Pages

Showing posts with label Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Indonesia. Show all posts

October 8, 2009

Film : Rumah Dara

Ketika gua termotivasi untuk menonton film Antologi Takut adalah karena film terakhirnya yang mampu membangkitkan semangat gua untuk menonton film antologi itu. Secara garis besar film-film pendek yang disajikan mempunyai keunikan masing-masing. Makannya nggak heran kenapa gua bilang Takut memiliki nilai yang lebih baik dari film horor antologi lainnya. Jauh sebelum film Antologi Takut diedarkan, gua sudah mendengar kabar mengenai sebuah film slasher yang berjudul Dara. Disebuah forum ada sebuah thread yang membahas film ini, yang membuat gua tertarik bukan hanya karena film ini slasher, tapi ini film sadis BUATAN ANAK INDONESIA! Sudah lama sekali tidak ada film horor yang membuat kita takut bukan karena kehadiran Pocong dan Kuntilanak, tetapi karena sosok yang nyata... Manusia! Dara membuat kita menjadi tahu makna kengerian sesungguhnya. Siapa sebenarnya yang lebih seram, Hantu apa Manusia? Hantu membuat kita takut, berteriak dan selesai... sementara manusia sanggup membuat kita takut dan berteriak, dan itupun belum tentu selesai. Ketika berikutnya kita mengetahui pisau mulai mengiris tubuh kita. Setelah menonton film Takut, dengan Dara sebagai hidangan pamungkas, gua langsung berpikir cerah. Indonesia mempunyai kemajuan berarti dalam dunia perfilman, yang sayang saat ini terhambat oleh UU tai kucing, karena banyak sekali ide kreatif. Karena pada awalnya gua skeptis sama film ini, palingan intinya sama. Another Saw Movie atau Hostel Movie. Tapi gua gak tau kalo ceritanya ternyata berbeda dan memiliki kualitas yang baik. Siapa yang bisa menduga bahwa sebuah restoran secara tidak langsung membuat orang menjadi kanibal. (Apakah hal semacam itu benaran ada di indonesia? Hihihi... Waspada restoran lezat dengan owner perempuan cantik, wuakakak...) Dan sekarang, film Dara telah diperpanjang durasinya menjadi sebuah film panjang untuk konsumsi layar lebar. Judulnya mengalami perubahan dari Macabre menjadi Rumah Dara. Perkembangan proses pembuatan film sudah gua saksikan di beberapa forum dan seperti film ini menjanjikan kengerian yang berkali-kali lipat dari film pendeknya. Cerita dari film Rumah Dara kini berbeda dari film terdahulunya, Jika di film Dara bercerita tentang masa-masa terakhir kehidupan para gebetan Dara sebelum mereka dibantai secara kejam, disini bercerita tentang 6 orang teman lama yang melakukan perjalanan dan entah kenapa mereka tiba di Rumah Dara... dan seperti yang bisa kita duga sebagai penonton, Tiba disana berarti tiba di Ladang Kematian. Kita tinggal menunggu waktu saja sampai saat dimana teriakan dan neraka bumi mulai menyeruak keluar. Seharusnya film ini rilis oktober 2009 namun karena suatu hal film ini jadinya mundur rilis pada bulan Januari 2010. Namun bagi yang kebelet pengen nonton film ini, Rumah Dara menjadi Official Opening Movie di INAFFF 20009. Pastinya dengan tempat terbatas. Dan sebagai informasi aja, film Rumah Dara, atau dalam judul internasionalnya menjadi MACABRE telah ditayangkan diluar negeri dan mendapat berbagai penghargaan. Shafeera Danish sebagai si Mama Dara, mendapat penghargaan kategori Best Actrees di Puchon International Fantastic Film Festival 2009. Belum lagi berbagai penghargaan dan hak istimewa lain yang didepan film ini :
    Thailand’s Five Star Entertainment has picked up Asian rights to horror film Macabre, marking the first time the Bangkok-based studio has handled a non-Thai film.


  • Overlook Entertainment has picked up Europe and US rights for horror film Macabre, the first feature from new Asian genre label Gorylah.
  • Thailand's Five Star Production has stepped up its game as a distributor, picking up the rights to Macabre
  • Macabre has been officially selected as the Opening Film at the 2009 Indonesian Film Festival. VJ Daniel will be hosting the show.
  • Shareefa Danish won the Best Actress at Puchon International Fantastic Film Festival 2009
  • Macabre premieres at north America @ Fantastic Fest 2009
  • Official Midnight Madness Viewing for Fantasy Film Festival Germany 2009
  • Macabre / Rumah Dara masuk Singapore Cinemas under title of "Darah"

