa dibilang memiliki prospek yang bagus untuk menyaingin The Cronicles of Narnia. Tapi sayangnya menurut gua sih kurang. Ada beberapa hal yang membuat film ini dimata gua jadi kurang menggigit. Gak tau kenapa.
 
Tapi dari segi alur, film ini boleh dibilang cukup bagus. Karena alurnya berjalan secara stabil. Ceritanya juga cukup baik yang bahkan sampai mengundang kontroversi segala lagi.
 
Akting Nicole Kidman boleh dibilang bagus. Karena dia berhasil menampilkan sosok ibu kejam dengan versi tinggi. sehingga terlihat sangat luxurius walaupun kejam. Tapi sayangnya, daniel craig tidak bisa berbuat banyak di film ini. Porsinya sedikit sekali. Akting Dakota saya kurang mengerti. pada awalnya dia sering memunculkan mimik cewek jutek namun akhirnya berubah menjadi cewek baik-baik (gua semakin gila) namun akting dia semakin ketengah semakin bagus
 
dari segi pengambilan gambar. beberapa gambar berhasil menunjukan suasana mencekam. Teknologi canggih yang ada berhasil menciptakan animasi-animasi yan hebat! Adegan klimaks bahkan terlihat sangat seru walaupun sebenarnya kurang menggigit. ending dari film ini juga jelas-jelas mengindikasikan adanya sequel. kita berharap aja film kedua bisa lebih bagus daripada yang pertama. semoga film ini tidak senaas ERAGON! 
 
Score : 6 / 10
(Seandainya beruang punya otak sehebat manusia. Pasti mereka akan berdemo)

March 16, 2008

Film : 1 4 0 8

Source : Impawards.com


Sebuah film mengenai seorang penulis novel bernama Mike Enslin yang ingin menjelajahi tempat-tempat berhantu di. namun ia tidak memperayai apa yang ia datangi. sampai suatu saat ia datang ke Dolphin Hotel dimana disana ada Kamar Terlarang bernomor 1408. Tidak mengindahkan larangan pengurus hotel, mike kekeuh mau menginap dihotel tersebut. Apa yang terjadi kemudian akhirnya membuat mike menyadari bahwa selama ini dia salah.

Film ini sanggup menampilkan suasana mencekam. Banyak adegan yang berhasil membuat kita ketakutan atau bahkan meringis ngeri. Sutradara sepertinya sanggup menggambarkan kemencekaman kamar terlarang tersebut.

Akting John Cusack sayangnya masih biasa saja. ia tidak memberikan sesuatu yang lebih pada film ini. I dont know ya tapi gua merasa walaupun dia digantikan orang lain gak masalah. Padahal hampir 90% scene berisikan adegan-adegan dia.Dari segi cerita... karena ini diangkat dari novel kenamaan makannya ceritanya bagus. Karena dalam film ini si mike tidak hanya didera teror dari kamar tersebut. namun dia dihadapkan pada persoalan dirinya dengan keluarganya yang akhirnya menyadarkan dirinya.Namun dari kesmeua itu. Film ini patut diacungi jempol karena berhasil menampilkan kengerian dalam tiap adegannya. Top dah!

 
Score : 7 / 10
(Kuntilanak bakal berpikir 2X untuk menurunkan tarif mainnya di film. Karena ada pemain baru.... KAMAR)

February 8, 2008

Film : Harry Potter and The Order of The Phoenix

Source : Impawards.com


Lanjutan dari film-film harry potter sebelumnya. Masih (Dan akan selalu) menceritakan tentang petualangan Harry dan kedua sahabatnya di sekolah Hogwarts. Kali ini Voldemort sudah bangkit dan sayangnya orang-orang masih belum percaya sehingga mengira harry pembohong. Belum lagi ditambah kedatangan seorang guru baru yang pada akhirnya menjadi kepala sekolah yang bernama Dolores Umbridge. Hal ini menambah pelik permasalahan yang didapat harry. Dalam film ini pada adegan klimaksnya terdapat duel hebat antara Dumbeldore melawan Voldermort. Dimana Efek komputer yang diciptakan oleh CGI berjalan dengan baik dan juga berfungsi dengan baik.

Rasanya aneh menonton film ini karena banyak sekali adegan-adegan yang dibuku tidak ada ada dalam film ini. Ya jelas… secara bukunya saja sudah setebal bantal—1200 halaman. Jadi bagi para penikmat Harry Potter yang sudah membaca bukunya akan merasa banyak sekali adegan dibuku yang tidak ada. Namun menurut pandangan gua… yang juga sudah membaca bukunya. Adegan-adegan yang diambil dalam buku adalah adegan-adegan yang vital dan boleh dibilang menjadi ikon dalam buku tersebut (cek ileh… gaya gue!)
Dari segi akting. Sebagai penonton kita sudah akrab dengan mereka. kita juga secara tidak langsung mengamati perkembangan mereka dari kecil sampai sekarang. Akting para pemain difilm ini dapat dikategorikan prima. Peran Imelda Staunton sebagai Umbridge cukup meyakinkan—walau sebenarnya menurut gua dia kurang sangar dalam memerankan tokoh tersebut. Tapi dia jauh lebih baik daripada jika tokoh tersebut diperankan Katie Holmes (?!).