  • List didapat dari : Kaskus
    Sooooo... bagi kalian ya sudah merasa jengah dengan film-film hantu indonesia yang bukan memberikan kengerian dan ketakutan tapi malah nafsu birahi, Rumah Dara adalah pilihan yang tepat untuk kembali merasakan ketakutan, namun dengan tingkat kualitas yang lebih baik. Karena kenapa? Karena Horor Menemukan Sosok Seorang Ibu... Keterangan Film Title : Rumah Dara International : Macabre Singapure : Darah Screenplay By : MO Brothers Directed By : MO Brothers Produced By : Delon Tio (Nation Pictures and Merah Production) Genre : Action Survival Thriller Studio : The Mo's and Nation Pictures Cast :
    • Julie Estelle
    • Shareefa Daanish
    • Michael Lucock
    • Ario Bayu
    • Sigi Wimala
    • Imelda Therine
    • Arifin Putra
    • Daniel Mananta
    • Dendi Subangil
    • Ruli Lubis
    • Aming.
    Official Opening Movie : INAFFF09 Release Date : Januari 2010 Visit...! Rumah Dara On Facebook Rumah Dara On Kaskus Rumah Dara's Blog Rumah Dara On INAFFF 2009
     
    Mother of All Fear

    September 10, 2008

    Film : M A Y

    Udah lama gua gak nonton film Indonesia yang lumayan bagus. Namun pada akhirnya semua terbayarkan setelah gua menonton film May. Film yang berbeda dengan film-film Indonesia yang lain. Mari kita lupakan Si pocong, kuntilanak, sundel bolong dan rekan setan lainnya. Ini adalah film murni mengenai drama. Bahkan boleh dibilang drama yang dalam. Karena ceritnya mengandung unsur peristiwa sosial yang cukup menyakitkan pada masa lampau.

    Berkisah mengenai perempuan bernama May (Jenny Chang). Wanita keturuan Tiong Hua yang menjalani hidupnya sebagai seorang penyanyi bar dikafe. Kemudian setelah ia bernyanyi datang seorang pria bule yang ingin bertemu dan berbicara dengan May. Namun upaya pria bule tersebut tidak berhasil. May keburu kabur meninggalkannya. Cerita kemudian beralih ke seting dan waktu yang lain. Kali ini Lukman Sardi yang saat itu sedang berlibur ke Malaysia bersama istrinya (Ria Irawan) dan anaknya. Suatu ketika saat ia sedang makan siang disebuah restoran Malaysia ia bertemu dengan seorang ibu yang sudah lama ia kenal. Ibu tersebut bekerja sebagai salah satu karyawan direstoran tersebut. Naasnya ibu tersebut terlihat linglung saat disapa.

    Kemudian cerita semakin berkembang dengan pergi ke masa 10 tahun sebelumnya. Tepatnya saat peristiwa Mei 1998 yang mengerikan waktu itu. Saat itu ternyata May sedang berpacaran dengan seorang Pria warga Pribumi yang bernama Antares (Yama Carlos). Namun karena dampak luar biasa yang disebabkan oleh Tragedi Mei 98 itu membuat semuanya berantakan. Hubungan May dan Antares terpaksa berakhir tanpa terucapkan.

    Sedikit demi sedikit misteri terkuak. Mey diperkosa dan mengandung anak. Kemudian Ibunya May yang sebelumnya melarang May pergi untuk Casting terpaksa mengungsi dengan merelakan harta bendanya digadikan demi tiket pesawat. Nasibnya berakhir di restoran Malaysia tersebut. Sementara lukman sardi adalah pria yang menikmati hasil penggadaian harta ibu tersebut. Ia sadar dan menyesal. Akhirnya ia berusaha untuk mengembalikan ibu tersebut ke Jakarta, kerumahnya semula. Namun apakah May dan Ibunya bisa kembali bertemu? Bagaimana dengan Nasib anaknya? Semuanya akan terjawab pada akhir dari film ini.

    Segi Cerita film ini cukup kuat. Karena bisa dibilang ini adalah Multiple Plot yang bertemu pada satu jalur utama nantinya. Cerita mengenai sebuah drama berbalur tragedi sosial ini cukup jarang diangkat kedalam perfilman nasional. Namun dibalik itu, karena kerumitan dan plot yang tidak lurus, melainkan maju mundur membuat sebagian penonton yang kurang konsentrasi akan mengerutkan dahi karena jalinan cerita yang terkesan berantakan walaupun pada dasarnya utuh. Hebatnya seluruh pemain dalam film ini mendapatkan porsi yang cukup untuk memberikan pendalaman karakter.

    Segi akting, semuanya baik-baik saja. Karena film ini bertabung bintang-bintang dengan akting diatas rata-rata. Untuk May sebagai Tokoh Sentral dalam film ini mengeluarkan akting yang aman-aman saja. Walaupun sebenarnya ia bisa bereksplorasi lebih. Beda halnya dengan Yama Carlos Sebagai Antares walaupun ia termasuk tokoh utama, ia tidak bisa memberikan akting yang meyakinkan, malah—bagi gua—aktinya terkesan dibuat-buat dan tidak alami. Wuuuuh... sayang sekali. Mungkin akting alaminya hanyalah pada adegan bibir ketemu bibir saja. Mungkin. Ibunya May juga bermain dengan baik. Ia bisa memberikan akting sebagia ibu putus asa yang ling lung. Wajar lah karena umurnya sudah mencukupi untuk memiliki pengalaman melimpah dibidang akting. Ria Irawan apalagi ia dan Lukman Sardi berhasil memberikan kualitas akting diatas rata-rata.

    Segi kualitas gambar, biasa saja. Karena film ini lebih fokus kepada unsur dramanya yang kuat. Dan bagi gua itu tidak menjadi masalah. Walaupun sebenarnya jika ditambah dengan sinematografi yang bagus dapat memberikan pengalaman menonton yang nikmat bagi penonton.

    Overall. Film ini wajib untuk disaksikan bagi mereka yang sudah kenyang dan muak dengan bertaburnya bintang-bintang hantu papan atas. Selain itu bagi yang juga muak dengan film-film komedi seks yang hanya memberikan unsur porno tanpa maksud dan tujuan yang jelas. Film ini memberikan warna hijau ditengah warna merah. Seperti sesuatu yang indah diantara sampah. Herannya film-film ini cepat sekali turun. Gua rencananya pengen menonton lagi film ini. Sayangnya filmnya sudah keburu turun. Katanya yang nonton sedikit. Wajar karena karena sebagai besar penonton Indonesia telah teracuni oleh film-film kelas mecret.

    Pemain
    Jenny Chang, Yama Carlos, Lukman Sardi, Ria Irawan, Tio Pakusadewo, Tutie Kirana, Niniek L. Karim, Jajang C Nore, Andre Peter, Zahida Rafiq.
    Sutradara
    Viva Westi
    Genre
    Drama
    Runtime
    100 Menit
    Bujet
    Meneketehe
    Rating
    Dewasa

    Score : 8.5 / 10
    Penilaian : +3 (Mengingat Tragedi Mei 1998. Apakah ada Sutradara yang mau membuat filmnya. Mungkin masih lama kali yeeeeeee....)

    June 12, 2008

    Film : Extra Large : Antara Aku, Kau dan Mak Erot


     
     
     
     
     
     
     
     
     
     
     
     
    Seperti biasa film ini adalah salah satu film yang sedang kejatuhan durian. Ya karena kenapa? Karena film ini… gua tonton. Dan entah mengapa saat gua keluar dari film ini gak banyak hal penting yang bisa nyangkut di otak gua selain cara membohongi istri orang tentang perek yang gua pacarin karena istri orang tersebut benci mampus dengan perek.

    Film ini mengisahkan tentang Deni, diperankan oleh Jamie Aditya, yang merupakan seorang pemuda yang lugu, sangkin lugunya ia tidak mempedulikan sesuatu yang ia miliki, yang lebih lugu darinya. Sebagai anak tunggal Deni yang sial itu menurut aja disuruh menikah dengan seorang wanita penggila seks yang yang bernama Vicky. Emang sih dia cantik kaya Dewi Sandra, tapi kan nafsu seksnya mampu membuat Glenn Fredly minta cerai. Namun dilihat dari sisi positifnya bahwa dia adalah gadis cantik, kaya dan juga seorang dokter. Walaupun feel dokternya gak keliatan.

    Nah Deni yang nota bene adalah seorang pria yang sedikit memiliki gen ikan cere jantan dan tidak sedikitpun memiliki gen kuda, kontak syok dan tertekan. Dikarenakan si Vicky ini senang sekali melakukan hubungan seks; kapan pun, dimanapun dan gaya apapun. Untungnya Deni mempunyai dua teman yang biasa diandalkan; yaitu Stefa (Erron Lebang) dan Juno (Alex Abbad). Kedua sahabatnya ia merasa prihatin melihat kondisi dari “Deni Junior” sehingga berniat membantunya. Salah satu bantuannya adalah pergi ke mak erot. Melalui mak erot deni mulai menapaki jalan terang dan gemilang menuju… pembesaran penis.
    Tidak itu saja Juno juga menyewa seorang perek untuk menemani Deni selama sebulan dalam rangka latihan seks. Maka dipanggilah Intan (Francine Roosenda) seorang perek yang bersedia untuk menemai Deni melakukan Latihan Keperkasaan sebelum turun kelapangan dan melakukan gulat campurannya. Namun lama kemudian, yang terjadi adalah… Deni dan Intan malah saling mencintai.