Dari segi pengambilan gambar. Kali ini gua dapat menyaksikan film Harry Potter yang lebih modern dan lebih dekat kedunia nyata. Mungkin dikarenakan pada awal cerita lebih banyak pada dunia nyata. Namun ini yang menjadi perbedaan dengan film-film sebelumnya. Film ini terasa nyata walaupun sebenarnya ini dunia sihir. Segi visual efek—seperti yang sudah gua bilang. CGI dapat bekerja dengan baik dan menjad pendukung yang baik dalam film ini. Adegan duel antara Dumbledore dengan Voldemort terasa sangat kuat karena bantuan CGI.

Namun dari kesemua itu rasanya film ini seperti memiliki kekurangan. Karena kompresan filmnya yang sangat ekstrim dimana buku 1200 halaman di kompres menjadi film sepanjang 138 menit. Film Harry Potter 1 dan 2 saja sampai 2.5 jam, padahal kedua buku tersebut jika disatukan tidak akan setebal buku ke-5nya.
Film ini juga merupakan kali pertamanya adegan ciuman muncul dari dalam Harry Potter. Banyak sekali adegan dewasa bermunculan disini. Mungkin karena disesuaikan dengan zaman kali yeee…


Pemain : Harry, Ron dan Hermione (udah pada tau kan). Imelda Staunton, Ralph Fiennes, Garry Oldman
Sutradara : David Yates
Runtime : 138 Menit
Budget : 150 Juta Dollar

Score : 8.5 / 10
(Dengan uang segitu, Indonesia sudah bisa memberi makan rakyat maluku dan papua. Pastinya tanpa dikorupsi)

February 5, 2008

Film : The Bourne Ultimatum

Source: impawards.com


Merupakan Film pamungkas dari rangkaian kisah Jason Bourne. Dalam film ini segalanya mulai terbuka lebar. Segala rahasia, ingatan dan lain-lain mulai terkuak. Di seri ini Jason Bourne perlahan-lahan semakin ingat akan dirinya. Disisi lain ada organisasi yang menginginkan kematian Jason tersebut dan juga seorang jurnalis yang telah mengiktui latar belakang Jason Bourne. Sementara itu Pamela Landy yang pada film kedua berusaha menangkap Bourne pada film ketiga ini kembali dipanggil untuk melacak keadaan Bourne. Tanpa dia sadari bahwa bantuannya merupakan salah satu cara untuk membunuh Bourne. Menjelang ending Bourne akhirnya kembali ketempat dimana ia diciptakan dan dimana ia membuat sebuah keputusan penting.
 
 Film ini merupakan film paling seru menurut gua. Karena menonton film ini penonton hanya diberi waktu sedikit untuk menarik nafas dengan tenang. Sisanya penoton di suguhi adegan-adegan fast action yang sanggup menahan nafas penonton.
 
Dari segi akting, Matt Damon sudah dengan baik memerankan tokoh tersebut. Walaupun entah kenapa dari dia bertambah gendut sekarang (cukup mengherankan, orang yang sedang dalam pelarian masih sempat menggedutkan badannya). Selain itu akting Jullia Stiles dan lainnya sebagai pendukung juga prima. Semuanya terasa tampak nyata dalam film ini. Seolah mereka sedang tidak bermain film namun kitanya yang sedang menontoni kehidupan mereka.
 
Segi pengambilan gambar, Paul Greengrass masih dengan gayanya dalam film sebelumnya. Dimana banyak sekali gambar-gambar goyang dan tidak fokus dalam film ini. Namun di film ketiga ini pola dan gayanya dalam pengambilan gambar mulai menunjukan sebuah kefokusan tersendiri. Kita menyaksikan suguhan gambar-gambar yang bergerak cepat namun kita masih bisa menfokuskan pada objek yang sedang disorotnya. Berbeda dengan film kedua dimana gambar-gambarnya kurang fokus dan terkesan seperti diambil oleh seorang nenek-nenek sambil makan sirih. (wekekekek…). Dalam film ketiga rasa keterlibatan penonton dalam film juga terasa. Dimana pada beberapa adegan kamera diletekan dibelakang pemain sehingga seolah-olah kita terlibat dalam film tersebut.
 
Dalam film ini juga kita juga dapat sedikit melakukan perjalanan wisata ke beberapa negara. Karena pastinya film ini akan selalu melakuakn perjalanan wisatanya. Kali ini negara-negara yang dikunjuni bourne adalah Moscow, Paris, Inggris dan USA. Wajar, karena bourne suka sekali menjalankan misinya sambil tamasya (secara tidak langsung) ke berbagai negara, sebagai pelarian. Hehehe….


Pemain : Matt Damon, Julla Stiles, David Strathairn, DLL
Sutradara : Paul Greengrass
Runtime : 111 Menit

Score : 8.5 / 10
(Seandainya Indonesia mampu membuat film seperti ini. Bajaj Bajuri Extreme Version lah minimal!)