    Jalinan cerita dari film ini boleh dibilang mengalir dan enak untuk dinikmati. Kita bisa mengikuti film ini dari awal sampai akhir tanpa perlu kehilangan konsentrasi akibat kekuatan cerita yang mengendur. Namun yang menjadi pemikiran gua adalah film ini nyaris tidak memberikan apa-apa buat gua, dari Pesan Utama yang ingin disampaikan ke gua. Ending film ini tidak memberikan apa-apa buat gua (gua gak tau ya kalo kalian), tapi yang jelas selain alur yang mengalir, tidak ada lagi yang bisa gua dapatkan dari segi cerita. (Kalo ada dari kalian yang bisa memberikan pesan apa yang disampaikan film ini. Tolong beritahu gua). paling yang bisa gua dapet adalah bagaimana cara menutupi kejelekan seseorang dengan cara yang manis. Tau kan saat dimana Istrinya Stefan bertanya gimana si Deni dan si Intan bisa pacaran, dan Deni memulai kebohongan mengenai Ospek.

    Segi Akting, gua gak tau ya, atau gak peduli dengan aktingnya si Jamie Aditya difilm ini. Gak tau kenapa ya, dia yang jadi peran utama difilm ini tapi malah dia yang sama sekali tidak memberikan feel terhadap film ini. Mungkin film ini akan lebih bagus jika bukan dia yang memainkan. Gak tau kenapa, tapi di film ini dia sama sekali tidak menonjol. Padahal dialah pemeran utama di film ini. Aktingnya kalo dibilang sangat-sangat biasa. Berbeda dengan Francine Roosenda yang sebagai Intan. Dia berhasil bermain dengan baik dalam film ini. Aktingnya tidak berlebihan namun mengena dengan karakternya. Aktingnya sebagai seorang perek berhasil memberikan kesan bahwa dia adalah perek yang memiliki taste dan tidak terkesan sangat murahan. Selain itu, aktingnya Sarah Sechan sebagai mak erot boleh dibilang cukup okelah. Walaupun hanya sebagai figuran dia bisa bermain dengan baik sebagai seorang mak erot yang senang bercanda. Mungkin ini adalah totalitasnya dalam Debutnya sebagai Aktris Pendukung! Hehehehe…

    Elmayana Sabrenia, ini yang buat gua bingung. Dia selalu mendapatkan peran pendukung melulu. Padahal kalo boleh dibilang aktingnya bagus loh. Dia selalu bermain dalam film-film yang ada dirinya. Seluruh aktingnya menurut gua bagus-bagus dan konsisten. Sayangnya para sutradara buta mengenai artis yang satu. Sayang sekali.

    Segi gambar, gambarnya boleh dibilang okelah. Walaupun gua masih merasa ada taste sinetron atau ketivi-tivian gitu pada gambarnya. Namun itu bisa diterima, daripada gambarnya sangat sinetron atau sangat ke tivi-tivian. Film ini minim sekali sinematografi indah yang dapat memanjakan mata. Mungkin karena fokus film ini adalah cerita, walaupun ceritanya sendiri hampir tidak memberikan sesuatu yang berarti.

    Overal, film ini menurut gua boleh dibilang sebuah film Pretty Woman dalam Versi aneh. Dimana film ini mengisahkan seorang bujangan yang menyewa perek. Namun diberikan modifikasi sedikit bahwa bujangan itu adalah orang yang memiliki penis kecil dan bukan dari kalangan orang kaya. Namun itu masih jauh lebih baik daripada murni menyontek karya orang lain dan memproduksinya sebagai suatu karya yang berjenis sama (Lihat sinetron contekan serial asia). Jangan anda berharap anda akan mendapatkan sesuatu yang pantas untuk diingat dari film ini. Film ini malah kalo bisa dimasukan dalam kategori film Fun but easy to forgot. Oooh ya… mungkin film ini ingin memberikan kompilasi pesan. Seperti; jangan selingkuh!, berkorban, enaknya threesome, marah pada suami, silahkan lemparin piring (dan daun pisang sebagai pengganti piring nantinya), waspada dengan mak erot yang suka bercanda, itu artinya dia palsu! Dan hati-hati kalo ketemu bencong, siapa tau itu teman main basket anda waktu SMA.
    Ya! Mungkin itu pesan yang mau disampaikan!


    Pemain
    Jamie Aditya, Francine Roosenda, Alex Abbad, Dewi Sandra, Erron LeBanG, Elmayana Sabrenia.
    Sutradara
    Monty Tiwa
    Genre
    Romantic Comedy
    Runtime
    85 Menit
    Bujet
    Murah lah pastinya.
    Rating
    Dewasa

     
    Score : 5 / 10
    (To Orang Tua : Please ya! Tolong! Bawalah anak anda untuk menonton film yang pantas ditonton anak anda. Jangan bawa pas nonton film ini! Udah anak anda gak ngeri, mengganggu orang yang nonton lagi. Belum lagi mereka yang sedang bikin film sendiri di bioskop.)

    May 15, 2008

    Film : Kawin Kontrak


    Satu lagi film Indonesia beruntung yang berhasil menarik perhatian gua untuk gua tonton. Film ini berjudul Kawin Kontrak. Sebuah film komedi dewasa yang mengetengahkan isu yang sebenarnya menurut gua udah cukup expiered ya. 

    Bercerita tentang petualangan 3 pemuda lulusan SMU yang ingin melampiaskan darah mudanya dengan cara kawin kontrak. Cukup aneh dan cukup ektreme dimana pada masa ini masih ada aja anak muda yang inget kawin kontrak. Biasanya mereka ngentot dan beberapa bulan kemudian adegan penuh tangis dan penyesalan muncul.

    Mereka akhirnya pergi kepolosok pedesaan disukabumi untuk melakukan apa yang disebut sebagai judul film ini, kawin kontrak. Jody yang terobsesi dengan cewek yang lebih tua akhirnya menikah dengan seorang janda montok beranak 1. Kemudian Dika yang suka sekali melakukan hubungan seks bercampur kekerasan menikah dengan cewek penggebuk kasur. Ini merupakan salah satu cara pengambilan kesimpulan yang salah. Melihat cewek yang suka mukul kasur disangka merupakan seorang cewek Sadomasochist, yang senang melakukan hubungan seks dengan kekerasan. Kalo pun benar begitu, semua ibu-ibu PKK yang kalo siang sering jemur kasur dapat dikategorikan sebagai Sadomasochist. Come on! Ini pemikiran yang salah! Bisa saja cewek Sadomasochist berwujud sebagai cewek cantik dan putih yang berbicara dengan campuran bahasa indonesia, barat dan komodo—Cinta Laura mungkin. Sementara si rama sang playboy cap ikan lele jatuh cinta sama seorang gadis polos bernama isa. Bersama-sama mereka melakukan petualangan cinta yang dipenuhi dengan adegan libido berbalur seks yang tanggung-tanggung.

    Cerita dari film ini boleh dibilang standard dengan teman yang tidak biasa. Alurnya pada awalnya berniat mengisahkan petualangan bad boy sex lover namun berubah menjadi sebuah ajang penyelamatan seorang gadis dari sebuah konspirasi yang dilandasi rasa cinta. Beberapa adegan kelogisan dalam film juga cukup kurang bernalar. Cerita dalam film ini adalah mengenai sebuah kampung yang menyetujui adanya acara kawin kontrak yang nota bene adalah sebuah cara sah lain dalam melakukan sebuah tindakan maksiat. Namun dalam film ini gua sering kali melihat beberapa wanita berjilbab yang berlalu lalang disini. Mungkin ini merupakan wujud sindiran mungkin. Tau kan sekarang banyak foto-foto bokep wanita berjilbab. Kemudian suasana asri, damai dan lain sebagainya yang mengindikasikan bahwa desa ini adalah desa yang baik-baik tidak mencermikan goal dari film ini.

    Namun pada akhirnya alur cerita seperti ini masih lebih baik daripada film-film cerita cinta atau horror yang sudah sangat biasa alurnya. Sangkin biasanya film itu malah jadi murahan dan lucu dari maksudnya pengen jadi film seram (ingat : Genderuwo). Film kawin kontrak seperti merupakan awal dari kiblat film 2008. Karena menurut prediksi orang-orang tahun 2008 akan lebih banyak dihiasi dengan film-film komedi atau komedi romantis.

    Akting dari para pemain boleh dibilang standar dan aman-aman saja. Sayangnya tidak ada satupun dari mereka yang berhasil mencuri perhatian gua dalam film ini. Semua pemainnya cenderung memperlihatkan kualitas akting yang rata-rata. Entah itu Ricky Harun, Masayu Anastasia, dan lain-lain. Lukman sardi yang gua harapkan menjadi si pencuri perhatian malah memberikan kualitas akting biasa malah kalo gua liat agak terkesan dipaksakan dan berlebihan. Sementara Ricky Harun yang sepertinya ingin melakukan totalitas, atau bahkan sebagai wujud obsesi terpendamnya menjadi Porn Actor, tidak memberikan sesuatu yang lebih. Walaupun ia dengan rela melepaskan celananya dan menutup penisnya dengan handuk mini, itu tidak memberikan kelebihan dalam film ini. Ya paling enggak dengan adanya adegan orang bisa bilang, “Ih ricky harun gokil ya! Pasti kontolnya kecil” wuakakakak!

    Segi pengambilan gambar. Odi C. Harahap memang teguh dengan konsep gambarnya yang sama dengan dua film sebelumnya. Alexandria dan Selamanya. Dia menggunakan kamera yang sama dengan kedua film tersebut. Itulah yang menjadi nilai lebih dari film ini. Gambar yang dihasilkan menjadi terlihat lebih indah dan segar. Cocok sekali dengan setting dan suasana yang ditampilkan dalam film ini. Gambar hamparan sawah dan indahnya hutan menjadi lebih segar dan hidup pada film ini. Sinematografi dari film ini juga cukup indah dan enak dipandang mata. Angle-angle gambar indah berhasil didapatkan pada film ini sehingga filmnya tidak tampak membosankan malah terlihat menyegarkan.

    Overall, film ini masih lebih baik dari film-film kacangan lainnya. Seperti sundel bolong, lawang sewu dan lain-lain. Tema yang cukup berbelok dan alur cerita yang aman membuat film ini cukup tidak merugikan untuk ditonton. Banyaknya adegan-adegan dewasa dari film ini walaupun dibalut dengan unsur lucu tetap saja tidak menjadikan bahwa membawa anak-anak untuk menonton film ini legal. Karena pastinya jika kalian nonton di Cinema XXI ada tulisan (Komedi Dewasa) disamping judul film ini.

    Pemain
    Ricky Harun, Heri Chan, Masayu Anastasia, Unang, Mike Amalia, Lukma Sardi dan Warga Kampung
    Sutradara
    Ody C. Harahap
    Genre
    Komedi/Bokep
    Runtime
    90 menit.
    Rating
    Dewasa


    Score : 4.5 / 10
    (Sekarang kita tinggal menunggu ricky harun bermain dalam film-film handycam dengan kru 1-2 orang. Seperti Jakarta Banjir Asmara atau lainnya. Atau menunggu dia melakukan adegan ML berkelas dan fenomenal Ngentot sama kambing mungkin)

    May 1, 2008

    Film : Radit dan Jadi


     
     
     
     
     
     
     
     
     
    Waaaah nih film nabok abis ternyata. Biru-biru muka gua jadinya. Wekekekekek. Enggak sih, enggak secara harafiah. Namun nih film memiliki kekuatan yang hebat banget sehingga orang-orang bakalan tersentuh sama jari orang disebelahnya (?!) kok gua jadi gak nyambung gini sih. 
     
    Film ini menceritakan tentang sepasang muda-muda, yang sudah menikah dan kawin, yang menjalani hidupnya berdua dan mengira dunia ini hanya milik mereka berdua (memang pasangan yang nyolot). Mereka menyukai pekerjaan yang penuh tantangan. Sebuah pekerjaan yang tidak semua orang mampu melakukannya. Karena pekerjaan ini membutuhkan talenta dan kecakapan dalam pengerjaanya. Pekerjaan menantang yang mereka kerjakan adalah. Jreng-jreng-jreng (diiringi orkes yang membangun semangat) MALIIIIING!!!!! Ya! Benar sekali saudara-saudara mereka suka mencuri barang-barang orang pada tempat dan waktu yang mereka mau. Bisa di rumah makan, bisa direstoran dan bisa ditempat dimana orang-orang pada makan. Mereka juga suka mencuri di supermarket dengan Jani sebagai pengalih perhatian. Radit adalah seorang pecandu narkoba yang miskin. Udah miskin, nyandu lagi. Mati aja lo sana! Mereka terus bersenang-senang sampai suatu saat sebuah hal yang membuat mereka terpaksa harus merubah cara hidup mereka. Jani HAMIL. Sehingga mereka harus bekerja keras agar bisa mendapatkan uang. Karena sebentar lagi mereka tidak Cuma bekerja untuk kelangsungan hidup 2 orang tetapi 3 orang. Berbagai cara dilakukan radit sebagai seorang suami agar dapat menafkahi istrinya dan calon buah hatinya. Dia bekerja serampangan asal bisa mendapatkan uang. Selain itu ia juga harus melawan keinginnanya untuk mengkonsumi narkoba.

    Film ini menyuguhkan klimaks yang cukup mengejutkan dan membuat gua tersentuh, terenyuh, dan renyah ((?!) emang makan?). ditambah ending yang pastinya membuat cewek-cewek, atau cowok yang sensitif menangis. Orang waktu gua nonton embak-embak perobek tiketnya yang terkadang suka makan gaji buta, nangis pas filmnya selesai.

    Cerita dari film ini boleh dibilang sangat bagus dan mungkin terjadi diluar sana (aduh, gua lupa nih film based from true story apa enggak ya). Jalan ceritanya mengalir cukup baik walaupun terkadang alirannya melompat-lompat tanpa adanya transisi yang mulus. Walaupun begitu kita lantas tidak dibuat bosan, karena aliran jalan ceritanya mampu membuat penonton ikut merasakan feel yang diberikan oleh film tersebut.

    Segi akting, gua mengaggumi aktingnya fahrani yang walaupun baru-baru ini main film namun sudah memberikan kualitas akting yang baik. Hampir tidak ada adegan dimana ia memberikan kemampuan aktingnya yang tidak prima atau mungkin kedodoran. Semua adegan yang dia mainkan berjalan mulus. Dia dapat masuk kedalam karakternya dan membuat hidup karakter itu terasa nyata. I don’t know mungkin dari cara bicaranya atau hal lainnya yang membuat dia sebegitu meyakinkannya.

    Vino G. Bastian, pada awal film ini main yang gua tangkep dari dia adalah akting sama dan tanpa perubahan pada film Realita Cinta dan Rock n’ Roll hampir nyaris tidak ada perubahan. Gaya dan cara bicaranya SAMA. Namun menjelang film masuk kebagian tengah aktingnya mulai menunjukan peningkatan. Dan menuju ke akhir film aktingnya secara cukup signifikan semakin baik. Yaaa walaupun ada beberapa adegan dimana aktingnya terasa kedodoran dan kurang meyakinkan atau bahkan aneh.

    Segi pengambilan gambar. Dalam film ini banyak sekali gambar-gambar yang diambil dengan cara di zoom. Dan hampir keseluruhan film ini menggunakan handle camera (atau kamera tangan). Sehingga gambar sering bergoyang-goyang. Namun menurut gua itulah salah satu aspek wajib dalam membuat film seperti ini. Tema dan cara mengambilan gambarnya terasa menyatu dan cocok. Namun kelemahannya adalah pergantian adegan dengan konsentrasi yang terlampau frontal. Sehingga perubahan fokus adegan jadi terlalu cepat. Orang yang baru saja menfokuskan diri pada konsentrasi adegan A secara tiba-tiba harus dengan cepat beradaptasi dengan Konsetrasi adegan B. Tanpa ada transisi atau adegan penghubung yang membuat perubahan cerita menjadi begitu frontal.

    Overall film ini emang wajib banget ditonton. Apa lagi sama anak-anak muda. Film ini mengetengahkan kekuatan cinta yang dapat mengalahkan segalanya, namun sayang tema Love Will Find a Way tidak berlangsung mulus disini. Namun keluar dari hal itu kalian gak bakalan menyesal mengeluarkan sejumlah uang untuk menonton film ini. Gua jamin itu.

    Pemain
    Vino G. Bastian, Fahrani
    Sutradara
    UPI Widianto
    Genre
    Drama
    Rating
    Dewasa
    Durasi
    Meneketehe
    Budget
    Pastinya lebih jauh lebih rendah dari film-film luar.


    Score : 7 / 10
    (Mungkin maksudnya film ini pengen dibikin kaya Romeo + Juliet kali ya. Dengan ending dan klimaks yang berbeda. Yaaa itu bisa diterima)

    April 23, 2008

    Film : Otomatis Romantis


    Berkisah tentang seorang pria asal Yogyakarta yang bekerja dibagian administrasi dan sepertinya memiliki Faktor X yang bisa membuatnya terkenal. Dia juga sebenarnya ingin sekali menulis sebuah artikel di sebuah majalah wanita (?!). ditambah adanya bos cewek jomblo yang galak dan hobinya mens, sehingga marah-marah mulu si bos. Dan pada akhirnya mereka berdua… jatuh cinta.

    Film ini menambah deretan panjang film-film komedi yang entah kenapa tidak memberikan satupun sesuatu yang membuat gua menambahkan drajat perfilm Indonesia. Memang sih Indonesia sedang bangkit dari keterpurukan karena sepinya film. Dan sekarang Indonesia kembali bangkit dengan serbuan film-film terbarunya. Tapi sayangnya kebanyakan dari film-film ini tidak membuat gua bangga menjadikan film Indonesia bagus. Mungkin salah satu dari kelamahan film ini adalah klimaksnya yang tidak diketahui dimana tempatnya. Sebagai sebuah film, seharusnya menganut apa yang disebuat tingkatan alur. Dimana pada sebuah film pastinya ada yang disebut klimaks. Namun sayangnya gua tidak menemukan klimas pada film ini. Atau memang film ini sengaja dibuat tanpa klimaks dan dengan ending yang agak menggantung.

    Segi Akting, Marsha Timothy bermain standar dalam film ini sehingga dia tidak perlu ditimpuki oleh pot, maupun dibelikan BH terbaru. Ada beberapa adegan dimana ia berakting baik, namun ada juga beberapa adegan yang dia tidak mengeluarkan performa yang terbaik. Tora sudiro sama saja, aktingnya boleh dibilang aman. Hebatnya dia berhasil lepas dari imagenya dalam film Quickie Express dan menampilkan karakter sebagai orang jawa dan lugu. Tukul, bermain cukup baik disini. Walaupun ada beberapa adegan dimana kualitas aktingnya masih dibawah rata-rata. Tapi itu wajar lah bagi seorang pemula. Penampilan dia berhasil membuat semua penonton tertawa. Apa lagi dengan nama perannya yang notabene sangat bertolak belakang dengan muka. Beda muka dengan nama jauh bangetz! (pake Z).

    Segi gambar, nothing good. Tidak ada sesuatu yang patut dibanggakan dalam pengambilan gambar. Mungkin si film maker hanya berfokus pada alur ceritanya aja kali sehingga seni pada gambarnya jadi tidak terfokus.
    Overal film ini cocok buat ditonton iseng-iseng (jika film bagus sedang tidak ada). Dari pada bete atau terjebak menonton film-film yang kualitasnya lebih buruk. Mendingan nonton film ini, disamping menghibur ada tukulnya lagi. Hehehe…

     
    Score : 6 / 10
    (next.. for the sequel… Otomatis Kawin, Otomatis Beranak, Otomatis Cerai, Otomatis Mampus aja lo sana)

    March 6, 2008

    Film : The Butterfly

    Sekarang ini gua menfilosofikan film Indonesia sebagai manusia yang mengikuti undian dan gua, Ellious Grinsant si tampan dari utara, sebagai hadiahnya. Jadi bagi film-film yang beruntung dia akan mendapatkan hadiah utama, yaitu filmnya ditonton oleh gua. Karena kenapa, gua udah mulai merasa merendahkan film-film Indonesia karena kualitasnya yang semakin buruk. Saha satunya ini.

    Film Butterfly seharusnya menjadi film yang bagus untuk ditonton. Secara iklannya aja selalu muncul sebelum film utama mulai dan juga ptongan film ini masuk dalam iklan XXI/21 yaitu iklan cara berSMS boros ke nomor 2121 dengan tarif 2000 rupiah perbales SMS.

    Film ini mengisahkan bersahabatan 3 orang manusia. 2 cewek dan satu cowok, serta satu lagi kolor ijo (konon orang gak boleh ganjil. Biasanya ada yang nemenin. Sayangnya difilm ini additional palyer tidak terlihat) yang merencanakan liburan KELILING jawa. Padahal dari awal sampai akhir film mereka hanya berada disatu tempat aja. Disela-sela liburan tersebut juga terselip potongan-potongan masa lalu mengenai ketiga sahabat tersebut yang sebenarnya mengurangi kenikmatan menonton film ini. Film ini dikatakan sebagai Masterpiece Nayato Fio Nuala a.k.a KOYA PAGAYO (bener gak sih dia sama orangnya?) namun sayangnya itu tidak berhasil. Film ini tidak sanggup menandingi hebatnya film Eiffel I’m In Love atau Ada Apa dengan Cinta.

    Segi akting… haaaah standar banget dan khas anak muda banget. Gua gak tau jalan pikiran Popy Sovia namun dalam film ini kualitas aktinya menurun. Kedua mahluk temannya juga sama aja. Berakting standar (dimana masterpiecenya?). gua gak tau dimana kelebihan dari film ini (Oh ya ada! Tar gua kasih tau) semua adegan terasa hambar tanpa memberika kesan tersendiri terhadap penonton. Gambar-gambar yang disajikan memang indah namun itu biasa. Bahkan terkadang kurang penting. Satu lagi keburukan yang paling buruk dari film ini. Mungkin ini adalah ikon dari masterpiece film ini. Ada adegan dimana kedua cewek tersebut berciuman (cukup aneh ya), namun ciuman itu ditambah INGUS! I-N-G-U-S. Ih Joroooks banget. Entah apa yang ada dipikiran si Nayato sehingga memasukan unsur kimia ingus kedalam adegan tersebut. Pas gua tonton aja, banyak penonton sekeliling gua pada berkata Wuueeekksss… saat melihat adegan tersebut. Mungkin ini merupakan kali pertamanya adegan ciuman lesbi disertai ingus. Sayang adegan ini kurang fenomenal.


    Pemain : Andhika Pratama, Debby Kristy, Popy Sovia, (Kolor Ijo! Karena konon tidak boleh ganjil dalam foto maupun film. Hehehe… urban legend)
    Sutradara : Nayato Fio Nuala
    Runtime : Tanya Kupu-kupunya aja dah.
    Rating : DEWASA : Karena ada adegan ciuman lesbi ditambah INGUS! MENGERIKAN!

     
    Score : 3.5 / 10
    (sejijik-jijiknya cobaan dalam acara Fear Factor, pasti masih kalah dengan melakukan adegan ciuman sesama jenis ditambah INGUS! Wueeeks!)